SANG PENYAMBUT HUJAN

Tampaknya mentari benar-benar mencurahkan tenanganya. Sejenak mencerahkan, lalu menghangatkan tetapi sekarang terlalu hangat hingga kuayun kencang tugas klipingku sebagai kipas. Teriknya… aku tidak mengerti. Ini bulan Desember di tahun 2017 ini. Seharusnya musim hujan. Mentari bisa saja bersinar, tetapi tidak seterik ini. Aku masih terdiam di depan pagar sekolah menunggu angkot.

Akhirnya, jurusan angkot yang kunanti berhenti. Aku segera naik dan mulai berdesakan dengan penumpang lain. Ini adalah ketiga kalinya aku naik kendaraan umum sejak supir pribadi keluarga kami meminta cuti karena istrinya melahirkan. Huuh.. sumpek banget! Lagi-lagi aku harus pasrah berdesak-desakan dengan penumpang lain.

Setibaku di rumah yang selalu sepi di siang hari -karena keluarga sibuk kerja- aku beristirahat sambil menonton TV. Sekilas aku melihat berita tentang seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun yang ditangkap polisi karena mencuri pisang milik tetangganya. Ini sering terjadi. Lalu, aku menggonta ganti channel. Ada lagi berita tentang segerombolan anak-anak pengemis yang diamankan aparat. Ganti channel! News again!  Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun diserang busung lapar akibat gizi buruk. Lagi-lagi, anak-anak. Sepertinya, saat ini anak-anak adalah kriminal, anak-anak adalah tersangka, anak-anak juga korban. Ada yang tidak beres dengan anak bangsa.

Sejenak aku merenung sebelum kumatikan TV berukuran 29 inch itu. Aku ingat tugas dari guru Bahasa Indonesia yaitu membuat cerpen. Hm.. Aku akan mencari inspirasi di luar. Yang ada di pikiranku adalah anak-anak. Beranjak dari rumah, dengan berjalan kaki kutelusuri setiap kehidupan di luar sana.

Baru beberapa menit saja, tak terasa sudah memasuki waktu Ashar. Aku memenuhi panggilan azan dan shalat di masjid terdekat. Kemudian, aku melanjutkan perjalanan mencari inspirasi. Gayaku seperti seniman saja. Menatap liku-liku kehidupan dan mencurahkannya ke dalam tulisan. Padahal, cuma mau buat tugas. Hihi

Aneh! Tiba-tiba cuaca yang awalnya terik minta ampun berubah menjadi mendung. Waduh! Aku tidak ingat pepatah ‘Sedia Payung Sebelum Hujan’. Mendung, lalu gerimis. Aku berlari kecil di trotoar. Dan akhirnya, hujan! Derasnya… Aku basah kuyup mencari tempat berteduh.  Kulindungi kepalaku dengan tas coklat made in Batam. Dari kejauhan kulihat halte yang sudah penuh dengan penumpang sekaligus orang-orang yang sekedar berteduh. Aku mencari tempat lain. Tetapi, hujan yang turun dengan deras menghalangi mataku. Buram! Mataku kemasukan air hujan. Tiba-tiba, datang segerombolan anak-anak ke arahku. Masing-masing memegang sesuatu. Aku tak dapat melihat dengan jelas. Yang pasti, benda yang mereka pegang agak besar. Aku panik! Ada apa? Mereka semakin dekat. Perasaanku semakin tak karuan. Apa yang akan mereka lakukan kepadaku? Apa mereka memanfaatkan keadaanku seperti ini? Siapa mereka? Maling? Pencopet? Pencuri? Perampok? Aa.. sama saja.

Tebakanku salah semua.  Ternyata mereka adalah anak-anak yang baik. Sangat baik. Mereka memegang benda yang sangat kubutuhkan saat ini yaitu payung. Aku berhenti. Seorang anak segera membuka payungnya mendahului teman-temannya dan melindungiku dari hujan lalu mengajakku untuk berteduh. Sesaat aku terpana. Jujur, aku tak pernah melihat mereka. Ya Allah… maafkan aku yang telah berprasangka buruk. Bocah yang memakai baju bergambar Bernard Bear itu terus menarik lengan bajuku untuk berteduh sedangkan teman-temannya yang lain mencari orang lain yang dapat mereka lindungi. Aku mengangguk dan tersenyum kecil lalu berteduh di halaman sebuah toko yang di pintunya bertuliskan DIJUAL.

Aku heran. Mereka -bocah-bocah kecil itu- yang memegang payung, basah kuyup. Mereka tidak menggunakan payung itu. That’s the point! Sebuah kejujuran. Aku tahu ini sebuah pekerjaan. Aku akan membayar nanti. Aku teringat dengan berita yang kutonton tadi siang. Anak-anak. Mereka lagi. Mereka harus menanggung semua ini tanpa mengecap pendidikan. Ku tatap bocah yang sejak tadi menemaniku. Ia kedinginan.

“Mm.. Nama kamu siapa?” tanyaku dengan sedikit gugup. Ia terdiam sesaat. Dahinya berkerut. Apa yang perlu diherankan?

“Bima,” jawabnya lirih. Ia tidak melihatku saat menjawabnya. Aku mengangguk-angguk. Berselang dua toko, aku melihat sebuah warung.

“Dik, sebentar ya. Kakak mau ke warung.”

“Mm.. bayar kak!” pintanya malu-malu. Ia menunjukkan telapak tangannya yang kecil dan kotor.

“Tenang. Kakak balik lagi. Kakak masih butuh kamu,” sahutku lembut. Ia tersenyum simpul menunjukkan kepercayaannya. Apa kata-kataku berlebihan? Entahlah.

Aku membeli minuman bersoda dan teh hangat yang diikat di dalam plastik untuk Bima. Aku menawarkannya. Sayangnya, ia menggeleng. Aku kembali menawarkan minuman itu dan berkata bahwa ini gratis. Ia menggeleng. Aku tidak mengerti,

“Kenapa?”

“Tidak pernah ada yang memberi kami minuman. Kami beli sendiri dengan uang hasil kerja kami.”

Aku tersentak! Kata ‘tidak pernah ada’ dan ‘kerja’ benar-benar membuatku tersentak. Aku saja yang sudah SMA belum pernah memikirkan pekerjaan. Pikiranku berkecamuk. Tetapi aku bersikeras menawarkan minuman itu padanya.

“Kalau begitu, kakak adalah orang pertama. Kamu tahu kan, rezeki itu nggak boleh ditolak?” aku membujuk. Ia menatapku penuh arti. Lalu pandangannya tertuju pada tanganku. Perlahan ia mengambil teh hangat itu dan menyeruputnya. Aku kegirangan. Entah kenapa…

Selama hujan turun, kami saling berbagi cerita. Ia anak yang ramah. Meski pun masih berusia 12 tahun, pikirannya luar biasa. Tak sedikit ia berbicara layaknya orang dewasa.

“Yah.. Mau tidak mau kami harus menerima nasib kami dengan bekerja seperti ini, kak. Mengemis itu tidak baik. Aku tidak akan meminta hasil tanpa usaha,” begitu katanya. Bagaimana aku tidak tersentuh mendengarnya. Asing di telingaku mendengar kata-kata semacam itu dari mulut anak-anak zaman sekarang yang biasanya hanya merengek pada orang tua minta dibelikan ini-itu. Anak-anak penyambut hujan ini sangat luar biasa.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil matic berwarna merah mengkilap berhenti di hadapanku. Mobil itu tampak tak  asing bagiku. Perlahan jendela mobil itu terbuka. Benar saja, itu teman sekolahku, Eli.

“Nada!! Ngapain kamu disini? Sama bocah tengik ini pula??” teriak Eli. Aku kaget dan menunjukkan ekspresi tidak suka pada Eli ! Hanya aku, sedangkan Bima bersikap biasa saja. Ketika ingin kubantah perkataan kasar Eli, ia membuka pintu mobil dan berlari ke arahku dengan tergopoh-gopoh agar tak ada setetes pun terkena air hujan.

“Ayo! Ikut aku! Ngapain sih kamu di tempat kumuh ini?” ucap Eli lagi. “Aku perlu ngomong sesuatu sama kamu. Yuk!”.  Lalu Eli mengalihkan pandangannya ke arah Bima. Karena aku tak tahan mendengar makiannya terhadap Bima, aku pun langsung mengiyakan untuk naik ke mobil karena memang ia ingin segera pulang.

“Dik Bima, terima kasih atas kebaikanmu. Kakak harap kita bertemu lagi,” ucapku tulus sambil menyerahkan uang Rp. 50.000,-. Bima kaget melihat jumlah uang sebesar itu. Sebelum ia sempat meraihnya dari tanganku, Eli buru-buru menarik tubuhku ke dalam mobilnya.

“Jangan berlebihan, Nada. Ayo, cepat!” ujar Eli gusar bukan kepalang. Begitu pun aku. Sejenak mengabaikan Eli, aku menarik tangan kanan Bima dan memberikan uang tersebut dengan senyum tulus. Saat masuk ke mobil, aku hendak melambaikan tangan pada Bima,  namun sekejap Bima sudah tak lagi di tempat. Ia berlari ke arah teman-temannya yang lain.

“Nada! Kamu tuh kok bisa-bisanya ada di tempat tadi? Sendiri lagi! Kamu tau kan  daerah ini ngga aman. Banyak cewe  yang…….”

“Cukup, Eli! Apa kamu ngga mikir perasaan anak tadi? Kamu mengatai dia ‘bocah tengik’,” aku pun meluapkan  kemarahannya.

“Lho? Memang bener, kan? Nggak liat pakaiannya kumal and lusuh gitu?” ejek Eli sombong.

“Bagaimana pun dia cuma anak-anak. Nggak seharusya kamu…. ”

“Nada, kamu kebentur apa sih? Sampai mati-matian membela anak nggak jelas itu? Aku…”

“Eli! Thanks! Aku turun disini!” aku kian tak sabar. Mulut Eli ternganga ingin mengatakan sesuatu, namun seperti tertahan. Ia menghentikan mobilnya.  Aku segera membuka pintu mobil yang jendelanya terbuka dan langsung mencari angkot untuk pulang. Saat itu, hujan tak lagi deras.

“Apa-apaan sih itu anak? Gak jadi curhat nih!” masih kudengar sahutan Eli yang cemberut dari dalam mobil. Ia pun segera pergi.

Tiba di rumah, aku tak berhenti memikirkan Bima. Rasanya seperti sudah terikat dengan anak itu.

“Mama dan Papa belum pulang. Malam ini aku akan mencari Bima. Harus!” ucapku pada diri sendiri sebelum membuka pintu kamar.

Setelah shalat Isya, kuajak Ririn, teman sebangku di sekolah untuk mencari Bima. Ririn adalah temanku yang baik, pengertian, tidak sombong. Sayangnya, dia boros! Tidak suka menabung. Hehe.

Ririn tampak tersentuh mendengar ceritaku. Ia segera mengendarai mobil ke toko yang kuceritakan sebelumnya

“Stop! Stop! Tadi disini!” kataku. Ririn menghentikan mobilnya.

“Serius Nada, aku takut! Tempatnya menyeramkan. Kita mengawasi dari dalam mobil aja yaa?” ujar Ririn memelas.

“Nggak. Kamu aja yang tunggu disini. Aku akan cari keluar! Doakan aku!” sahutku cepat sembari membuka pintu mobil untuk keluar. Ririn hanya bisa menggeleng.

Mataku terus mengawasi satu persatu anak kecil di setiap sudut toko, perempatan jalan dan lampu merah.

“Malam ini tidak hujan. Bakal ketemu nggak, yaa?” kataku pada diri sendiri Aku ragu hingga mengerutkan dahi. Tak hanya memperhatikan anak kecil, aku juga mengawasi kalau-kalau ada pemuda asing yang berani mengganggu.

“Ituu.. itu.. Bima!! Bimaaa!” teriakku pada Ririn dari kejauhan dan sambil berlari menuju Bima. Bima masih menggunakan pakaian yang sama dengan sebelumnya. Ia dan teman-temannya menoleh kearah suara.

“Bima! Ini… h.ooh… hooh.. ini kakak!” ujarku dengan nafas tersengal-sengal. Bahagianya bisa bertemu kembali dengan Bima. Bima pun menghampiriku.

“Kakak kan yang tadi sore? Ngapain malam-malam kemari?” Tanya Bima polos.

“Tentu saja mencarimu! Nama kakak Nada. Kakak ingin minta maaf, karena kejadian tadi sore.”

“Ooh.. itu. Aku tidak masalah dengan hal itu kak. Kami sudah biasa mendengar cacian dari orang-orang kaya seperti kakak dan teman kakak,” sahut Bima tenang.

“A.. apa??”  aku benar-benar heran dan kaget mendengar kalimat Bima barusan. Namun,  aku tak peduli. Ada yang aneh dengan dirinya terhadap Bima. Seperti baper, tetapi lebih ke perasaan sayang antar saudara kandung. Entah apa yang membuatku bergerak untuk memeluk Bima dengan erat. Bima kaget, tak bereaksi. Begitu juga teman-teman Bima.

“Kakak nggak tau apa yang membuat kakak sayang sama kamu. Tapi, kemarin waktu hujan, kakak sama sekali nggak merasa kedinginan. Kakak merasa hangat dekat kamu. Kamu mau nggak jadi adik kakak?”  ujar Nada nekat tanpa melepaskan pelukannya. Matanya berkaca-kaca hendak menumpahkan butiran bening. Karena sebenarnya, ia sudah sangat lama menginginkan kehadiran seorang adik.

“Kak. Aku nggak pantas jadi adik kakak. Kakak jangan bercanda,” sahut Bima sambil melepas pelukan Nada. Sebenarnya, ia juga merasakan hal yang sama pada Nada. Ia tahu bahwa Nada adalah orang yang penyayang.

Mendengar kata ‘tidak pantas’, Nada mengerti apa yang Bima maksud.

“Bima! Pokoknya kamu harus mau! Harus! Terserah mau kamu marah, tidak pantas atau apalah… kamu adalah adik kakak!”

“Haha.. Terus, apa yang bisa Bima lakukan? Bima Cuma anak miskin yang…”

“Bima sayang. Karena kamu adik kakak, mulai sekarang, kamu dan keluarga boleh tinggal di rumah kakak. Mau, kan?” Sejujurnya, aku juga berpikir ini terlalu nekat. Baru hari ini kukenal Bima. Meski sebaiknya aku tidak langsung mempercayai orang asing, namun  akusudah memantapkan hati untuk mengangkat seorang adik dan tinggal di rumah. Kulihat Bima pun berpikir. Akhirnya, Bima menolak halus dan menjelaskan bahwa ia tak akan meninggalkan teman-temannya. Ia bahagia disini. Aku terharu mendengar penjelasan Bima yang tak biasa. Kembali kumeluk Bima dan berkata,

“Terserah kamu, deh! Pokoknya, kamu adik kakak. Kakak akan berusaha bujuk kamu untuk sekolah dan sampai kamu mau tinggal sama kakak. Sebelum itu, kakak akan selalu berkunjung kemari,”. Bima pun tersenyum puas.

Dari kejauhan, Ririn yang sejak tadi mengikutiku, tak kuasa meneteskan air matanya. Tidak hanya karena percakapanku dan Bima, namun juga karena ia teringat adik laki-lakinya yang telah menghadap Yang Maha Esa karena penyakit kanker paru-paru kurang dari setahun yang lalu. Ririn tak henti mengelap matanya dengan ujung kerudung berbahan maxmaranya. Sedangkan teman-teman Bima hanya melongo, sepertinya mereka tidak begitu paham apa yang terjadi.

Setelah lama berpelukan, kulirik jam tanganku. Aku harus buru-buru pulang. Lalu, kuberitahukan alamat rumahku pada Bima untuk dikunjungi kapan saja. Bima menerimanya dengan senang hati.

“Kakak pulang yaa. Besok kakak akan kesini lagi. Daaaaah…” ujarku gembira. Tak lupa, aku berpamitan dan melambaikan tangannya pada teman-teman Bima.

“Dah kakak… aku tunggu besok!!” Bima pun tak kalah semangatnya melambaikan tangan. Ia melakukannya sambil melompat girang.

Aku dan Ririn kembali ke mobil dengan masing-masing menahan kerinduan. Kami saling berpandangan dan tersenyum.

Thanks, Rin!” hanya itu yang mampu kuucapkan sebelum tangisku kembali pecah karena terlalu sedih meninggalkan Bima, seorang anak yang bijaknya bahkan melewati umurnya, namun ia tidak sekolah karena orangtuanya tidak memiliki biaya untuk mengecap pendidikan, hingga ia harus bekerja mencari nafkah, membantu orangtua yang tidak punya pekerjaan. Aku benar-benar tidak tahan. Aku pun menangis, pada akhirnya. Ririn hanya terdiam dan menepuk pelan bahuku, menenangkan.

Namun, terlepas dari itu, kamu segera meninggalkan daerah kumuh itu dengan perasaan syukur.  Kami sadar bahwa anak-anak sang penyambut hujan yang kami temui tadi adalah anak-anak yang hebat, terutama Bima. Kehebatannya tidak terlihat sebab kondisi menenggelamkan mereka dalam kemiskinan. Masing-masing dari kami berdoa dalam hati untuk adik-adik.

THE END

…….

“Akhirnyaa… cerpenku selesai!” ujarku sambil tersenyum riang. Hari ini cuaca cerah, secerah hatiku yang telah menyelesaikan tugas sekolah yang lama kudapatkan inspirasinya. Namun, aku masih belum menemukan judul yang tepat.

“Rin, menurut kamu apa judul yang keren?” tanyaku pada Ririn yang sedang menyeruput habis es the manis. Kami berdua sedang bersantai di bawah pohon cemara di halaman sekolah.

“Mmm.. entahlah. Kau tahu kan aku tidak hebat dalam sastra. Tapi…. apa yang membuat mereka beda dengan anak-anak lain?”

“Aku tahu! Oke! Ini judulnya.”

Ririn mendekatiku, melihat ke arah laptopku. Ia tersenyum puas sambil berlirih…

   “Sang penyambut hujan…..”

 

(Curahan hati yang dikemas di dalam sebuah cerpen. Terinspirasi dari anak-anak ojek payung yang saya temui di Terminal Rambutan, tahun 2012 lalu.)

Leave us a Message