Feb 27

SANG PENYAMBUT HUJAN

Tampaknya mentari benar-benar mencurahkan tenanganya. Sejenak mencerahkan, lalu menghangatkan tetapi sekarang terlalu hangat hingga kuayun kencang tugas klipingku sebagai kipas. Teriknya… aku tidak mengerti. Ini bulan Desember di tahun 2017 ini. Seharusnya musim hujan. Mentari bisa saja bersinar, tetapi tidak seterik ini. Aku masih terdiam di depan pagar sekolah menunggu angkot.

Akhirnya, jurusan angkot yang kunanti berhenti. Aku segera naik dan mulai berdesakan dengan penumpang lain. Ini adalah ketiga kalinya aku naik kendaraan umum sejak supir pribadi keluarga kami meminta cuti karena istrinya melahirkan. Huuh.. sumpek banget! Lagi-lagi aku harus pasrah berdesak-desakan dengan penumpang lain.

Setibaku di rumah yang selalu sepi di siang hari -karena keluarga sibuk kerja- aku beristirahat sambil menonton TV. Sekilas aku melihat berita tentang seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun yang ditangkap polisi karena mencuri pisang milik tetangganya. Ini sering terjadi. Lalu, aku menggonta ganti channel. Ada lagi berita tentang segerombolan anak-anak pengemis yang diamankan aparat. Ganti channel! News again!  Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun diserang busung lapar akibat gizi buruk. Lagi-lagi, anak-anak. Sepertinya, saat ini anak-anak adalah kriminal, anak-anak adalah tersangka, anak-anak juga korban. Ada yang tidak beres dengan anak bangsa.

Sejenak aku merenung sebelum kumatikan TV berukuran 29 inch itu. Aku ingat tugas dari guru Bahasa Indonesia yaitu membuat cerpen. Hm.. Aku akan mencari inspirasi di luar. Yang ada di pikiranku adalah anak-anak. Beranjak dari rumah, dengan berjalan kaki kutelusuri setiap kehidupan di luar sana.

Baru beberapa menit saja, tak terasa sudah memasuki waktu Ashar. Aku memenuhi panggilan azan dan shalat di masjid terdekat. Kemudian, aku melanjutkan perjalanan mencari inspirasi. Gayaku seperti seniman saja. Menatap liku-liku kehidupan dan mencurahkannya ke dalam tulisan. Padahal, cuma mau buat tugas. Hihi

Aneh! Tiba-tiba cuaca yang awalnya terik minta ampun berubah menjadi mendung. Waduh! Aku tidak ingat pepatah ‘Sedia Payung Sebelum Hujan’. Mendung, lalu gerimis. Aku berlari kecil di trotoar. Dan akhirnya, hujan! Derasnya… Aku basah kuyup mencari tempat berteduh.  Kulindungi kepalaku dengan tas coklat made in Batam. Dari kejauhan kulihat halte yang sudah penuh dengan penumpang sekaligus orang-orang yang sekedar berteduh. Aku mencari tempat lain. Tetapi, hujan yang turun dengan deras menghalangi mataku. Buram! Mataku kemasukan air hujan. Tiba-tiba, datang segerombolan anak-anak ke arahku. Masing-masing memegang sesuatu. Aku tak dapat melihat dengan jelas. Yang pasti, benda yang mereka pegang agak besar. Aku panik! Ada apa? Mereka semakin dekat. Perasaanku semakin tak karuan. Apa yang akan mereka lakukan kepadaku? Apa mereka memanfaatkan keadaanku seperti ini? Siapa mereka? Maling? Pencopet? Pencuri? Perampok? Aa.. sama saja.

Tebakanku salah semua.  Ternyata mereka adalah anak-anak yang baik. Sangat baik. Mereka memegang benda yang sangat kubutuhkan saat ini yaitu payung. Aku berhenti. Seorang anak segera membuka payungnya mendahului teman-temannya dan melindungiku dari hujan lalu mengajakku untuk berteduh. Sesaat aku terpana. Jujur, aku tak pernah melihat mereka. Ya Allah… maafkan aku yang telah berprasangka buruk. Bocah yang memakai baju bergambar Bernard Bear itu terus menarik lengan bajuku untuk berteduh sedangkan teman-temannya yang lain mencari orang lain yang dapat mereka lindungi. Aku mengangguk dan tersenyum kecil lalu berteduh di halaman sebuah toko yang di pintunya bertuliskan DIJUAL.

Aku heran. Mereka -bocah-bocah kecil itu- yang memegang payung, basah kuyup. Mereka tidak menggunakan payung itu. That’s the point! Sebuah kejujuran. Aku tahu ini sebuah pekerjaan. Aku akan membayar nanti. Aku teringat dengan berita yang kutonton tadi siang. Anak-anak. Mereka lagi. Mereka harus menanggung semua ini tanpa mengecap pendidikan. Ku tatap bocah yang sejak tadi menemaniku. Ia kedinginan.

“Mm.. Nama kamu siapa?” tanyaku dengan sedikit gugup. Ia terdiam sesaat. Dahinya berkerut. Apa yang perlu diherankan?

“Bima,” jawabnya lirih. Ia tidak melihatku saat menjawabnya. Aku mengangguk-angguk. Berselang dua toko, aku melihat sebuah warung.

“Dik, sebentar ya. Kakak mau ke warung.”

“Mm.. bayar kak!” pintanya malu-malu. Ia menunjukkan telapak tangannya yang kecil dan kotor.

“Tenang. Kakak balik lagi. Kakak masih butuh kamu,” sahutku lembut. Ia tersenyum simpul menunjukkan kepercayaannya. Apa kata-kataku berlebihan? Entahlah.

Aku membeli minuman bersoda dan teh hangat yang diikat di dalam plastik untuk Bima. Aku menawarkannya. Sayangnya, ia menggeleng. Aku kembali menawarkan minuman itu dan berkata bahwa ini gratis. Ia menggeleng. Aku tidak mengerti,

“Kenapa?”

“Tidak pernah ada yang memberi kami minuman. Kami beli sendiri dengan uang hasil kerja kami.”

Aku tersentak! Kata ‘tidak pernah ada’ dan ‘kerja’ benar-benar membuatku tersentak. Aku saja yang sudah SMA belum pernah memikirkan pekerjaan. Pikiranku berkecamuk. Tetapi aku bersikeras menawarkan minuman itu padanya.

“Kalau begitu, kakak adalah orang pertama. Kamu tahu kan, rezeki itu nggak boleh ditolak?” aku membujuk. Ia menatapku penuh arti. Lalu pandangannya tertuju pada tanganku. Perlahan ia mengambil teh hangat itu dan menyeruputnya. Aku kegirangan. Entah kenapa…

Selama hujan turun, kami saling berbagi cerita. Ia anak yang ramah. Meski pun masih berusia 12 tahun, pikirannya luar biasa. Tak sedikit ia berbicara layaknya orang dewasa.

“Yah.. Mau tidak mau kami harus menerima nasib kami dengan bekerja seperti ini, kak. Mengemis itu tidak baik. Aku tidak akan meminta hasil tanpa usaha,” begitu katanya. Bagaimana aku tidak tersentuh mendengarnya. Asing di telingaku mendengar kata-kata semacam itu dari mulut anak-anak zaman sekarang yang biasanya hanya merengek pada orang tua minta dibelikan ini-itu. Anak-anak penyambut hujan ini sangat luar biasa.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil matic berwarna merah mengkilap berhenti di hadapanku. Mobil itu tampak tak  asing bagiku. Perlahan jendela mobil itu terbuka. Benar saja, itu teman sekolahku, Eli.

“Nada!! Ngapain kamu disini? Sama bocah tengik ini pula??” teriak Eli. Aku kaget dan menunjukkan ekspresi tidak suka pada Eli ! Hanya aku, sedangkan Bima bersikap biasa saja. Ketika ingin kubantah perkataan kasar Eli, ia membuka pintu mobil dan berlari ke arahku dengan tergopoh-gopoh agar tak ada setetes pun terkena air hujan.

“Ayo! Ikut aku! Ngapain sih kamu di tempat kumuh ini?” ucap Eli lagi. “Aku perlu ngomong sesuatu sama kamu. Yuk!”.  Lalu Eli mengalihkan pandangannya ke arah Bima. Karena aku tak tahan mendengar makiannya terhadap Bima, aku pun langsung mengiyakan untuk naik ke mobil karena memang ia ingin segera pulang.

“Dik Bima, terima kasih atas kebaikanmu. Kakak harap kita bertemu lagi,” ucapku tulus sambil menyerahkan uang Rp. 50.000,-. Bima kaget melihat jumlah uang sebesar itu. Sebelum ia sempat meraihnya dari tanganku, Eli buru-buru menarik tubuhku ke dalam mobilnya.

“Jangan berlebihan, Nada. Ayo, cepat!” ujar Eli gusar bukan kepalang. Begitu pun aku. Sejenak mengabaikan Eli, aku menarik tangan kanan Bima dan memberikan uang tersebut dengan senyum tulus. Saat masuk ke mobil, aku hendak melambaikan tangan pada Bima,  namun sekejap Bima sudah tak lagi di tempat. Ia berlari ke arah teman-temannya yang lain.

“Nada! Kamu tuh kok bisa-bisanya ada di tempat tadi? Sendiri lagi! Kamu tau kan  daerah ini ngga aman. Banyak cewe  yang…….”

“Cukup, Eli! Apa kamu ngga mikir perasaan anak tadi? Kamu mengatai dia ‘bocah tengik’,” aku pun meluapkan  kemarahannya.

“Lho? Memang bener, kan? Nggak liat pakaiannya kumal and lusuh gitu?” ejek Eli sombong.

“Bagaimana pun dia cuma anak-anak. Nggak seharusya kamu…. ”

“Nada, kamu kebentur apa sih? Sampai mati-matian membela anak nggak jelas itu? Aku…”

“Eli! Thanks! Aku turun disini!” aku kian tak sabar. Mulut Eli ternganga ingin mengatakan sesuatu, namun seperti tertahan. Ia menghentikan mobilnya.  Aku segera membuka pintu mobil yang jendelanya terbuka dan langsung mencari angkot untuk pulang. Saat itu, hujan tak lagi deras.

“Apa-apaan sih itu anak? Gak jadi curhat nih!” masih kudengar sahutan Eli yang cemberut dari dalam mobil. Ia pun segera pergi.

Tiba di rumah, aku tak berhenti memikirkan Bima. Rasanya seperti sudah terikat dengan anak itu.

“Mama dan Papa belum pulang. Malam ini aku akan mencari Bima. Harus!” ucapku pada diri sendiri sebelum membuka pintu kamar.

Setelah shalat Isya, kuajak Ririn, teman sebangku di sekolah untuk mencari Bima. Ririn adalah temanku yang baik, pengertian, tidak sombong. Sayangnya, dia boros! Tidak suka menabung. Hehe.

Ririn tampak tersentuh mendengar ceritaku. Ia segera mengendarai mobil ke toko yang kuceritakan sebelumnya

“Stop! Stop! Tadi disini!” kataku. Ririn menghentikan mobilnya.

“Serius Nada, aku takut! Tempatnya menyeramkan. Kita mengawasi dari dalam mobil aja yaa?” ujar Ririn memelas.

“Nggak. Kamu aja yang tunggu disini. Aku akan cari keluar! Doakan aku!” sahutku cepat sembari membuka pintu mobil untuk keluar. Ririn hanya bisa menggeleng.

Mataku terus mengawasi satu persatu anak kecil di setiap sudut toko, perempatan jalan dan lampu merah.

“Malam ini tidak hujan. Bakal ketemu nggak, yaa?” kataku pada diri sendiri Aku ragu hingga mengerutkan dahi. Tak hanya memperhatikan anak kecil, aku juga mengawasi kalau-kalau ada pemuda asing yang berani mengganggu.

“Ituu.. itu.. Bima!! Bimaaa!” teriakku pada Ririn dari kejauhan dan sambil berlari menuju Bima. Bima masih menggunakan pakaian yang sama dengan sebelumnya. Ia dan teman-temannya menoleh kearah suara.

“Bima! Ini… h.ooh… hooh.. ini kakak!” ujarku dengan nafas tersengal-sengal. Bahagianya bisa bertemu kembali dengan Bima. Bima pun menghampiriku.

“Kakak kan yang tadi sore? Ngapain malam-malam kemari?” Tanya Bima polos.

“Tentu saja mencarimu! Nama kakak Nada. Kakak ingin minta maaf, karena kejadian tadi sore.”

“Ooh.. itu. Aku tidak masalah dengan hal itu kak. Kami sudah biasa mendengar cacian dari orang-orang kaya seperti kakak dan teman kakak,” sahut Bima tenang.

“A.. apa??”  aku benar-benar heran dan kaget mendengar kalimat Bima barusan. Namun,  aku tak peduli. Ada yang aneh dengan dirinya terhadap Bima. Seperti baper, tetapi lebih ke perasaan sayang antar saudara kandung. Entah apa yang membuatku bergerak untuk memeluk Bima dengan erat. Bima kaget, tak bereaksi. Begitu juga teman-teman Bima.

“Kakak nggak tau apa yang membuat kakak sayang sama kamu. Tapi, kemarin waktu hujan, kakak sama sekali nggak merasa kedinginan. Kakak merasa hangat dekat kamu. Kamu mau nggak jadi adik kakak?”  ujar Nada nekat tanpa melepaskan pelukannya. Matanya berkaca-kaca hendak menumpahkan butiran bening. Karena sebenarnya, ia sudah sangat lama menginginkan kehadiran seorang adik.

“Kak. Aku nggak pantas jadi adik kakak. Kakak jangan bercanda,” sahut Bima sambil melepas pelukan Nada. Sebenarnya, ia juga merasakan hal yang sama pada Nada. Ia tahu bahwa Nada adalah orang yang penyayang.

Mendengar kata ‘tidak pantas’, Nada mengerti apa yang Bima maksud.

“Bima! Pokoknya kamu harus mau! Harus! Terserah mau kamu marah, tidak pantas atau apalah… kamu adalah adik kakak!”

“Haha.. Terus, apa yang bisa Bima lakukan? Bima Cuma anak miskin yang…”

“Bima sayang. Karena kamu adik kakak, mulai sekarang, kamu dan keluarga boleh tinggal di rumah kakak. Mau, kan?” Sejujurnya, aku juga berpikir ini terlalu nekat. Baru hari ini kukenal Bima. Meski sebaiknya aku tidak langsung mempercayai orang asing, namun  akusudah memantapkan hati untuk mengangkat seorang adik dan tinggal di rumah. Kulihat Bima pun berpikir. Akhirnya, Bima menolak halus dan menjelaskan bahwa ia tak akan meninggalkan teman-temannya. Ia bahagia disini. Aku terharu mendengar penjelasan Bima yang tak biasa. Kembali kumeluk Bima dan berkata,

“Terserah kamu, deh! Pokoknya, kamu adik kakak. Kakak akan berusaha bujuk kamu untuk sekolah dan sampai kamu mau tinggal sama kakak. Sebelum itu, kakak akan selalu berkunjung kemari,”. Bima pun tersenyum puas.

Dari kejauhan, Ririn yang sejak tadi mengikutiku, tak kuasa meneteskan air matanya. Tidak hanya karena percakapanku dan Bima, namun juga karena ia teringat adik laki-lakinya yang telah menghadap Yang Maha Esa karena penyakit kanker paru-paru kurang dari setahun yang lalu. Ririn tak henti mengelap matanya dengan ujung kerudung berbahan maxmaranya. Sedangkan teman-teman Bima hanya melongo, sepertinya mereka tidak begitu paham apa yang terjadi.

Setelah lama berpelukan, kulirik jam tanganku. Aku harus buru-buru pulang. Lalu, kuberitahukan alamat rumahku pada Bima untuk dikunjungi kapan saja. Bima menerimanya dengan senang hati.

“Kakak pulang yaa. Besok kakak akan kesini lagi. Daaaaah…” ujarku gembira. Tak lupa, aku berpamitan dan melambaikan tangannya pada teman-teman Bima.

“Dah kakak… aku tunggu besok!!” Bima pun tak kalah semangatnya melambaikan tangan. Ia melakukannya sambil melompat girang.

Aku dan Ririn kembali ke mobil dengan masing-masing menahan kerinduan. Kami saling berpandangan dan tersenyum.

Thanks, Rin!” hanya itu yang mampu kuucapkan sebelum tangisku kembali pecah karena terlalu sedih meninggalkan Bima, seorang anak yang bijaknya bahkan melewati umurnya, namun ia tidak sekolah karena orangtuanya tidak memiliki biaya untuk mengecap pendidikan, hingga ia harus bekerja mencari nafkah, membantu orangtua yang tidak punya pekerjaan. Aku benar-benar tidak tahan. Aku pun menangis, pada akhirnya. Ririn hanya terdiam dan menepuk pelan bahuku, menenangkan.

Namun, terlepas dari itu, kamu segera meninggalkan daerah kumuh itu dengan perasaan syukur.  Kami sadar bahwa anak-anak sang penyambut hujan yang kami temui tadi adalah anak-anak yang hebat, terutama Bima. Kehebatannya tidak terlihat sebab kondisi menenggelamkan mereka dalam kemiskinan. Masing-masing dari kami berdoa dalam hati untuk adik-adik.

THE END

…….

“Akhirnyaa… cerpenku selesai!” ujarku sambil tersenyum riang. Hari ini cuaca cerah, secerah hatiku yang telah menyelesaikan tugas sekolah yang lama kudapatkan inspirasinya. Namun, aku masih belum menemukan judul yang tepat.

“Rin, menurut kamu apa judul yang keren?” tanyaku pada Ririn yang sedang menyeruput habis es the manis. Kami berdua sedang bersantai di bawah pohon cemara di halaman sekolah.

“Mmm.. entahlah. Kau tahu kan aku tidak hebat dalam sastra. Tapi…. apa yang membuat mereka beda dengan anak-anak lain?”

“Aku tahu! Oke! Ini judulnya.”

Ririn mendekatiku, melihat ke arah laptopku. Ia tersenyum puas sambil berlirih…

   “Sang penyambut hujan…..”

 

(Curahan hati yang dikemas di dalam sebuah cerpen. Terinspirasi dari anak-anak ojek payung yang saya temui di Terminal Rambutan, tahun 2012 lalu.)

Feb 22

BUKAN BERCANDA DENGAN MAUT (end)

Takengon, Minggu 15 Januari 2017.

Cahaya pagi menyilaukan mata. Meski semalam hujan, pagi ini mentari membuka pagi perlahan, menjadikan cuaca saat ini tidak begitu dingin. Pagi ini, sebelum pulang, kami bermaksud untuk membeli buah tangan berupa buah nenas, alpukat, dan ikan depik khas Takengon. Kami menitipkan belanjaan kepada Nanda, Ina, Ama dan Ine.

Setelah itu, kami sarapan pagi bersama. Kami juga disuguhkan teh panas, kopi panas, dan gorengan. Mantap! Dalam sekejap, gorengan sudah ludes hingga yang tertinggal hanya piring putih bersih dan kresek kosong berminyak.

Ina keluar dari kamar membawakan beberapa masker kain polos berwarna-warni. “Ayo beli-beli! 1 harganya 8000. Beli 2 15ribu aja!” sahut ini bergadang, eh berdagang. Hampir semua dari kaum Hawa membelinya. Karena perjalanan dirasa cukup panjang dan penuh debu nantinya.

Setelah mengecek kembali barang-barang bawaan, kami membersihkan rumah Ina, juga rumah Pamannya Ina yang ditempati kaum Adam. Setelah dirasa bersih dan layak ditinggalkan, kami berpamitan kepada keluarga Ina, juga tak lupa berterima kasih kepada mereka yang sudah sangat membantu kami, menyambut dan menerima kami dengan ramah.

“Main-main kemari lagi yaaa. Kapan-kapan kesini lagi, nginap disini lagi..” sahut keluarga Ina.

“InsyaAllah.. kami kesini lagi..” aku dan teman-temanku berujar hampir bersamaan. Ina juga ikut kembali ke Banda Aceh. Sama seperti saat berangkat, saat pulang pun aku dan Ais duduk di di baris kedua (tidak dihitung baris supir), tepatnya di sisi kiri bus, dengan Ais yang duduk bersisian jendela. Lalu, bus mulai melaju perlahan, meninggalkan komplek perumahan Ina.

Di tengah perjalanan, kami melihat sebuah landscape view yang terhampar indah di sisi kanan jalan. Seisi bus riuh karena kagum. Kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak, berfoto bersama.

Tidak hanya kami, di tempat ini juga banyak pengunjung lain yang berusaha mengambil titik dan sudut foto terbaik. Paduan air dan pegunungan hijau alami, ditambah dengan petak-petak rumah warga dibawahnya, menambah keindahan panorama ini. Bisa kuhitung, lebih dari 20 kali kami berfoto agar posisi berdiri tidak menghalangi latar berlakang pemandangan menakjubkan.

Puas berfoto, perjalanan pun kami lanjutkan. Lokasi terakhir yang kami kunjungi sebelum kembali ke Banda Aceh adalah Seladang Café. Sesuai jargonnya “Ngopi di Kebun Kopi”, café ini menyediakan tempat untuk menyeruput tanaman khas Aceh yang sudah mendunia ini tepat di kebun kopi. Luas kebun kopi ini sekitar 2 hektar. Bangunannya sederhana namun seni arsitekturnya sangat tinggi dan unik, sehingga terkesan sangat natural, tidak kontra dengan kebun kopi yang ada di sekelilingnya. Café unik ini menyediakan berbagai jenis kopi seperti Americano, Arabica Gayo, Black Coffee, Espresso, dan lainnya. Ada menu es buah, jika tidak suka kopi.  Jadi, sambil menikmati aroma dan rasa khas kopi Aceh langsung dari kebun kopi ini, kami juga bisa menikmati pemandangan kebun kopi yang biji kopinya berwarna hijau dan merah, bulat-bulat menggemaskan.

Aku, Fajar dan Nur, memesan kopi Americano. Kami bertiga belum pernah menyicipi kopi jenis ini sebelumnya. Ternyata kopinya sangat asam, tidak seperti Espresso dan Arabica. Aku, masih lebih suka Arabica atau Black dibandingkan Americano.

Waktu sudah memasuki  Zuhur. Kami bergantian shalat Zuhur, lalu berfoto-foto di kebun kopi dan di depan banner ukir Seladang Café. Kemudian, bus kembali melaju, berhenti di suatu tempat dimana kami membeli nasi bungkus untuk makan siang, dan rencananya akan kami santap-lahap di lokasi lain.

Perjalanan mulai memabukkan. Entah karena kopi, atau karena belum makan siang. Pun Ais mulai menyandarkan diri di kursi, berusaha relax  untuk mengurangi mual. Aku mulai pusing. Kuputuskan untuk memutar Music dari telepon genggamku dan mendengarkannya menggunakan earphone. Aku tidak bersandar, justru menopang lengan kiriku di kursi depan dan membiarkan kepala beratku diatasnya, mendengarkan alunan musik yang tidak begitu mempan menghilangkan rasa pusingku. Baru saja akan kugerakkan jariku untuk memutar mp3 Surah Al Baqarah yang suara indahnya milik Mishari Rasyid Al-afasyi….

Tiba-tiba..

Bus melaju dengan sangat cepat.

“Hati-hati Pak!” sebuah suara perempuan terdengar dari kursi belakang. Aku mengangkat kepala beratku dan melirik ke depan.

Bus mulai tidak terkendali. Aku tak tahu pasti berapa lama bus sudah melaju cepat dan tidak terkendali seperti ini. Belum sempat aku berpikir, sisi kiri bus sudah tidak lagi mulus. Roda kiri bus tidak lagi di jalan aspal, sepertinya jalan berbatu. Seisi bus mulai panik. Aku pun begitu. Kulintip jendela sisi kiri, hanya ada rerumputan hijau yang sangat luas dan dalam. Aku tak tahu sedalam apa itu. Saking dalamnya..

Bus berhenti mendadak. Tiba-tiba bus tidak seimbang. Sisi kanan bus mulai terangkat. Teman-teman di belakangku mulai berteriak. Aku dan Ais tidak berteriak, karena kami mengira dan berharap, ketidakseimbangan ini hanya sesaat aja dan kemudian bus akan kembali seperti semula. Ternyata hanya sekedar harapan. Bus tidak kembali seperti semula. Kulihat sisi kiriku dari jendela. Warna hijau rerumputan yang mulanya tampak jauh, mulai mendekat, dan mendekat, hingga kami tepat berada di atasnya. Bus terbalik dan berguling ke jurang!

………….

………….

Aku duduk di atas rerumputan yang tanahnya miring karena curam. Pandanganku fokus ke depan. Mata air? Pikirku. Sekitar 2 meter dihadapanku, sebuah bus biru mini terjungkal setengah hancur nyaris menghadap ke atas. Sisi depannya hancur dan beberapa kepingan terlepas. Ngapain bus ini disini? Kenapa bisa hancur?

Sekitar 3 meter setelahnya, mata air mengalir sangat deras dan penuh bebatuan. Saking derasnya, aku bisa mendengar bagaimana hentakan air derasnya menabrak batu-batu bulat besar diantaranya. Aku tidak bisa mendengar apapun selain derasnya air dan desiran angin. Badanku tidak bisa merasakan apa pun. Dan… aku tidak ingat apapun. Ini dimana?

Panik karena kebingungan, aku pun melihat diriku sendiri. Baju biru berbahan jeans.. benakku berujar. Aku tidak ingat sejak kapan aku memakai baju favoritku ini. Aku bahkan tidak memakai sepatu. Kakiku kotor  beralaskan tanah. Batu kerikil yang kuinjak tadi tidak terasa sakitnya. Kupalingkan wajahku ke kanan, beberapa sosok yang kukenal tersebar di beberapa tempat dalam keadaan tidur terlentang, duduk dan setengah berdiri. Aku melihat ke kiri, yang ada hanya pepohonan liar. Aku masih tidak bisa mendengar apapun. Hingga seorang sosok yang kukenal, Amri, berjalan sempoyongan, meminta tolong sambil melihat ke atas. Sebelum aku melihat apa yang dilihat Amri, batinku tak karuan memperhatikan Amri yang kepalanya penuh dengan kucuran darah. Panikku semakin menjadi-jadi. Barulah aku melihat ke atas, jauh ke atas dan tidak begitu jelas, ada beberapa orang di atas sana. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Kulihat sekeliling, beberapa temanku juga luka-luka dengan darah mengucur dari balik kain kerudung, dari dagu dan sekitar wajah, kaki dan lainnya. Kulihat sekilas dari kejauhan, di atas batu, 1 sosok temanku terlentang tak berdaya, antara sadar dan tidak.  Entah dimana letak pikirku, aku mencoba melangkahkan kakiku untuk naik ke atas. Nihil! Tanahnya terlalu miring dan kakiku tak kuat melangkah. Saat itu, seluruh badanku mulai kesakitan. Aku kembali duduk lemas dan bertanya pada diriku. Ini dimana? Ini hari apa? Kenapa bisa disini? Ini dimana?

Aku mengenal dan mengingat semua sosok yang kulihat. Tapi tidak untuk apa yang terjadi. Mimpikah? Mimpi buruk? Aku sempat berpikir bahwa ini mimpi buruk dari tidurku. Aku adalah lucid dreamer, dimana orang-orang seperti ini sadar bahwa dia sedang bermimpi, dan beberapa orang dapat mengendalikan jalan cerita mimpinya. Jadi kupikir, setelah aku menutup mata sesaat dan menyadari bahwa ini mimpi, aku bisa terbangun dari tidurku tanpa kebingungan. Setelah kupejamkan mata beberapa saat, aku mendengar seseorang memanggilku. Kubuka mata, aku masih di lokasi yang sama, dengan Nur didekatku. Masih panik dan kebingungan, aku mulai bertanya-tanya pada Nur apa yang terjadi. Nur menunda jawabannya sesaat, lalu menjawabnya dengan singkat.

“Kita kecelakaan”, ujar Nur dengan wajah bingung melihatku.

Jadi ini bukan mimpi?

“Alvi nggak ingat, Nur. Tapi Alvi masih ingat Nur, Alhamdulillah..” kataku sambil menggenggam tangan Nur dengan kedua tanganku.

Aku kembali bergulat dengan pikiranku. Aku mendengar suara Ais sedang menelepon Umminya, tetapi aku tidak bisa melihat Ais, entah mengapa. Aku juga tidak melihat Nanda.

……………

Aku melihat Dena dan Kiki. Aku pun bertanya hal yang sama, dan menyahut dengan kalimat yang sama.

“Alvi nggak ingat. Tapi Alvi masih ingat Kiki sama Dena, Alhamdulillah..” sepertinya setiap teman yang ada kutanyakan dan kubalas hal yang sama pula. Kulihat Kiki sangat panik tak karuan melihatku hilang ingatan. Dena berusaha menjelaskan padaku dengan tenang apa yang terjadi, tetapi suara Dena seperti tidak sampai di pikiranku.

Aku amnesia? Tidak! Aku hanya tidak bisa mengingat sebagian. Bukan semuanya!

…………….

Ini bukan mimpi buruk! Ini nyata! Aku masih tidak mengerti mengapa kondisi teman-temanku begitu mirisnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Bingung.. Tiba-tiba, bahu kiriku nyeri. Awalnya nyeri seperti pegal biasa, namun lama-kelamaan saat kugerakkan, rasanya semakin sakit, seperti ada batu besar menimpa diatasnya. Hingga akhirnya tidak bisa kugerakkan sama sekali. Aku meringis kesakitan memegang lengan atas kiriku yang sakitnya mulai menjalar hingga ke leher belakangku.

……………

Seseorang membawaku ke atas. Aku sudah berada di ambulance bersama Galih dan Amri yang duduk di sebelahku. Aku kembali bertanya pada mereka apa yang terjadi, namun Amri hanya menjawab, “istighfar aja Vi..” Kecewa, tapi ada benarnya. Lebih baik aku bersabar hingga saatnya tepat. Aku bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir tiada henti. Di hadapanku, Wanda terbaring tidak sadar.

Kami tiba di Puskesmas. Kaki kiriku pun sulit kugerakkan. Dengan dibantu Syahril, lalu Galih dan dilanjutkan dengan seorang perempuan warga setempat, aku berhasil masuk Puskesmas dan duduk bersandar. Nur ada di samping kiriku, entah siapa yang tiba duluan. Pikiranku  masih bergulat penuh tanya. Tangan kananku menggenggam tangan kanan Nur. Tak lama kemudian, Fajar tiba dan duduk di sebelahku.

“Vi, coba liat ada apa di badan aku? Sakit kali”, tanya Fajar sambil memperlihatkan badan belakangnya. Aku langsung panik dan tanpa sadar mulai menangis. Luka yang terbuka lebar sekian sentimeter ‘hinggap’ di tubuhnya.

Beberapa kerabat Nur datang sambil menangis, memeluk Nur lalu memelukku erat. Dibelakangnya, Nanda masuk sambil membawa telepon genggamku. Aku menanyakan keadaan Nanda dan Ais. Alhamdulillah mereka baik-baik saja, meskipun aku belum bertemu Ais. Nanda menyerahkan HP milikku. Sambil menerimanya, aku bertanya lagi pada Nanda dimana kita berada. Nanda menjawab, ia mendengar dari beberapa orang bahwa kami kecelakaan di Jurang Enang-Enang. Sepanjang Enang-Enang ini, sebelumnya juga sudah banyak yang kecelakaan masuk jurang.

Setengah percaya, aku menyalakan GPS di HPku dan membuka aplikasi Google Maps, memeriksa lokasi saat ini. Icon lokasi merah sebagai penanda menandakan sebuah titik.

Bener Meriah. Ngapain kami disini?

Kerabat Nur mengingatkanku pada keluarga. Jika sampai Ayah dan Ummi tau, bisa-bisa Ayah akan sesak napas dan Ummi akan naik tekanan darahnya. Aku searching di Google. Tidak ada berita satupun mengenai kecelakaan ini. Aku mengecek Facebook, berharap Ayah sedang tidak online saat itu jika sudah muncul berita terbaru ini. Alhamdulillah.. tidak ada juga! Aku menghela nafas panjang, lega. Mulai berpikir, bagaimana cara memberitahu kabar ini kepada mereka? Dan lagi, amnesia ini sangat mengganggu! Bagaimana cara kujelaskan kronologi kejadiannya jika bahkan aku tidak ingat apa yang terjadi?

Beberapa warga setempat menyarankan kami naik Ambulance. Lagi? Kemana? Ternyata kami dirujuk ke Bireuen, tepatnya di RS Dr. Fauziah. Aku menyarankan agar Amri dan Fajar dibawa terlebih dahulu. Namun, Amri dan Fajar mengalah, mempersilahkan aku dan Nur yang pergi. Aku masih bersikeras, hingga akhirnya Fajar ikut serta di dalam bus membantu menopang Dian yang bahu kanannya sakit, berbarengan dengan Najian di tempat tidur dan Nur di depan, sebaris supir.

Ambulance melaju dengan sangat cepat. Sirinenya membuatku pusing. Aku masih memegangi lengan kiriku yang sakitnya tak tertahankan, terutama saat kami berada di tikungan. Tiba-tiba, sekilas terbersit ingatan akan detik-detik sebelum bus jatuh ke jurang, tepatnya saat bus mulai tak terkendali. Hingga akhirnya terguling mungkin 5 kali sebelum akhirnya berhenti di dekat mata air. Aku masih mengingat suara besi-besi bus menghantam tanah, dan kaca jendela yang hancur saat terguling. Pun bus juga sempat berhenti sesaat, yang kukira saat itu bus sudah benar-benar berhenti, ternyata tidak. Bus kembali terguling. Meski Alhamdulillah, tidak sampai masuk ke mata air. Mengingat semua itu, bulu kudukku bergidik ngeri. Ingatan itu hadir di waktu yang tidak tepat, saat aku masih berada di area pegunungan yang sama. Kuintip sisi kananku, jurang! Lalu aku menunduk dengan masih memegangi lengan kiriku, berusaha mengatur nafasku, mencoba bersikap tenang,  sambil menyebut asma Allah tanpa henti. Ketika ambulance belok dengan kecepatan yang tajam, aku dan Fajar merasa ngeri, seolah kami akan jatuh ke jurang kedua kalinya. Tiba-tiba Dian meringis kesakitan. Kami menenangkan Dian, dan Fajar mulai mual.

“Muntah aja di dalam mobil Jar!” kataku pada Fajar yang mulai pucat menahan pusing dan mual, sementara tidak ada plastik atau apa pun untuk menampung. Awalnya ia enggan, tapi rasa mual memaksanya menepis rasa enggan dan melampiaskannya keluar.

Tidak pasti berapa lama perjalanan dari Bener Meriah menuju Bireuen, kami pun tiba di RS Dr. Fauziah Bireuen. Sepertinya kami di ruang UGD. Seisi ruang adalah sosok-sosok yang kukenal. Ya! Mereka adalah teman-temanku.

Syahril mempersilahkanku duduk di atas tandu oranye, karena sudah tak ada lagi tempat tidur. Aku melihat seorang temanku, Iqbal, mengigau setengah sadar karena kesakitan di atas tempat tidurnya. Temanku Ovi, yang Alhamdulillah tidak terluka parah, membantunya kembali tenang. Beberapa temanku yang lainnya tidak sadar. Kemudian, 2 orang perawat menghampiri dan menanyakan keadaanku. Mereka menyuruhku berbaring. Diduga tulang lenganku patah, mereka mulai memotong baju di sisi lengan dengan gunting,  lalu mengikatnya dengan kayu seukuran tanganku. Aku tidak berkata apapun selain mengeluh akan sakit.

Seorang dokter pria melewatiku. “Sementara nyaman kan disini?” ia bertanya khawatir karena aku berbaring di  atas tandu. Aku mengangguk pelan. Kondisi teman-temanku tidak lebih baik dariku, jadi mereka lebih berhak mendapatkan tempat tidur. Tiba-tiba, rasa sakit di bahuku kembali hadir. Bahkan sampai ke kepalaku. Kuraba kepalaku, ada luka di bagian kiri atasnya, tetapi tidak begitu dalam. Kuraba pula wajahku, kelopak mata kiriku juga luka. Meninggalkan sedikit darah yang mulai kering. Tersadar, kami terguling ke jurang langsung dari sisi kiri jalan. Pantas saja, dari kepala hingga kaki kiriku kesakitan.

Sebuah tempat tidur dengan seorang Bapak paruh baya diatasnya melewati koridor dan berhenti sesaat tepat di samping kananku. Aku mengenalnya. Beliau adalah Pak Supir. Kondisi beliau sangat parah. Ada tabung oksigen seukuran tabung gas biru dirumahku, yang dibawa bersamaan dengan tempat tidurnya. Tangan kiri beliau yang tepat berada di depan wajahku, mengeluarkan cairan darah beku, hijau kebiruan. Aku tak bisa menangis karena rasa terkejutku lebih besar dan baru beberapa saat yang lalu aku mengingat beliau di sela-sela amnesiaku. Kemudian, beliau dibawa ke ruangan lainnya. Aku berdoa semoga beliau tetap selamat (hidup) dan segera pulih.

Nanda datang menghampiri. Aku bersyukur pada Allah, Nanda sehat-sehat saja. Nanda bolak-balik membantu teman-teman lain jika membutuhkan sesuatu. Nanda pun selalu ada di dekatku, ia selalu menemani. Nanda menanyakan padaku apakah aku sudah mengabarkan kondisi kepada keluarga, aku menggelang pelan. Aku menjelaskan padanya, menandakan tidak ingin mengabari. Aku takut nantinya menangis saat mendengar suara Ayah dan Ummi, dan hal itu semakin membuat mereka susah dan panik. Nanda memaksa halus dan meminta ia  yang menelepon. Kuhela nafas panjang, mengiyakan. Kusarankan orang yang ditelepon adalah kakakku. Kukira itu lebih baik.

Ternyata tidak. Kakakku justru mengira kondisiku sangat parah hingga harus orang lain yang mencoba menghubungi. Ya Allah… Aku pun berbicara langsung dengannya dan menenangkannya bahwa aku baik-baik saja. Beberapa menit kemudian, orangtua dari abang iparku tiba. Disusul oleh beberapa kerabat lainnya. Sebagian dari mereka tidak diizinkan masuk karena ruang UGD sudah sangat penuh. 1 pasien diizinkan ditemani oleh 2-3 orang saja. Sepupuku kemudian mengambil fotoku atas permintaan Ayah. Disaat yang sama, dari kejauhan, tampak beberapa orang seperti wartawan sedang mencari informasi mengenai nama-nama korban kecelakaan. Setelah itu, seorang dokter membawaku ke ruangan lain. Tubuhku akan discan untuk melihat cedera di bahu kiriku.

Alhasil, tulang lengan dan bahuku tidak patah. Namun, tulang bahuku yang horizontal bergeser 2 cm ke atas, dan tulang lenganku yang vertikal pun ikut bergeser ke atas. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku masih harus bersyukur. Alhamdulillah. Setelah itu, aku dan kerabat diantar ke ruang rawat inap dinamai Ruang Saraf yang masih kosong. Untuk pindah dari 1 tempat tidur lainnya, aku harus dibopong oleh kerabat dan dokter. Saat itu, bahuku serasa mau copot!

Ada 8 tempat tidur di ruangan itu. Aku memilih di dekat dinding, berharap nantinya bisa bersandar. Nihil! Menggerakkan kakiku saja sulit. Apalagi tubuhku. Aku menanti teman-temanku yang lain. Dengan harapan, mereka semua masih hidup, apa dan bagaimanapun kondisinya. Mereka harus bertahan hidup! Alhamdulillah, takdir Allah sesuai dengan harapanku.

Selimut malam membuka langit kelam. Seperti kelamnya hatiku dengan setumpuk tanya dan rasa gundah, berharap masih banyak jawaban yang disuguhkan untukku. Semilir angin AC menerpa wajah. Perlahan mendinginkan luka di mata dan kepalaku.

Beberapa teman mulai memasuki ruang rawat inap yang sama denganku. Amri tampak membaik. Reza pun tampak sehat. Mereka mengolok-olok ingatanku dengan menanyakan “kuliah dimana Vi? Jurusan apa? Udah wisuda?” dengan nada mengejek sambil tertawa. Aku hanya tersenyum kecil, tidak menjawab. Bisa kulihat dari raut wajah mereka, masih ada shock akan kejadian hari ini, tentu saja. Mereka duduk menemani sambil membaca berita-berita hoax mengenai kecelakaan ini di Instagram. Amri berusaha mengklarifasikan satu persatu berita ini dengan bijak.

 

Tengah malam….

Tempat tidur di sisi kananku ditempati Fajar, sedangkan lurus didepan kakiku adalah Nur. Kami bertiga tidak bisa tidur meski malam sudah larut. Baru sadar, siang tadi kami meminum Americano. Saat menyadari efeknya, kami tertawa bersama dan menyalahkan si Americano.  Suntikan bius dan infus masih kalah dengan minuman khas Gayo ini.

Sungguh bahagia hati ini tatkala hadir sebuah kebahagiaan dengan berbagi kecerdasan, kepekaan sosial dan keceriaan, tak mengenal usia, jenis kelamin, asal, ras, asalkan hati mampu terpaut dalam sebuah makna. Suatu pertemuan bermula dari organisasi tingkat Fakultas, yang tak pernah ada sesal meski kadang harus mengorbankan jam kuliah. Dan tak ada perasaan sia-sia meski pernah dijerat dengan kesalahpahaman dan pertengkaran kecil dalam pertemuan. Namun, itu semua hanyalah masalah biasa yang harus dinonaktifkan. Sebab jalinan ini merupakan sebuah jalinan kompleks yang tidak mengenal masa aktif. Selama hayat masih dikandung badan, selama nafas masih berhembus dan selama masih ada cinta yang tak pernah pudar dalam jiwa dan lubuk hati masing-masing.

Tak peduli dengan ingatanku yang masih belum sempurna, aku memanjatkan syukur pada Allah tiada henti. Kami semua masih hidup. Aku sempat tidur beberapa waktu. Sebelum tidur, ku berdoa dan berharap esok akan ada kabar baik menghampiri, menyeimbangi kabar buruk hari ini, dan menghadirkan satu persatu hikmah dibalik kejadian ini.

Audzubillahi minasy syatihaanirrajim. Bismillahirrahmaanirrahim.

Ya Allah.. Dzat Yang Maha Agung. Berikanlah kami kekuatan dan ketabahan dalam mengarungi dunia-Mu, tunjukkanlah jalan lurus-Mu agar kami mampu bertahan hidup, curahkan kasih sayang-Mu agar kami  bisa mencurahkannya pada hamba-Mu yang lain. Berkahilah setiap langkah kami Ya Allah Yang Maha Pemberi Berkah… Hanya pada-Mu kami bersimpuh dan berserah diri…

Ya Allah… Yang Maha Mengabulkan Doa… kabulkanlah doaku… Amin..

…….

(Selesai tidak selesai, saya selesaikan ceritanya disini… 🙂 )

Terima kasih Ayah, karena saran Ayah aku pun mempersembahkan kisah yang bergelut kasih ini. Judul kisah ini pun Ayah hadiahkan.

Mohon maaf pembaca yang terhormat, ada beberapa potongan cerita yang sampai sekarang tidak bisa diingat. Selayaknya sinetron, dimana aktor/aktris yang amnesia sakit kepala bahkan pingsan ketika ingatannya kembali, aku pun begitu. Meskipun tidak sampai pingsan. Jadi, yah… ingatanku selayaknya trailer film-film Barat, yang menampilkan sedetik-dua detik cuplikan inti dan klimaks.

Aku mengalami amnesia retrograde, yaitu kondisi kehilangan memori, ingatan dan informasi jangka pendek yang terjadi tak lama setelah kejadian traumatis. Ingatanku hanya sampai Agustus 2016. Setelah itu sampai Januari 15 Januari 2017, aku tidak begitu mengingatnya.

Ini adalah bagian cerita yang tidak kuingat, bahkan sampai saat ini, sampai saat aku menulis ini, 15 Januari 2018.

Berdasarkan cerita yang kuketahui dari teman-temanku, aku, Nur, Galih dan Pak Kernet masih berada di bus hingga bus berhenti terguling. Aku berjalan keluar dari kaca jendela pintu masuk bus bagian depan, sembari mengabaikan panggilan Nur, untuk membantu menyelamatkan Galih yang terjepit lehernya dengan besi jendela bus (tentu saja, aku tidak sengaja, karena saat itu aku tidak bisa mendengar dan merasakan apa pun, pun tidak ingat). Aku duduk di luar menatap air tanpa tau beberapa temanku memanggilku dari kejauhan, karena khawatir melihat wajahku tanpa ekspresi (seperti kehilangan arwah, kata mereka). Sementara temanku yang lain, terpental keluar melalui jendela yang kacanya pecah.

Beberapa saat setelah kecelakaan, roda bus mengeluarkan asap. Teman-temanku mulai menyingkir menjauh, takut bus akan meledak nantinya, sementara Pak Kernet masih berada di dalam bus, terjepit kakinya.

Beberapa warga setempat mulai berdatangan membantu sekitar setengah jam setelah kecelakaan terjadi. Warga juga melihat asap yang keluar dari bus, sehingga mereka bergegas memindahkan kami jauh dari bus. Setelah sampai di atas (jalan), beberapa dari kami duduk di sebuah pondok kecil dan beberapa lainnya di depan toko kayu.

Hingga saat ini, Alhamdulillah, segala puja dan puji bagi Allah, kami semua masih hidup. Hatiku masih diliputi rasa sedih yang mendalam. Hingga aku menciptakan kata demi kata, aksara demi aksara dari jari dan keyboardku yang beradu demi menghasilkan sebuah karya yang tidak terlalu bernilai ini, tanpa izin terlebih dahulu dariku, setetes butiran bening melewati pipi hangatku dan musnah di ujung daguku.

Feb 22

BUKAN BERCANDA DENGAN MAUT (part 2)

Takengon, Sabtu, 14 Januari 2018.

Beberapa menit sebelum memasuki waktu Shubuh..

Nanda adalah orang yang pertama bangun dari tidurnya di antara kami, lalu aku menyusul. Aku tak tau pasti pukul berapa, yang pasti aku harus mandi dan Shalat Shubuh. Air di kamar mandi sangat luar biasa! Luar biasa dingin! Hingga membuat wajah dan tangan kami pucat begitu selesai mandi. Akibatnya, gejala atshma ku kambuh! Ya, penderita asthma sangat sensitif terhadap perubahan cuaca yang ekstrim. “Tidak boleh terlalu panas, dan tidak boleh terlalu dingin!” begitu petuah yang sering kudengar tentang orang dengan riwayat Atshma. Alhamdulillah, ini masih gejala. Aku tidak benar-benar sesak napas, sehingga Ais yang tadinya sempat panik melihatku mencari-cari Inhaler Ventolin Salbutamol (sejenis obat spray-hirup untuk penderita gangguan pernapasan), akhirnya merasa lega, sama sepertiku.

Sesekali ku intip keluar jendela, berharap mentari mulai mengecup ujung atap rumah, membuka pagi dengan kehangatan. Kecewa tak ada sinar mentari, aku pun membereskan tempat tidur.

Singkat cerita, setelah sarapan bersama, kami mulai mengatur rute perjalanan. Rute wisata dimulai dari Goa Putri Pukes, yang terletak di kaki bukit Kecamatan Kebayakan. Aku mendengar legenda mengenai Putri Pukes ini saat kelas 1 SMA. Saat itu seorang temanku bercerita bahwa Putri Pukes dikutuk menjadi batu karena tidak mengindahkan amanah orangtuanya. Orangtua Putri Pukes berpesan bahwa saat pergi dari rumah (setelah Putri Pukes menikah dengan keluarga Kerajaan), jangan sesekali melihat ke belakang. Namun, Putri Pukes melanggarnya. Temanku yang lain juga bercerita bahwa Putri Pukes tidak langsung menjadi batu, namun saat itu disambar petir hinggga tubuhnya menghitam, mengeras, dan menjadi batu. Benar atau tidak? Entahlah.. legenda tetaplah legenda. Biarlah ia menjadi warisan cerita rakyat yang dapat diambil pesan moralnya oleh generasi mendatang.

Sayang 1000 kali sayang, tiba di lokasi, pintu masok goa tertutup. Belum dibuka, atau memang tidak buka hari ini. Pintu masuk goa ini kira-kira setinggi 1,5 meter. Untuk menimpa rasa kecewa, kami berfoto bersama dihadapannya. Setelah dirasa cukup untuk mengambil foto, perjalanan pun kami lanjutkan menuju Ujong Paking.

Bus berjalan pelan di sebuah lokasi yang tampak sepi pengunjung, hanya ada beberapa orang saat itu. Kami tiba di Ujong Paking. Tempat wisata seluas 7 hektar ini berada tepat di sekitar Danau Laut Tawar. Sebelum tiba di lokasi, dari dalam bus, kami sudah mampu melihat bagaimana menakjubkannya Danau Laut Tawar. Biru elektrik warna air yang dipantulkan dari biru langit dan kerjernihan airnya yang memantulkan gunung dan awan putih, meninggalkan decak kagum. Refleksi yang dipantulkan nyaris sempurna! Sepanjang jalan hingga tiba ke lokasi, kami masih takjub dengan tidak berhenti menyebut Allah karena KuasaNya.

Cuaca saat itu mulai panas. Mentari sangat bersemangat memancarkan kehangatannya pagi ini. Kami tiba di lokasi dengan perasaan bahagia. Landscape view yang luar biasa indah, hangatnya matahari memantulkan gelombang warnanya, udara bersih dan sejuknya pepohonan yang tumbuh rapi, warna warni bunga yang memukau, kami nikmati bersama. Sebagian dari kami menyipitkan mata karena silau matahari, sebagian lainnya mempersiapkan pose terbaik untuk diabadikan melalui lensa kamera. Di ujung yang bersisian dengan pepohonan, ada sebuah bangunan kosong yang tampak seperti aula. Pemandangan dari aula ini juga sangat indah, seperti pemandangan yang pernah kulihat di Google Images mengenai musim panas di Kyoto, Jepang, rasanya tak kalah indah.

Kami berpencar untuk menikmati setiap sudut pemandangan. “Takengon rasa New Zealand”, ujarku pada teman-temanku. Padahal aku belum pernah ke New Zealand. Haha. Aku pernah beberapa kali melihat video padanan laut biru jernih dan pegunungan hijau semerbak di negeri madani nomor 1 di dunia itu, melalui YouTube.

Tak jauh dari aula, ada jalan menurun untuk melihat lebih dekat ke Danau Laut Tawar. Sebagian teman berjalan turun. Perjalanan menurun ini lumayan jauh. Aku dan temanku masih di bagian atas, duduk sejenak menikmati pemandangan usai berfoto. Temanku Fajar, memainkan gitar akustik barunya. Pas sekali! Aku dan Fajar menyanyikan lagu “Perfect” oleh Simple Plan. Setelah itu, kami menyusul teman lainnya ke area bawah, untuk melihat lebih dekat keindahan refleksi Danau Laut Tawar. Jalan menurun ini penuh liku sehingga rasanya masih sangat jauh untuk sampai ke area Danau Laut Tawar. Jalan dengan paving block ini ditumbuhi rumpun bambu  kuning yang menambah kesejukan jalan, sehingga meski jauh dan berliku, cahaya matahari saat itu tidak menyengat. Dari sini, kami juga bisa melihat sebuah desa dibawahnya. Desa ini adalah desa wisata Kelitu.

Cukup lama kami berada di Ujong Paking, karena lokasinya yang luas, dan sangat banyak titik pemandangan indah yang bisa dijadikan latar belakang foto yang tak kalah indah. Kata-kata tak cukup mendeskripsikan bagaimana menakjubkannya matahari menyilaukan gemericik air yang diganggu angin. Bahkan kamera secanggih apapun tak cukup bagus menangkap seluruh gelombang warna pemandangan ini, tak secanggih kornea. Aku benar-benar takjub. Kulihat teman-teman sangat bersemangat berkumpul dan berfoto hingga kelelahan. Namun, tak ada seorang pun yang menyarankan untuk beranjak ke wisata lain, karena sudah sangat nyaman aka PW (Posisi Wuenak :p) di tepi Danau Laut Tawar ini.

Setelah berlama-lama memanjakan mata dan jiwa di Ujong Paking, kami beranjak untuk pergi ke lokasi wisata lainnya, yaitu Air Terjun Mengaya. Seperti namanya, air terjun ini terletak di Desa Mengaya, Kecamatan Bintang, tepatnya di kaki Gunung Burni Kelieten. Jalan masuk ke air terjun sangat sempit, sehingga tidak dapat dimasuki bus. Kami memutuskan untuk berjalan kaki. Seorang temanku, Fajar, yang pernah kesini sebelumnya, tidak ingin ikut dengan alasan yang tidak begitu jelas. Namun, ia dengan semangat menyarankan kami untuk berjalan ke lokasi air terjun. “Jalannya cuma 10 meter kok! Disana ada mushalla dan kamar mandi,” kata Fajar menjelaskan. Kami mengangguk percaya. Hingga anggukan kepercayaan kami berubah menjadi keluhan plus omelan karena ternyata, perjalanan menuju air terjun bukan 10 meter, tetapi sekitar 1500 meter! Sama dengan 1,5 kilometer! Rasanya, ketika kembali nanti, kami ingin membully Fajar habis-habisan.

(-_-)

Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan oleh pesona kehijauan alami yang sebagian besar masih belum dijamah oleh manusia. Selain persawahan yang hijau, kami melewati puluhan hektar hutan pinus. Dan tampaknya, aku juga melihat puluhan bahkan ratusan hektar kebun kopi, meski tidak yakin (akibat rabun jauh dan saat itu aku tidak menggunakan kaca mata). Jadi, meskipun kelelahan berjalan jauh, alam menghibur kami agar tidak kebosanan.

Untuk menuju lokasi air terjun ternyata tidak mudah. Kami harus berjalan menanjak ratusan meter lagi karena seperti biasa, air terjun terletak di balik perbukitan. Sebelumnya, kami bertemu beberapa masyarakat setempat dan membayar biaya masuk sebesar 3000 rupiah per orang. Dari sini, kami sudah bisa mendengar hentakan air dan sejuknya udara, membuat kami semakin bersemangat menantang batu-batu dan jalan berliku.

Akhirnya, rasa lelah selama perjalanan “tipuan” tadi terbayarkan. Setelah melewati jembatan kayu sekitar 3 meter, kami tiba di tepat dihadapan Air Terjun Mengaya.  Airnya sangat dingin, menusuk tulang. Pepohonan di sekitarnya seperti tau bahwa kami sangat bahagia. Kalian boleh menganggapku gila, karena saat itu aku merasa bahwa pepohonan hutan tropis di sekeliling air terjun seperti menyambut kedatangan kami dan tersenyum saat kami tiba dan menikmati nuansa teduh disana. Mereka seperti hidup, selayaknya pepohonan di film Narnia. Lagi, aku takjub dan menyebut asma Allah. Dan lagi, kami berfoto bersama, bergantian mengambil lokasi tepat disisi deburan airnya.

Waktu menunjukkan sudah saatnya shalat Zuhur. Kami tidak menemukan kamar mandi dan mushalla disana. “Fajaaaaaar!” kami kembali menggerutu dengan apa yang Fajar janjikan sebelumnya, berakhir dengan omelan panjang. Mungkin, karena inilah ia tidak ikut ke dalam dan memilih tinggal di dalam bus. Akhirnya, beberapa teman memutuskan wudhu di air terjun, kemudian shalat di atas bebatuan alami nan lebar di dekatnya.

Kami kembali menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki menuju bus. Tiba di bus, kami langsung mengutuk Fajar. Fajar hanya tertawa innocent. Lalu mengaku bahwa karena itulah dia tidak ikut.

Kami beranjak menuju tempat makan untuk makan siang. Tiba di tempat makan, sebagian teman lainnya shalat Zuhur di mushalla. Sembari makan, kami bermusyawarah mengenai kegiatan selanjutnya. Keputusan akhirnya adalah bakar-bakar jagung dan kentang di sebuah pondok yang terletak di tepi Danau Laut Tawar.

Tiba di pondok, mata kami tak bosan memandang danau kebanggaan masyarakat Aceh Tengah ini, meski pun hari sudah mulai gelap.  Pondok ini seperti rumah panggung, dimana dua pondasi depannya menancap langsung di tepi danau. Agak ngeri ketika kuintip ke bawah. Tetapi karena ini bukan laut, dan tidak ada ombak, kurasa tidak akan ada masalah. Kami tiba disana dalam keadaan setengah basah, karena awan Cumulonimbus menutup matahari, mengguyur hujan.  Kami shalat maghrib terlebih dahulu, barulah memasak.

Asap mengepul memenuhi seluruh pondok. Aku yang mengidap asthma langsung menghindar dan keluar ke balkon kecil, memandang kegelapan dan ketenangan alam. Ada bangku panjang di balkon. Tepian balkon juga bisa diduduki, namun harus berhati-hati, jangan sampai jatuh dan tercebur ke danau. Hujan masih membasahi hingga waktu Isya tiba. Setelah shalat Isya, sambil menikmati kentang dan jagung bakar, aku bermain gitar akustiknya Fajar dan menyanyikan beberapa lagu sebelum pulang dalam keadaan hujan deras.

Alhamdulillah, kami tiba di rumah (penginapan) dengan selamat. Sebelum tidur, benakku berpikir dan merenung. Hari ini luar biasa mengagumkan. Sehari saja tafakkur alam membuatku terpana. Esok hari kami akan kembali. Mempersiapkan segudang cerita indah tanpa imajinasi.

Meskipun ternyata, ujungnya tak seindah pikirku..

Sesuatu yang pekat menanti, menunggu waktu..

(to be continued….)

Feb 22

ISLAM DI AFRIKA TIMUR, ASIA TENGGARA, CINA DAN AMERIKA SERIKAT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan Islam di beberapa wilayah di dunia menjadi suatu hal yang menarik untuk dipelajari dan dikaji lebih lanjut. Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, ajarannya semakin lama semakin menyebar dan meluas ke berbagai wilayah hingga saat ini, termasuk wilayah Afrika Timur, Asia Tenggara, Cina dan Amerika Serikat (yang akan dibahas pada makalah ini). Di Afrika Timur, Islam tersebar melalui negara Mesir (yang merupakan salah satu Negara di Afrika Utara). Sementara di Asia Tenggara, Islam disebarkan melalui jalur perdagangan yang damai, dakwah para da’i India dan Arab, serta melalui peperangan dengan Negara penyembah berhala.
Kemudian, Negara Cina, sebagaimana yang kita ketahui juga bukan merupakan Negara Muslim, namun Islam lebih dahulu masuk ke Cina bila dibanding dengan Indonesia. (Muhsin, 2007). Islam masuk ke Cina pada masa Dinasti Tang melalui jalur perdagangan (darat dan laut), hingga menyebar melalui pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).
Selanjutnya, di AS, Islam hadir pada abad ke-18 dan 19, bersamaan dengan Muslim Afrika yang masuk dari pantai barat Afrika yang didatangkan untuk perbudakan. Karena faktor perbudakan, maka Islam baru mulai tersebar di AS pada pertengahan abad ke-20 saat imigran baru Muslim tiba di AS. Namun dewasa ini, berita masuknya masyarakat AS ke dalam Islam, menjadi suatu hal yang menggembirakan, karena pembangunan masjid dan pusat kajian Islam di Amerika semakin banyak sehingga eksistensi Islam di negeri Paman Sam ini semakin kuat dan Muslim di Amerika dapat mempelajari Islam dengan baik.
Sejarah perkembangan masuknya Islam di 4 wilayah ini menjadi hal yang sangat penting untuk dipelajari, mengingat sangat banyak opini buruk mengenai Islam, seperti adanya istilah Islamphobia (phobia terhadap Islam), Islam sebagai agama teroris, dan sebagainya. Maka, makalah ini disusun untuk dapat mengkaji lebih lanjut sehingga dapat menambah wawasan dan diharapkan dapat menambah keimanan dan keyakinan kita akan agama Islam sebagai agama yang sempurna, agama yang datang dengan damai dan rahmatan lil ‘alamin.

1.2 Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang dapat dirumuskan dalam makalah ini sebagai berikut.
1. Bagaimana sejarah perkembangan Islam di (Sudan) Afrika Timur, Asia Tenggara, Cina dan Amerika Serikat?
2. Bagaimana kondisi Islam di Afrika Timur, Asia Tenggara, Cina dan Amerika Serikat saat ini?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut.
1. Membahas mengenai sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Sudan, Asia Tenggara, Cina dan Amerika Serikat.
2. Membahas mengenai kondisi Islam saat ini, baik di Sudan, Asia Tenggara dimana terdapat Negara dengan mayoritas dan minoritas Muslim, Cina dan Amerika Serikat.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Islam di Afrika Timur
A. Sejarah Masuknya Islam ke Afrika Timur
Pada abad ke 10 sampai abad ke 19, Afrika Timur hanya mencakup Sudan, Ethiopia dan Somalia. Pada abad ke 20, Negara ini tidak mengalami banyak perubahan, kecuali adanya Negara-negara lain yang tergolong dalam kawasan Afrika Timur dan adanya wilayah yang memisahkan diri dari Ethiopia setelah bencana kekeringan dan kelaparan, yaitu Eriteria. Saat ini, Negara-negara yang tergolong ke dalam Afrika Timur yaitu Burundi, Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Kenya, Madagaskar, Malawi, Mozambik, Rwanda, Somalia, Sudan Selatan, Tanzania, Uganda, Zambia, Zimbabwe. Akan tetapi, makalah ini hanya akan membahas sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Negara Sudan.
Dalam sejarah, Sudan Timur (yang merupakan Sudan saat ini) berpisah dengan Sudan Tengah. Islam masuk dan berkembang di Sudan Timur melalui orang-orang Mesir dan Arab. Bangsa Arab pertama kali menguasai Mesir pada tahun 641 M. Kemudian, migrasi Arab pertama untuk mendiami Mesir terjadi pada abad ke 9 M. Pada abad ke 12 dan ke 13, migrasi Arab Badui meningkat. Mereka berbaur dengan penduduk local yang terkenal dengan nama suku Funj. Pemimpinnya bernama Amara Dunqas yang mengalahkan sebuah kerajaan Kristen di Alwa pada tahun 1504, sehingga wilayah tersebut kemudian menjadi ibukota Kerajaan Funj dan diberi nama kota Sinnar.
Di sebelah utara wilayah Kerajaan Funj berbatasan langsung dengan masyarakat Arab-Muslim. Mereka kemudian mengadakan hubungan perdagangan dengan menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa persatuan, sehingga dokumen-dokumen kenegaraan pun ditulis dan disusun menggunakan Bahasa Arab. Kerajaan Funj menjaga stabilitas ekonomi dalam hal perdagangan emas. Hal ini menyebabkan jumlah pedagang asing yang masuk ke dalam wilayah Kerajaan Funj semakin banyak jumlahnya. Migrasi para ulama dan orang-orang Muslim mulai mempengaruhi komunitas perdagangan dan pemikiran para penguasa kerajaan.
Seiring waktu, kemajuan Kerajaan Funj menarik perhatian para ulama Mesir, Afrika Utara dan Arab yang menyandang predikat keahlian dalam Islam, seperti ahli fikih, tasawuf dan Al Quran. Para ulama memiliki pengaruh yang kuat karena kemampuan mereka dalam bernegosiasi dan mengkritik penguasa. Mereka mendirikan tempat-tempat pendidikan untuk mengajarkan Al Quran, hokum dan teologi kepada para pemuda sejak dini.
Pada abad ke 18, kerajaan-kerajaan lokal memperoleh otonomi sehingga para sultan pun juga kehilangan kekuasaan kontrolnya terhadap perdagangan. System perkawinan yang berada di bawah naungan kekuasaan Kerajaan Funj ikut hancur. Hingga akhirnya, pada tahun 1820-1821, Kerajaan Funj tumbang karena dikalahkan oleh Arab-Mesir dan diperkenalkan administrasi Negara baru dan tendensi keagamaan Islam yang baru pula.
Maka, Islam di Sudan yang disebarkan oleh orang-orang suci dari Mesir dan Arab dengan pendekatan struktural dan kultural. Pendekatan struktural adalah melalui usaha secara politik. Dukungan structural berhasil menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa kearsipan, bahkan sultan membentuk administrasi peradilan Islam. Sementara pendekatan kultural diwujudkan dengan menyelenggarakan pendidikan agama di sekolah-sekolah dan masjid serta melalui pernikahan dengan warga setempat.

B. Islam di Afrika Timur Saat Ini
Tanzania, salah satu Negara di Afrika Timur saat ini, memiliki potensi besar untuk sukses sebagai Negara yang menerapkan keuangan Islam. Hal tersebut disampaikan Mr Muhammad Zubair Mughal, Chief Executive Officer of AlHuda Center of Islamic Banking and Economics di sela-sela upacara penutupan African Islamic Banking and Finance Road Show di Dar es Salaam, Tanzania (5/10/14). Kegiatan road show ini dilakukan di enam negara Afrika dengan tujuan mempromosikan keuangan Islam di benua Afrika.
Karena lanjut Mughal, perbankan dan keuangan Islam juga berkembang pesat di Nigeria, Libya, Afrika Selatan, Kenya dan Maroko. Sementara itu, Mesir, Sudan, Tanzania, Tunisia memang telah mengambil inisiatif yang baik di lapangan. Statistik terbaru menunjukkan bahwa total volume keuangan Islam di Afrika adalah 780 milyar USD atau kurang dari 5% dari keseluruhan asset industri keuangan Islam global.
Benua Afrika ini telah memiliki 96 bank Islam, 29 lembaga pembiayaan Islam, 31 lembaga keuangan Mikro Islam dan lebih dari 41 perusahaan asuransi syariah telah aktif beroperasi.

2.2 Islam di Asia Tenggara
A. Sejarah Masuknya Islam ke Asia Tenggara
Terdapat tiga pendapat mengenai kedatangan Islam di Asia Tenggara.
1) Pendapat yang menyatakan bahwa Islam datang ke Asia Tenggara langsung dari Arab. Pendapat ini dikemukakan oleh Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann (1861), de Hollander (1861) dan Veth (1878). Crawfurd menyatakan bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara berasal dari Arab, tepatnya dari Hadramaut. Keyzer berpendapat bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara berasal dari Mesir yang bermazhab Syafi’i. sedangkan Niemann dan de Hollander berpendapat bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara berasal dari Hadramaut karena kesamaan mazhab yang dianut, yaitu mazhab Syafi’i. Veth berpendapat bahwa Islam dibawa oleh orang-orang Arab tanpa menyebut daerah asalnya. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Hamka yang menyatakan bahwa Islam datang ke Asia Tenggara tepatnya ke Indonesia langsung dari Arab, bukan melalui India, dan bukan pada abad ke-13, tetapi pada abad ke-7.
2) Pendapat yang mengatakan bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara melalui India. Pendapat ini pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel pada tahun 1872. Ia berkesimpulan bahwa yang membawa Islam adalah orang-orang Arab yang bermazhab Syafi’I dari Gujarat dan Malabar di India. Pendapat ini kemudian dikembangkan oleh Snouck Hougranye. ia menyatakan bahwa para pedagang Kota Pelabuhan Dakka di India Selatan adalah pembawa Islam ke Asia Tenggara, tepatnya ke Sumatera, Indonesia. Pada tahun 1951, Morrison mengembangkan hal ini dengan berpendapat bahwa pantai Koromandel merupakan pelabuhan tempat bertolaknya para pedagang Muslim dalam pelayaran mereka menuju Nusantara.
3) Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Asia Tenggara melalui Benggali (Bangladesh saat ini). Azra mengutip pendapat Tome Pires dengan mengungkapkan bahwa kebanyakan orang terkemuka di Pasai adalah orang-orang Benggali dan keturunannya. Namun, Drewes membantah pendapat ini dengan mengatakan bahwa mazhab yang dianut oleh orang-orang Benggali adalah mazhab Hanafi, bukan Syafi’i.
Islam didakwahkan di Asia Tenggara melalui 3 cara. Pertama, melalui dakwah pedagang Musllim dalam jalur perdagangan yang damai, kedua, melalu dakwah para da’i dan orang-orang suci yang datang dari India atau arab yang sengaja ingin mengIslamkan orang-orang kafir, dan ketiga melalui kekuasaan atau peperangan dengan Negara-negara penyembah berhala.

B. Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia
Teori pertama mengungkapkan bahwa agama Islam masuk ke nusantara
berasal dari Persia. Teori ini di dukung oleh kenyataan bahwa di Sumatra bagian
Utara (Aceh) terdapat perkumpulan orang-orang Persia sejak abad ke-15
marrison menguatkan teori pertama ini dengan dasar adanya pengaruh Persia yang
jelas dalam kesusateraan Melayu.Kedatangan ulama besar bernama Al-Qadhi
Amir Sayyid Asyirazi dari Persia di kerajaan samudera Pasai ikut juga sebagai
pengamat dan penegas teori Persia.
Teori kedua berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Nusantara berasal
dari Negara India. Snouck Hurgronje (Belanda) misalnya mengungkapkan bahwa
agama Islam masuk ke Indonesia berasal dari kota Dakka, India.Walau berbeda
dengan Snouck Hurgronje, ahli sejarah lain yaitu Pijnappel dan Moquette yang keduanya juga dari Belanda, berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia
berasal dari Gujarat dan Malabar, India. Pembawanya adalah orang Arab yang
telah lama tinggal di Wilayah tersebut. Penggagas teori kedua ini mendasarkan
penelitiannya pada kesamaan madzhab yang dianut oleh Muslimin di
Indonesia dan di Gujarat.
Teori ketiga menurut sejarawan Keijzer memiliki analisis yang
berbeda. Menurut nya, agama Islam masuk ke Nusantara dibawa oleh masyarakat Mesir. Ia mendasarkan teorinya pada kesamaan madzhab, yaitu madzhab
Syafi’iyah.Sementara itu ,Niemann dan de Holander menyatakan Hadramaut
sebagai tempat Islam berasal.Pada umumnya,para ahli di Indonesia setuju teori
Arab ini.
Berdasarkan hasil seminar Nasional masuknya Islam ke Nusantara yang diadakan tahun 1969 dan tahun 1978 ,mereka menyimpulkan bahwa agama Islam
masuk ke Nusantara pada abad VII M dan langsung dari tanah arab.Daerah yabg
pertama kali disinggahi adalah pesisir Sumatera.Agama Islam disebarkan oleh
para saudagar muslim yang juga bertidak sebagai muballigh,dan dilakukan dengan
cara damai.
Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan
kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak di
anut oleh bangsa Indonesia bahkan di berbagai wilayah kepulauan Indonesia telah
berdiri kerajaan bercorak hindu dan budha, misalnya kerajaan Kutai di
Kalimantan Timur, kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan sebagainya. Namun Islam
datang ke wilayah-wilayah tersebut dan dapat diterima dengan baik, karena Islam
datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting adalah
masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimat syahadat
dan tidak ada paksaan

C. Islam di Asia Tenggara Saat Ini
Kedudukan Umat Islam saat ini di Asia Tenggara berbeda-beda. Secara umum, dapat dikategorikan menjadi warga mayoritas, seperti di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam, serta warga minoritas seperti di Singapura, Thailand dan Filipina. Karena sebagai besar agama yang dianut oleh warga Thailand adalah Budha, sementara di Filipina mayoritas warganya menganut agama Katolik.
Namun, beberapa tradisi keagamaan Islam yang ada di Asia Tenggara memiliki beberapa kesamaan. Di Malaysia, hingga saat ini masih ada tradisi mistik dan praktik sufi seperti ibadah malam di daerah pedalaman, pengasingan diri dan zikir. Hal ini pun menyerupai tradisi yang ada di Indonesia. Namun, tradisi ini tidak terdapat di Singapura. Latar belakang masyarakat Singapura yang hidup di lingkungan industrial dan komersial tampaknya memiliki pengaruh yang membuat Muslim Singapura berpikir dan bersikap rasional.
Kini, ada sebuah organisasi hukum Islam di Asia Tenggara yaitu South East Asia Shari’a Law Association, yaitu Perhimpunan Ahli Syari’ah se-Asia Tenggara. Organisasi ini didirikan pada tanggal 11 Agustus 1983 di Manila, Filipina dan dibentuk untuk kepentingan umat Islam secara umum.

2.3 Islam di Cina
A. Sejarah Masuknya Islam ke Cina
Islam masuk ke negeri Cina menurut catatan sejarah yaitu pada masa Rasulullah Saw masih hidup, tepatnya pada akhir masa Dinasti Sui atau menjelang berdirinya Dinasti Tang (Abad ke 7), Pada awalnya dibawa oleh saudagar Arab yang datang di sekitar Bandar Kanton (Guang Dong) dan Bandar Quanzhou (bahkan sampai sekarang masih ada keturunan Arab tinggal di kota ini dan banyak makam para ulama Islam Tionghoa keturunan Arab di kota Quanzhou tersebut).
Kedatangan Islam di Cina dapat ditelusuri melalui dua jalur perdagangan, pertama-tama melalui jalur laut/jalur lada, kemudian melaui jalur darat/jalur sutra. Pada abad ke-6 perdagangan antara Arab dan Cina sangat berkembang. Sementara itu pada abad ke-7, perdagangan segitiga antara Arab, Cina, dan Persia semakin berkembang lagi. Periode ini bersamaan dengan Dinasti Tang di Cina (618-907). Dan pertama kali nama Arab disebut-sebut dalam sejarah Cina. Komunitas Muslim melalui jalur tersebut telah meningkat terus menerus melalui imigrasi, perpindahan agama dan perkawinan atau dikenal dengan istilah asimilasi budaya.
Selain itu, penyebaran Islam terjadi peningkatan secara besar-besaran ketika peristiwa An Shi, yaitu pemberontakan An Lu Shan terhadap Kaisar Hsuan Tsung pada masa Dinasti Tang (755 M). sehingga berdampak pada turunnya Kaisar Hsuan Tsung dan digantikan oleh putranya, Su Tsung. Setelah itu, Kaisat Su Tsung meminta bantuan kepada Khalifah Al Mansor, yaitu khalifah yang memimpin Dinasti Abbasiyah untuk mengirimkan pasukannya membasmi pemberontakan yang terjadi di Cina. Tak lama kemudian, Khalifah Al Mansor mengirimkan sejumlah pasukan umat Islam hingga berhasil membasmi pemberontakan tersebut. Sebagai ucapan terima kasih, Kaisar Su Tsung mengizinkan sebagian besar pasukan umat Islam yang tinggal menetap di Cina. Kaisar memberikan apresiasi kepada mereka dengan memberikan tempat tinggal dan mengizinkan untuk menikah dengan para wanita di Cina.

B. Islam di Cina Saat Ini
Di Cina saat ini, tanpa disadari kian waktu agama Islam tetap hidup dan berkembang pesat., jika dilihat dari jumlah penduduk Muslim di Cina yang kian bertambah dari tahun ke tahun. Statistik pemeritnah menunjukkan bahwa jumlah Muslim di Cina tidak kurang dari 14 juta orang, namun berita yang tidak resmi dari luar pemerintah menyebutkan bahwa umat Islam di Cina lebih dari 14 juta. Kemudian, Imam Dawud Shin Kunbin mengatakan bahwa pada tahun11953, 1000 orang lebih dari Cina melaksanakan ibadah Haji
Di Lanzkou, di tepi Sungai Kuning, tempat asal kebudayaan Cina, sebuah masjid dan madrasah berdiri berdampingan dengan pagoda-pagoda Budha di tanah lapang Pagoda Putih. Di Xian, terdapat sebuah masjid agung yang merupakan masjid yang terbesar di Cina dan dipamerkan kepad apengunjung sebagai bagian dari peninggalan nasional Cina. Di Turpan, di pinggir padang pasir Gobi, para pemuda melakukan shalat di sebuah masjid yang menyerupai pavilion dinasti Qing.
Saat ini, umat Islam di Cina mendapatkan toleransi dari masyarakat selain umat Islam. Hal ini tampak bahwa daerah-daerah di Cina yang mayoritas penduduknya Islam, ternak babi dilarang. Selain itu, umat Islam di Cina juga memiliki tempat pemakaman sendiri, melakukan pernikahan di hadapan imam, adanya restoran-restoran yang menyediakan makanan halal dan para pekerja Muslim diizinkan untuk libur pada hari-hari besar Islam.
Selain memperoleh kebebasan dalam beragama, umat Islam juga dapat berpartisipasi dalam pemerintahan. Di wilayah Xinjiang misalnya, beberapa jabatan administrasi ditempati oleh Muslim. Imam Dawud Shin Kunbin sendiri adalah anggota Komite Tetap dan Badan Penasihat Politik Rakyat Kotamadya. Negeri tirai bamboo ini juga telah memberlakukan UU Otonomi Regional bagi Bangsa-Bangsa Minoritas, yang salah satu fungsinya adalah memberikan kebebasan beragama bagi umat Islam dan dapat berpartisipasi dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan.

2.4 Islam di Amerika Serikat
A. Sejarah Masuknya Islam ke Amerika Serikat
Sejarah Islam di Amerika Serikat bermula sekitar abad ke 16, dimana Estevánico dari Azamor adalah Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Amerika Utara. Walau begitu, kebanyakan para peneliti di dalam mempelajari kedatangan Muslim di AS lebih memfokuskan pada kedatangan paraimigran yang datang dari Timur Tengah pada akhir abad ke 19.
Estevánico dari Azamor mungkin telah menjadi Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Amerika Utara. Estevanico adalah orang Berber dari Afrika Utara yang menjelajahi Arizona dan New Mexico untuk Kerajaan Spanyol. Estevanico datang ke Amerika sebagai seorang budak penjelajah Spanyol pada abad ke 16, Álvar Núñez Cabeza de Vaca.
Selama tahun 1520-an telah didatangkan budak ke Amerika Utara dari Afrika. Diperkirakan sekitar 500 ribu jiwa dikirim ke daerah ini atau 4,4% dari total 11.328.000 jiwa budak yang ada. Diperkirakan sekitar 50% budak atau tidak kurang dari 200 ribu jiwa budak yang didatangkan berasal dari daerah-daerah yang dipengaruhi oleh Islam.
Ternyata sebelum kedatangan Christoper Columbus (yang katanya penemu benua Amerika), umat Islam sudah terlebih dahulu menemukannya. Sebuah fakta yang tak terbantahkan lagi jika umat Islam sudah lebih dulu berada di daratan luas yang kini bernama Amerika, jauh beberapa abad sebelum kedatangan Columbus yang meng-klaim sebagai penemu Amerika. Fakta yang paling gampang ditemui nama serupa dengan kota suci umat Islam seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, Medina di Texas yang paling besar dengan penduduk 26,000, Medina di Ontario Canada, kota Mahomet di Illinois, Mona di Utah, dan Arva di Ontario Canada, dan beberapa nama seperti California (Caliph Haronia), Alabama (Alah Bumnya), Arkansas (Arkan-sah) dan Tennesse (Tanasuh), T Allah Hassee (Tallahassee), Alhambra, Islamorada dan sekitar 500 nama kota lainnya berasal dari kata Arab.

B. Islam di Amerika Serikat Pasca Tragedi 911
Negara adikuasa ini mendeklarasikan kemerdekaannya pada 4 Juli 1776 ini, sejak saat itu Islam terus mengalami perkembangan. Sejak itu pula umat Islam di sana merupakan bagian masyarakat Amerika Serikat yang tidak terpisahkan, terus mengalami perkembangan.
Citra negatif terhadap Islam yang diberitakan di media massa Amerika sudah lama dikeluhkan umat Islam di Amerika. Keadaan seperti itu telah mendorong sebuah LSM Islam yang berkedudukan di Washington, Council on American-Islamic Relations (CAIR), meluncurkan kampanye yang mereka beri nama “Islam di Amerika” pada tahun 2003. Kampanye ini berupa pemasangan iklan disurat-surat kabar besar dan kecil yang berlangsung selama satu tahun. Direktur Komunikasi CAIR, Ibrahim Hooper, mengharapkan kampanye itu akan membantu mengubah citra Islam di Amerika.
Direktur Eksekutif CAIR Nīhad Awād, mengatakan kampanye ini diluncurkan setelah organisasi yang ia pimpin menerima puluhan ribu permintaan dari warga Amerika yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai Islam dan umat Islam dari tangan pertama. Ibrāhīm Hooper mengatakan kampanye itu ditujukan untuk menunjukkan bahwa Muslim Amerika adalah warga Amerika biasa, seperti warga Amerika lainnya. Mereka bekerja sebagai dokter, mahasiswa, ibu rumah tangga, sopir bis, pramuniaga atau lainnya. Direktur Eksekutif CAIR Nīhad Awād lebih lanjut mengatakan iklan itu menunjukkan kekuatan yang ditimbulkan karena keragaman rakyat Amerika, baik dari segi etnik maupun agama. Ia berharap kampanye iklan ini akan membantu rakyat Amerika mengerti lebih baik mengenai salah satu agama yang berkembang pesat di tengah-tengah mereka.
Umat Islam di Amerika dengan berbagai mazhab dan aliran bebas menjalankan ritual keagamaannya. Namun pasca 11 September 2001 hubungan Amerika Serikat dengan Islam “tidak harmonis”. Ketidakharmonisan hubungan ini, dilatarbelakangi oleh persepsi pemimpin-pemimpin Amerika terhadap dunia Islam secara negatif, dengan statemennya bahwa “Islam adalah agama teroris”. Padahal, statemen ini sungguh sangat keliru. Namun di sisi lain banyak pula masyarakat Amerika yang tetap mengakui bahwa Islam sejak kedatangan risalah-nya selalu mengedepankan hubungan harmonis dengan siapa saja dan kapan saja. Sehingga perkembangan Islam di Amerika Serikat terus mengalami perkembangan yang signifikan.
Citra Islam di Amerika Serikat secara global masih negatif. Ini diakibatkan adanya oknum yang mengatasnamakan umat atau kelompok Islam yang melakukan berbagai teror. Walaupun demikian, juga mempunyai hikmah yang signifikan dalam memperkenalkan Islam sebagai agama damai dan selalu mengajarkan perdamaian (peace). Jelasnya Amerika Serikat mempunyai harapan baru dalam pengembangan ajaran Islam yang komprehensif.

BAB III
PENUTUP
Agama Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin, artinya rahmat Allah yang tercurahkan kepada seluruh isi alam ini. Maka, tidak heran bahwa agama Islam terus berkembang pesat, jumlah umat Islam terus bertambah, terutama di kawasan yangtelah diuraikan sebelumnya. Sejarah masuknya Islam di kawasan ini sebagian besar berasal dari para saudagar Arab yang berdagang, meski pun di Amerika, dibawa oleh budak Afrika dan imigran lainnya.
Perkembangan Islam di kawasan ini pun tidak dapat dipungkiri semakin berkembang, dilihat dari jumah masjid, sekolah Islam dan pusat pendidikan Islam terpadu yang dibangun dan didirikan untuk kepentingan ibadah dan pendidikan umat Islam. Beberapa organisasi dan peraturan/undang-undang juga diberntuk untuk melindungi pemeluk agama Islam dan demi keamanan serta kenyamanan umat Islam di berbagai wilayah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hakim, Atang dan Mubarok, Jaih. 2004. Metodologi Studi Islam. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Amin, Surrahman. 2012. Islam di Amerika Serikat: Potret Perkembangan Dakwah Islam Pasca Tragedi 9 September 2001. Tasamuh. 4(1): 73-84.
Irfani, Fahmi. 2014 Perkembangan dan Peranan Umat Islam di Cina pada Masa Kekaisaran Dinasti Ming (1368-1644 M).
Ismail, Faisal. 2008. Perkembangan Islam di Amerika Serikat. Yogyakarta: Perpustakaan Digital UIN Sunan Kalijaga.
Suharso, Yudi. 2014. Tanzania Siap Jadi Hub Perbankan Syariah di Afrika Timur. http://mysharing.co/tanzania-siap-jadi-hub-perbankan-syariah-di-afrika-timur/
Sumarna, Elan. Dunia Islam di Afrika Timur (Sebuah Perbandingan Historis “Socio-Cultural” atas Pluralistisnya Nilai dan Budaya di Indonesia).

Feb 22

THE PERSPECTIVE OF A WOMAN AS A LEADER

(This is my interview project of English for Islamic Studies (EFIS). I interviewed Siti Aminah, S.Hum, who is one of the inspirational women from Aceh, also one of (women) leaders. Please make a citation or reference if you take some part of this interview report. Many thanks.. and enjoy!  )

 

Talking about the woman is never enough, especially about the woman as a leader. The feasibility and capability of woman to be a leader still much debated until now, whether woman is deserve to be a leader or not. Commonly, people debate over the status of woman as a leader in Islam perspective, or the eligibility in gender equality. In Muslim communities, woman is a sensitive issue in leadership position. Even though the reality has shown that women can compete with men, some people use religious reasons to block women’s abilities to take the roles in leadership.

Many of people stereotypes are obviously incorrect about women capabilities in leadership. In modern practice, Muslim women play many roles in society in the fields of religion, politics, science, medicine, education, and others. They prove that they actually received higher effectiveness ratings than men. They are smart, tough, powerful, and responsible, and these are proofs that women, will all their abilities, they deserve to be leaders and they can change the world.

Siti Aminah, a young talented girl, was a leader of SumberPost, a magazine of Islamic State University Ar Raniry, Banda Aceh.  She thought she deserved to be a leader because the members of SumberPost trust her. “The feasibility of a leader is not depend on what you rate for yourself, but it is depend on the view of others for yourself, whether we deserve to be the leader or not,” she said.

During the period of her leadership in SumberPost, her vision was reviving the cadre recruitment and the mission is making SumberPost as a learning event for students who have talents in the field of journalism, photography and so on by providing some training. Even not all activities were held, but her vision is completely success. “Talking about the organization, it is not possible to runs all activities by myself, it must embrace together with the other members. However, my vision and mission are appropriate, so that the result is regeneration. Alhamdulillah, up to now the SumberPost is still exist.”

Siti Aminah did not nominate herself to be a leader of SumberPost. She emerged as a candidate after the Great Forum of SumberPost. Moreover, viewing from the side of the constitutionally, she was not worthy of being a leader because the candidates are not allowed except from the Faculty of Dakwah, meanwhile she came from a Faculty of Adab. She did not even have the basic capabilities in the field of journalism. However, SumberPost had a vacuum for a few years. Then her leadership was restoring back the next generation of SumberPost.

She has a point of view about the perspective of a woman as a leader. “Actually, I also agree that women can’t become leaders. Because many elements of consideration such as the weakness owned by women than men. However, in the urgent situation, why isn’t woman served as a leader? In the context of the selection of the SumberPost leader, there are no men who were brave and ready to be a leader (at that time), then I asked to be the leader. Imagine, when all of us were not ready, then who will continue the relay of leadership? It is precisely, if women have the nerve, then what should I’m afraid of? Or what should I care about? I should afraid if I was unable to run my mandate properly. That’s it!” she claimed.

In fact, many Muslim women have proven their leadership. Representation of women has exist and reached in every selection. Siti Aminah said that in this case, if a Muslim woman trusted by the people to be a leader, then they must be honest and trustworthy. If a Muslim woman become a leader not in urgent situation (as experienced by her), it means the woman is ready because she has the capability to lead and trusted by her people. The problem, though the woman is ready to lead, are the people ready to be led? Because the people paradigm have not been open minded towards the representation of women in public.

And so, if it is not in the urgent condition, it means Allah already set up each side of all human life. So, Siti Aminah reminded to all Muslim women leaders to keep on being tough and istiqamah like Cut Nyak Dhien (a Muslim woman hero from Aceh), Aisyah binti Abu Bakar ra (the wife of Prophet Muhammad Saw and a leader of The Battle Camel), and leaders of other female role models in the history of Islam. She also reminded that Islam has set the limit between men and women. “The rights and obligations of women are already regulated in Islam. (I think) it doesn’t matter that the women become leaders”.

Muslim women contribute important things to their communities and countries, and they should be valued for the services they provide. It is important to allow women to have the same opportunities and to be leaders. Therefore, a Muslim woman is allowed to obtain any position of leadership and authority for which she is qualified.

Feb 22

Tugas Matakuliah Organisasi Sistem Komputer

Soal.

  1. Kapan CPU akan mengakses memori?
  2. Apa yang dilakukan CPU saat jalan bus diambil alih oleh DMAC?
  3. Carilah perbedaan mendasar dari ketiga teknik I/O!
  4. Kapan saja DMAC boleh merebut /menggunakan jalur bus?
  5. Bagaimana cara CPU menentukan I/O yang berhak dilayani?
  6. Dalam semua sistem secara virtual yang memilikimodul DMA, akses DMA ke memori utama diberi perioritas lebih tinggi dibandingkan dengan akses CPU ke memori utama. Sebutkan alasannya!
  7. Tuliskan 3 klasifikasi dari eksternal atau periferal device!
  8. Tuliskan secara singkat tiga teknik I/O?
  9. Saat DMAC mengambil alih bus, apa yang dilakukan oleh prosesor ?

 

 

Jawab.

  1. CPU akan mengakses memori ketika Register (salah satu area memori kecil pada CPU) mulai melakukan pemrosesan data. CPU dapat mengakses memory bit data tiap waktu berdasarkan jumlah bit register yang dimiliki oleh PC.

 

  1. Saat jalur bus diambil alih oleh DMAC, maka CPU akan menghentikan penggunaan jalur bus untuk sementara waktu.

 

  1. Perbedaan mendasar dari ketiga teknik I/O adalah pada proses transaksi data. Berikut ulasannya mengenai ketiga teknik I/O.
  • I/O terprogram, yaitu proses pertukaran data antara CPU dan modul I/O. CPU mengeksekusi program yang memberikan operasi I/O kepada CPU secara langsung,seperti pemindahan data, pengiriman perintah baca maupun tulis, dan monitoring perangkat.
  • I/O intruksi (demand driven). Prosesnya adalah CPU mengeluarkan perintah I/O pada modul I/O, bersamaan perintah I/O dijalankan modul I/O maka CPU akan melakukan eksekusi perintah – perintah lainnya hingga selesai.
  • Disini, CPU hanya akan terlibat pada awal proses untuk memberikan instruksi lengkap pada DMA dan Akhir proses saja. Dengan demikian CPU dapat menjalankan proses lainnya tanpa banyak terganggu dengan interupsi.

 

  1. DMAC boleh menggunakan jalur bus apabila terdapat system yang membutuhkan interaksi DMA seperti membaca sebuah file dalam disket, maka diperlukan beberapa urutan perintah ke disk controller, dengan memberitahukan bahwa data harus ditemukan dan membaca blok data yang dibutuhkan dari disket. DMAC juga boleh merebut jalur CPU apabila CPU dihentikan untuk sementara waktu agar diambil alih oleh DMAC.

 

  1. Mula-mula CPU mengecek status dari modul-modul I/O Device. Selanjutnya, modul I/O mengirimkan statusnya. Jika status dalam keadaan ready, maka CPU meminta transfer data dari I/O tersebut.

 

  1. Alasannya adalah karena DMA merupakan controller yang menyediakan pelayanan secara rutin mengenai perangkat lunak yang menyelenggarakan alih data antara memori dengan alat, dan digantikan oleh pemroses perangkat keras khusus yang melakukan proses alih data secara langsung. Selain itu, DMA harus mencuri siklus dari memori dikarenakan antar perangkat DMA memiliki prioritas yang berbeda-beda.

 

  1. Tiga klarifikasi eksternal:
  • Human Readable (terbaca oleh manusia) : sesuai untuk melakukan komunikasi dengan pengguna komputer .
  • Machine Readable (terbaca oleh mesin) : sesuai untuk melakukan komunikasi dengan peralatan.
  • Communication (komunikasi): sesuai untuk melakukan komunikasi dengan perangkat yang jauh.

 

  1. Tiga teknik I/O:
  • I/O terprogram: proses pertukaran data.
  • I/O intruksi: CPU mengeluarkan perintah untuk memperoses data.
  • DMA: CPU terlibat pada awal dan akhir proses saja. Namun, CPU dapat melakukan proses lainnya tanpa ada interupsi.

 

  1. Prosesor dihentikan sesaat sebelum prosesor menggunakan bus. Prosesor berhenti dengan menanggapi dan mengambangkan seluruh jalur busnya dan mengirim sinyal pada DMAC. Ketika DMAC menerima sinyal inilah DMAC terhubung dengan jalur bus namun prosesor tidak terhubung, Modul DMA kemudian memindahkan sebuah word dan mengembalikan control ke prosesor. Prosesor berhenti sejenak untuk satu bus siklus. Akibatnya, prosesor menjadi lebih lambat.

 

Feb 22

USIA YANG MENYAPA

Tentang hari yang menyelimuti

Jua masa yang ikut mengiringi

Tentang usia yang menyapa diri

Tak ayal mengajak waktu berlari

 

Tentang gejolak pikirmu  bergumul asa

Tuk mampu membebaskan cita

Engkau hadir membangun bangsa

Tuk didikan kelak yang mengukir bangga

 

Tentang engkau.. sosok yang kukagumi

Pelopor pendidikan dan kebudayaan negeri

Pun negara mampu engkau ayomi

Berkembang dalam pendidikan dan seni

Menghembus perubahan untuk kini dan nanti

 

Kalau pun engkau menyerah sejenak

Maka tak akan kukecap pendidikan kanak-kanak

TK FKIP karenamu berdiri tegak

Kuharap akan  begitu hingga kelak

 

Tentang usia yang menyapa digit 78

Untukmu Pak Darwis Soelaiman

Tiada yang mampu kulakukan

Selain untaian aksara untuk kudoakan

Semoga selalu berlimpah rahmat, berkah dan ampunan

Dari Yang Maha Menciptakan

Teruslah begitu Bapak..

Menyemai perubahan dan perubahan

Dan..

Tetaplah menjadi sosok yang kami banggakan

 

Salam hangat berkemas ketulusan

Alvi Rizka Aldyza

 

(Puisi ini dipersembahkan untuk dimuat di buku “Perihal Pendidikan dan Kebudayaan: Sebuah Otobiografi Prof. Darwis Abbas Sulaiman, Persembahan pada Usia 78 Tahun)

 

Feb 18

BUKAN BERCANDA DENGAN MAUT (Part 1)

(True Story)

Banda Aceh, Jumat, 13 Januari 2017- sekitar pkl. 9 pagi.

Matahari tampak tidak enggan untuk berbagi cahayanya pagi ini. Kicauan burung-burung masih terdengar dari luar rumahku, entah dimana mereka bertengger. Aku sedang merapikan ujung pashmina katun maroonku agar terurai lebih panjang, di depan cermin. Aku memalingkan mataku sesaat ke arah HP yang berbunyi sejak tadi, kuyakin notifikasi chat pada Whatsapp ku sudah mencapai ratusan karena tidak kubaca sejak tadi malam. Saat kubuka, ternyata benar! Akhirnya kuputuskan untuk membaca sekitar 10 chat terakhir saja.

Setelah itu, aku beranjak dari kamar lalu ke teras rumah, memakai sepatu. Enam ekor kucingku: Sisil, dan 5 anaknya: Mochi, Simba, Haku, Maru, dan Nala, mulai mengerubungi kakiku untuk meminta bersuap-suap makanan. Mereka mondar mandir menempelkan bulu-bulunya ke celana hitamku, menandai bau mereka, mengeong pilu dengan menunjukkan mata bulat memelas, memantulkan wajahku di korneanya. Hhh… aku menghela nafas. Seperti biasa, aku tak bisa mengelak dan mengabaikan permintaan kucing-kucingku, meski pun aku tahu bahwa beberapa teman sudah menunggu di suatu tempat. Akhirnya, setelah mengikat tali sepatu dusty purple, aku bergegas mengambil makanan kucing ‘Friskies’ dan menuangkannya ke “piring” putih. Tentu saja, karena kuberi tanda kutip, itu bukanlah piring. Sejujurnya, itu adalah tutup cat tembok berukuran besar yang sudah tidak dipakai lagi. Piring “asli” sebelumnya sudah digunakan, tetapi semakin tumbuh besar dan lebar kucing-kucingku, semakin tidak muat untuk digunakan makan berenam sekaligus. Begitulah…

Belum selesai keenam kucingku menghabiskan makanan, aku bergegas untuk pergi. Setelah berpamitan kepada keluargaku, termasuk kucing-kucingku (tidak perlu dibayangkan bagaimana aku berbicara dengan kucing), dengan membawa muatan 2 tas ransel, aku dan adik laki-laki naik sepeda motor, melaju ke titik kumpul, yaitu Warung Kopi de Helsinki. Warung kopi ini bersebelahan dengan Stadion H. Dimurtala, Banda Aceh. Tiba disana, kulihat beberapa teman sudah tiba, juga kulihat sebuah bus biru jernih yang tampak bagus dengan tulisan-tulisan resminya, ikut menunggu. Ya, aku bersama teman-temanku dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas hendak berlibur bersama ke Takengon, Aceh Tengah. Kami berencana berlibur hingga hari Minggu dalam rangka mempererat silaturami antar anggota BEM. Ini adalah pertama kalinya untukku ke Takengon, sehingga terkesan excited, dan bisa kutebak, sebagian besar teman lainnya pun merasakan hal yang sama. Setelah semua anggota BEM tiba di titik kumpul, kami masuk ke dalam bus. Dengan doa dan penuh harap agar selamat sampai tujuan dalam lindungan Allah, bus pun melaju. Selain kami dan pengemudi, ada juga seorang kernet. Eit! Bukan untuk mencari penumpang, tetapi untuk membantu pengemudi agar perjalanan dengan bus dapat berjalan dengan lancar.

Singkat cerita, setelah melewati area Gunung Seulawah, kami mampir untuk mengisi lambung yang sudah dijadwalkan untuk makan siang. Pak Pengemudi dan Pak Kernet ikut bergabung dengan para lelaki, makan bersama kemudian berbincang santai. Setelah makan, kami pun melanjutkan perjalanan.

Aku adalah tipe orang yang agak complicated jika sudah berjalan jauh seperti ini. Di dalam kendaraan, baik itu di mobil/bus, kapal, atau pesawat, aku tidak bisa tidur walau kelopak mata tak lagi kuat memfungsikan kornea. Dan lagi, seberat apa pun rasa mualku, tidak bisa muntah. (Bahkan ketika 7 bulan yang lalu saat stress, migraine, dan mual melanda karena bug terus hinggap dalam aplikasi skripsiku dan tak kunjung ‘terbang’, aku tetap tidak bisa memuntahkan uneg-uneg pikiranku secara fisik.) Konsekuensinya, sepanjang perjalanan ke Takengon, aku tidak tidur bahkan semenit pun. Bukan tidak mau, tidak bisa! Pun rasa mual setelah melewati Gunung Seulawah dan Gunung Salak hanya mampu tertahan di perut, diiringi rasa pusing. Untuk pertama kalinya, aku iri pada mereka yang bisa terlelap dan muntah dengan mudahnya.

Siang hari..

Waktunya Shalat Jumat. Bus berhenti di sebuah masjid. Jalanan saat itu tampak sepi. Kaum hawa yang “tidak diizinkan” shalat bertugas menjaga keamanan bus, selebihnya memasuki masjid untuk Shalat.

Sore hari…

Tibalah kami di Bener Meriah. Suhu sudah mulai rendah. Cuaca mulai dingin. Tampak kabut sesekali melintas. Kami mampir untuk shalat Ashar. Setelah itu, aku dan dua temanku, Ais dan Nur, berburu es krim. Fyi, kami makan eskrim tidak mengenal cuaca dan musim. Karena bagi kami, eskrim itu tidak hanya untuk kepuasan lidah, namun juga untuk kepuasan hati (Ceile~..). Aku dan Nur membeli eskrim Walls Cornetto Disc rasa Chocolate, sementara Ais membeli rasa green tea. Sebenarnya, kami agak kecewa, karena belakangan ini kami mencoba mencari Walls Cornetto Oreo, tapi tak kunjung temu. Kami pun kembali ke bus. Seisi bus heran melihat kami membeli es krim, sementara sebagian temanku yang lain berburu gorengan.

Akhirnya, sampailah kami di Takengon. Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah Kolam Air Panas Lampahan, yang sesuai namanya, berlokasi di Lampahan, Takengon. Kami bergegas shalat maghrib dan masuk. Alih-alih bayar tiket untuk mandi, aku dan teman-teman perempuanku hanya “icip-icip” air panas dengan tapak kaki, lalu keluar, dan berburu gorengan. Pisang goreng ternyata tak cukup mengisi perut. Kami butuh makanan “berat”. Aku dan beberapa teman mampir ke swalayan, melihat-lihat apa yang bisa dimakan. Tiba-tiba mataku tertuju pada rak eskrim, dan didalamnya ada harapan yang tadi sore tertinggal. “Ada Walls Cornetto Oreo..”, rengekku pada temanku, karena waktunya tidak tepat. Kami sangat membutuhkan makanan pokok: NASI!

Kami menginap di 3 rumah yang berbeda lokasi. 1 rumah milik Nenek temanku yang berasal dari Takengon, Namira, ditempati oleh sebagian kaum Hawa. Rumah ini berlokasi di daerah Lot Kala, Kebayakan. Kaum Hawa selebihnya, termasuk aku, menginap di rumah Ina, temanku yang juga berasal dari Takengon. Sementara kaum Adam menginap di rumah Pamannya Ina, yang letaknya sekitar 10 meter dari rumah kami. 2 rumah ini berlokasi di Lentik, Kebayakan. Keluarga Ina menyambut kami dengan sangat ramah. Ama (panggilan untuk Ayah dalam Bahasa Gayo) berbicara dengan santai sembari membiarkan kami menonton TV, sementara Ine (panggilan untuk Ibu dalam Bahasa Gayo) dan kakaknya Ina menghidangkan makanan dan teh panas. Kami membeli nasi bungkus untuk makan malam. Cuaca yang dingin agaknya memaksa kami menikmati makanan dengan lahap.

Sang mentari telah lama kembali ke peraduannya. Selimut malam terbuka, menutup senja. Tubuh yang dijalari rasa penat dari ubun-ubun hingga ujung kaki, memohon untuk beristirahat. Sebuah perjalanan panjang yang benar-benar berliku, telah kami lewati dengan aman seizin Allah. Sejenak aku mengucap syukur pada Dzat Yang Maha Agung.
Alhamdulillah…

Aku dan temanku yang menginap di rumah Ina, sebenarnya merasa lelah. Tetapi, entah karena perlu beradaptasi atau memang tidak mengantuk, kami tidak langsung tidur. Ina membiarkan TV tetap menyala walau sudah tengah malam. Setelah gonta-ganti channel, Ina menghentikan jemari di remotenya pada siaran swasta terkenal, and guess what? Bagi generasi 90’an, pasti sangat tau dengan film horror djadoel (djaman doeloe) kuntilanak Indonesia. Film ini berkisah tentang kuntilanak yang berawal dari wujud manusia namun ironis (dan tidak masuk akal) berakhir menjelma menjadi kuntilanak karena dendam. Kami menontonnya sambil mengunyah cemilan. Bukannya berteriak ngeri, kami malah tertawa geli. Hampir tersedak! Mungkin kengerian sudah terkeruk habis semasa kecil. Sehingga yang tersisa hanyalah kenangan lama yang mengundang tawa.

“Kaya’nya… Alvi masuk angin..” (-_-) curhatku memelas, saat reklame TV berlangsung. Lalu, temanku yang murah hati, Nanda, menawarkan diri untuk memijat. Luar biasa! Nanda sangat layak membuka spa atau klinik massage! Kusarankan begitu. Temanku yang lain, Dena, kembali menawarkan koyok. Aku menerimanya. Sejak tadi di dalam bus, Dena sudah beraksi dengan murah hati, berbagi koyok dengan berbagai ukuran: S, M, dan L. Mmm.. Maksudnya, beberapa koyoknya sudah dipotong menjadi beberapa bagian dan ukuran yang berbeda-beda. Aku juga menyarankan Dena untuk membuka usaha koyok! Dena dan lainnya tertawa.

Film selesai tayang, tidak ada broadcast menarik lainnya. Kami memutuskan untuk tidur. Cuaca sangat dingin. Ditambah lagi, air di kamar mandi sedingin es. Biasanya aku mencuci tangan dan kaki tepat sebelum tidur, tapi kali ini kutiadakan kebiasaan itu. Setelah memakai kaos kaki, membentangkan selimut ala camping, dan mengucapkan selamat tidur, aku pun memanjatkan doa yang sudah diajarkan Ummi sejak kecil, sembari bertanya-tanya dalam benakku, apakah esok hari aku akan mandi pagi dengan air sedingin ini?

(To be continued….)

Feb 11

PENGAGUM SENJA

Ku tersenyum getir. Terlintas akan masalah yang menjenguk waktu, hingga akhirnya mampu kuusir. Kukagumi senja yang selalu hadir, yang dapat menghilangkan penat sejenak dan merehatkan jalan pikir. Teringat engkau wahai mentari yang telah menyemangati sejak pagi, walau beberapa saat kemudian segelintir orang mengeluh dengan nama Tuhan dan sebagian mencaci dengan berharap hujan, dan setelah hujan mereka mengharapkanmu kembali membentuk pelangi. Mentari, bisakah kau maklumi sifat kurang bersyukurnya manusia zaman ini?

Aku ialah pemikir senja.

Kukagumi senja yang ada, kupikir kini tak lagi sama. Teringat ketika kupandang jauh sekelompok burung camar yang terbang di awan. Walau sebenarnya aku pun tak yakin bahwa itu burung camar. Aku hanya menduga. Ah, anggap saja benar! Kini, burung camar tak lagi berkumpul dan bercengkrama di langit senja. Terkadang kutemukan sepasang dari mereka pada tali listrik hitam yang terjuntai panjang di antara tiang. Lagi-lagi, aku hanya menduga, bahwa keduanya adalah jantan dan betina, karena yang satu bercicit merdu seolah sedang mempesonakan lawan jenisnya. Namun kali ini, aku tidak akan menduga siapa yang bercicit dan siapa yang dipesonakan, jantan atau betina? Seperti itukah manusia dewasa ini? Hanya bercicit di suatu “tempat yang nyaman di ‘awan’ sana”? Tak lagi berbagi dan berkumpul bersama di dunia nyata? Pun iya, mereka berkumpul di dunia nyata akan tetapi mengambil kesempatan dan waktu untuk memasuki dunia ‘awan’nya.

Aku ialah perenung senja.

Lagi, kukagumi senja yang mulai beranjak hilang untuk mengganti malam. Otot senyumku menguntai, memandang takjub warna dominan jingga yang berkemas langit biru dan awan putih Cumulus. Sesekali langit senja mengizinkan kehadiran warna ungu milik awan Stratus. Momen ini menganalogikanku akan warna-warni kehidupan. Selalu ada hal yang berlawanan seperti pahit-manis, senang-susah/sedih, maju-mundur, dan masih banyak lagi yang membentuk warna tertentu dalam hidup. Usah risau akan kesulitan. Tiada jua per detik ia akan mengunjungi. Karena saat itu kemudahan sedang mengawasi dan menunggu saatnya untuk berkunjung, sebagaimana telah difirmankan Tuhan. Sama halnya jua akan senja, yang hari ini hadir mengukir senyumku berkemaskan kagum , esok dan lusa akan ada detik berujung masa dimana senja bukanlah senja, ketika keringnya bumi mengharapkan awan Cumulonimbus menurunkan hujan. Dan tak ayal, esok dan lusanya lagi senja hadir menghampiri, tanpa perlu meminta izinku untuk kembali mengukir kagumku.

Aku..

Penikmat senja, perenung senja, pemikir senja, pengagum senja…

 

Feb 11

Home Sweet Home

Assalamu’alaikum.

Memulai lagi jadi blogger!