ISLAM DI AFRIKA TIMUR, ASIA TENGGARA, CINA DAN AMERIKA SERIKAT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan Islam di beberapa wilayah di dunia menjadi suatu hal yang menarik untuk dipelajari dan dikaji lebih lanjut. Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, ajarannya semakin lama semakin menyebar dan meluas ke berbagai wilayah hingga saat ini, termasuk wilayah Afrika Timur, Asia Tenggara, Cina dan Amerika Serikat (yang akan dibahas pada makalah ini). Di Afrika Timur, Islam tersebar melalui negara Mesir (yang merupakan salah satu Negara di Afrika Utara). Sementara di Asia Tenggara, Islam disebarkan melalui jalur perdagangan yang damai, dakwah para da’i India dan Arab, serta melalui peperangan dengan Negara penyembah berhala.
Kemudian, Negara Cina, sebagaimana yang kita ketahui juga bukan merupakan Negara Muslim, namun Islam lebih dahulu masuk ke Cina bila dibanding dengan Indonesia. (Muhsin, 2007). Islam masuk ke Cina pada masa Dinasti Tang melalui jalur perdagangan (darat dan laut), hingga menyebar melalui pendidikan dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).
Selanjutnya, di AS, Islam hadir pada abad ke-18 dan 19, bersamaan dengan Muslim Afrika yang masuk dari pantai barat Afrika yang didatangkan untuk perbudakan. Karena faktor perbudakan, maka Islam baru mulai tersebar di AS pada pertengahan abad ke-20 saat imigran baru Muslim tiba di AS. Namun dewasa ini, berita masuknya masyarakat AS ke dalam Islam, menjadi suatu hal yang menggembirakan, karena pembangunan masjid dan pusat kajian Islam di Amerika semakin banyak sehingga eksistensi Islam di negeri Paman Sam ini semakin kuat dan Muslim di Amerika dapat mempelajari Islam dengan baik.
Sejarah perkembangan masuknya Islam di 4 wilayah ini menjadi hal yang sangat penting untuk dipelajari, mengingat sangat banyak opini buruk mengenai Islam, seperti adanya istilah Islamphobia (phobia terhadap Islam), Islam sebagai agama teroris, dan sebagainya. Maka, makalah ini disusun untuk dapat mengkaji lebih lanjut sehingga dapat menambah wawasan dan diharapkan dapat menambah keimanan dan keyakinan kita akan agama Islam sebagai agama yang sempurna, agama yang datang dengan damai dan rahmatan lil ‘alamin.

1.2 Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang dapat dirumuskan dalam makalah ini sebagai berikut.
1. Bagaimana sejarah perkembangan Islam di (Sudan) Afrika Timur, Asia Tenggara, Cina dan Amerika Serikat?
2. Bagaimana kondisi Islam di Afrika Timur, Asia Tenggara, Cina dan Amerika Serikat saat ini?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut.
1. Membahas mengenai sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Sudan, Asia Tenggara, Cina dan Amerika Serikat.
2. Membahas mengenai kondisi Islam saat ini, baik di Sudan, Asia Tenggara dimana terdapat Negara dengan mayoritas dan minoritas Muslim, Cina dan Amerika Serikat.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Islam di Afrika Timur
A. Sejarah Masuknya Islam ke Afrika Timur
Pada abad ke 10 sampai abad ke 19, Afrika Timur hanya mencakup Sudan, Ethiopia dan Somalia. Pada abad ke 20, Negara ini tidak mengalami banyak perubahan, kecuali adanya Negara-negara lain yang tergolong dalam kawasan Afrika Timur dan adanya wilayah yang memisahkan diri dari Ethiopia setelah bencana kekeringan dan kelaparan, yaitu Eriteria. Saat ini, Negara-negara yang tergolong ke dalam Afrika Timur yaitu Burundi, Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Kenya, Madagaskar, Malawi, Mozambik, Rwanda, Somalia, Sudan Selatan, Tanzania, Uganda, Zambia, Zimbabwe. Akan tetapi, makalah ini hanya akan membahas sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Negara Sudan.
Dalam sejarah, Sudan Timur (yang merupakan Sudan saat ini) berpisah dengan Sudan Tengah. Islam masuk dan berkembang di Sudan Timur melalui orang-orang Mesir dan Arab. Bangsa Arab pertama kali menguasai Mesir pada tahun 641 M. Kemudian, migrasi Arab pertama untuk mendiami Mesir terjadi pada abad ke 9 M. Pada abad ke 12 dan ke 13, migrasi Arab Badui meningkat. Mereka berbaur dengan penduduk local yang terkenal dengan nama suku Funj. Pemimpinnya bernama Amara Dunqas yang mengalahkan sebuah kerajaan Kristen di Alwa pada tahun 1504, sehingga wilayah tersebut kemudian menjadi ibukota Kerajaan Funj dan diberi nama kota Sinnar.
Di sebelah utara wilayah Kerajaan Funj berbatasan langsung dengan masyarakat Arab-Muslim. Mereka kemudian mengadakan hubungan perdagangan dengan menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa persatuan, sehingga dokumen-dokumen kenegaraan pun ditulis dan disusun menggunakan Bahasa Arab. Kerajaan Funj menjaga stabilitas ekonomi dalam hal perdagangan emas. Hal ini menyebabkan jumlah pedagang asing yang masuk ke dalam wilayah Kerajaan Funj semakin banyak jumlahnya. Migrasi para ulama dan orang-orang Muslim mulai mempengaruhi komunitas perdagangan dan pemikiran para penguasa kerajaan.
Seiring waktu, kemajuan Kerajaan Funj menarik perhatian para ulama Mesir, Afrika Utara dan Arab yang menyandang predikat keahlian dalam Islam, seperti ahli fikih, tasawuf dan Al Quran. Para ulama memiliki pengaruh yang kuat karena kemampuan mereka dalam bernegosiasi dan mengkritik penguasa. Mereka mendirikan tempat-tempat pendidikan untuk mengajarkan Al Quran, hokum dan teologi kepada para pemuda sejak dini.
Pada abad ke 18, kerajaan-kerajaan lokal memperoleh otonomi sehingga para sultan pun juga kehilangan kekuasaan kontrolnya terhadap perdagangan. System perkawinan yang berada di bawah naungan kekuasaan Kerajaan Funj ikut hancur. Hingga akhirnya, pada tahun 1820-1821, Kerajaan Funj tumbang karena dikalahkan oleh Arab-Mesir dan diperkenalkan administrasi Negara baru dan tendensi keagamaan Islam yang baru pula.
Maka, Islam di Sudan yang disebarkan oleh orang-orang suci dari Mesir dan Arab dengan pendekatan struktural dan kultural. Pendekatan struktural adalah melalui usaha secara politik. Dukungan structural berhasil menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa kearsipan, bahkan sultan membentuk administrasi peradilan Islam. Sementara pendekatan kultural diwujudkan dengan menyelenggarakan pendidikan agama di sekolah-sekolah dan masjid serta melalui pernikahan dengan warga setempat.

B. Islam di Afrika Timur Saat Ini
Tanzania, salah satu Negara di Afrika Timur saat ini, memiliki potensi besar untuk sukses sebagai Negara yang menerapkan keuangan Islam. Hal tersebut disampaikan Mr Muhammad Zubair Mughal, Chief Executive Officer of AlHuda Center of Islamic Banking and Economics di sela-sela upacara penutupan African Islamic Banking and Finance Road Show di Dar es Salaam, Tanzania (5/10/14). Kegiatan road show ini dilakukan di enam negara Afrika dengan tujuan mempromosikan keuangan Islam di benua Afrika.
Karena lanjut Mughal, perbankan dan keuangan Islam juga berkembang pesat di Nigeria, Libya, Afrika Selatan, Kenya dan Maroko. Sementara itu, Mesir, Sudan, Tanzania, Tunisia memang telah mengambil inisiatif yang baik di lapangan. Statistik terbaru menunjukkan bahwa total volume keuangan Islam di Afrika adalah 780 milyar USD atau kurang dari 5% dari keseluruhan asset industri keuangan Islam global.
Benua Afrika ini telah memiliki 96 bank Islam, 29 lembaga pembiayaan Islam, 31 lembaga keuangan Mikro Islam dan lebih dari 41 perusahaan asuransi syariah telah aktif beroperasi.

2.2 Islam di Asia Tenggara
A. Sejarah Masuknya Islam ke Asia Tenggara
Terdapat tiga pendapat mengenai kedatangan Islam di Asia Tenggara.
1) Pendapat yang menyatakan bahwa Islam datang ke Asia Tenggara langsung dari Arab. Pendapat ini dikemukakan oleh Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann (1861), de Hollander (1861) dan Veth (1878). Crawfurd menyatakan bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara berasal dari Arab, tepatnya dari Hadramaut. Keyzer berpendapat bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara berasal dari Mesir yang bermazhab Syafi’i. sedangkan Niemann dan de Hollander berpendapat bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara berasal dari Hadramaut karena kesamaan mazhab yang dianut, yaitu mazhab Syafi’i. Veth berpendapat bahwa Islam dibawa oleh orang-orang Arab tanpa menyebut daerah asalnya. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Hamka yang menyatakan bahwa Islam datang ke Asia Tenggara tepatnya ke Indonesia langsung dari Arab, bukan melalui India, dan bukan pada abad ke-13, tetapi pada abad ke-7.
2) Pendapat yang mengatakan bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara melalui India. Pendapat ini pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel pada tahun 1872. Ia berkesimpulan bahwa yang membawa Islam adalah orang-orang Arab yang bermazhab Syafi’I dari Gujarat dan Malabar di India. Pendapat ini kemudian dikembangkan oleh Snouck Hougranye. ia menyatakan bahwa para pedagang Kota Pelabuhan Dakka di India Selatan adalah pembawa Islam ke Asia Tenggara, tepatnya ke Sumatera, Indonesia. Pada tahun 1951, Morrison mengembangkan hal ini dengan berpendapat bahwa pantai Koromandel merupakan pelabuhan tempat bertolaknya para pedagang Muslim dalam pelayaran mereka menuju Nusantara.
3) Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Asia Tenggara melalui Benggali (Bangladesh saat ini). Azra mengutip pendapat Tome Pires dengan mengungkapkan bahwa kebanyakan orang terkemuka di Pasai adalah orang-orang Benggali dan keturunannya. Namun, Drewes membantah pendapat ini dengan mengatakan bahwa mazhab yang dianut oleh orang-orang Benggali adalah mazhab Hanafi, bukan Syafi’i.
Islam didakwahkan di Asia Tenggara melalui 3 cara. Pertama, melalui dakwah pedagang Musllim dalam jalur perdagangan yang damai, kedua, melalu dakwah para da’i dan orang-orang suci yang datang dari India atau arab yang sengaja ingin mengIslamkan orang-orang kafir, dan ketiga melalui kekuasaan atau peperangan dengan Negara-negara penyembah berhala.

B. Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia
Teori pertama mengungkapkan bahwa agama Islam masuk ke nusantara
berasal dari Persia. Teori ini di dukung oleh kenyataan bahwa di Sumatra bagian
Utara (Aceh) terdapat perkumpulan orang-orang Persia sejak abad ke-15
marrison menguatkan teori pertama ini dengan dasar adanya pengaruh Persia yang
jelas dalam kesusateraan Melayu.Kedatangan ulama besar bernama Al-Qadhi
Amir Sayyid Asyirazi dari Persia di kerajaan samudera Pasai ikut juga sebagai
pengamat dan penegas teori Persia.
Teori kedua berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Nusantara berasal
dari Negara India. Snouck Hurgronje (Belanda) misalnya mengungkapkan bahwa
agama Islam masuk ke Indonesia berasal dari kota Dakka, India.Walau berbeda
dengan Snouck Hurgronje, ahli sejarah lain yaitu Pijnappel dan Moquette yang keduanya juga dari Belanda, berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia
berasal dari Gujarat dan Malabar, India. Pembawanya adalah orang Arab yang
telah lama tinggal di Wilayah tersebut. Penggagas teori kedua ini mendasarkan
penelitiannya pada kesamaan madzhab yang dianut oleh Muslimin di
Indonesia dan di Gujarat.
Teori ketiga menurut sejarawan Keijzer memiliki analisis yang
berbeda. Menurut nya, agama Islam masuk ke Nusantara dibawa oleh masyarakat Mesir. Ia mendasarkan teorinya pada kesamaan madzhab, yaitu madzhab
Syafi’iyah.Sementara itu ,Niemann dan de Holander menyatakan Hadramaut
sebagai tempat Islam berasal.Pada umumnya,para ahli di Indonesia setuju teori
Arab ini.
Berdasarkan hasil seminar Nasional masuknya Islam ke Nusantara yang diadakan tahun 1969 dan tahun 1978 ,mereka menyimpulkan bahwa agama Islam
masuk ke Nusantara pada abad VII M dan langsung dari tanah arab.Daerah yabg
pertama kali disinggahi adalah pesisir Sumatera.Agama Islam disebarkan oleh
para saudagar muslim yang juga bertidak sebagai muballigh,dan dilakukan dengan
cara damai.
Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan
kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak di
anut oleh bangsa Indonesia bahkan di berbagai wilayah kepulauan Indonesia telah
berdiri kerajaan bercorak hindu dan budha, misalnya kerajaan Kutai di
Kalimantan Timur, kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan sebagainya. Namun Islam
datang ke wilayah-wilayah tersebut dan dapat diterima dengan baik, karena Islam
datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting adalah
masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimat syahadat
dan tidak ada paksaan

C. Islam di Asia Tenggara Saat Ini
Kedudukan Umat Islam saat ini di Asia Tenggara berbeda-beda. Secara umum, dapat dikategorikan menjadi warga mayoritas, seperti di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam, serta warga minoritas seperti di Singapura, Thailand dan Filipina. Karena sebagai besar agama yang dianut oleh warga Thailand adalah Budha, sementara di Filipina mayoritas warganya menganut agama Katolik.
Namun, beberapa tradisi keagamaan Islam yang ada di Asia Tenggara memiliki beberapa kesamaan. Di Malaysia, hingga saat ini masih ada tradisi mistik dan praktik sufi seperti ibadah malam di daerah pedalaman, pengasingan diri dan zikir. Hal ini pun menyerupai tradisi yang ada di Indonesia. Namun, tradisi ini tidak terdapat di Singapura. Latar belakang masyarakat Singapura yang hidup di lingkungan industrial dan komersial tampaknya memiliki pengaruh yang membuat Muslim Singapura berpikir dan bersikap rasional.
Kini, ada sebuah organisasi hukum Islam di Asia Tenggara yaitu South East Asia Shari’a Law Association, yaitu Perhimpunan Ahli Syari’ah se-Asia Tenggara. Organisasi ini didirikan pada tanggal 11 Agustus 1983 di Manila, Filipina dan dibentuk untuk kepentingan umat Islam secara umum.

2.3 Islam di Cina
A. Sejarah Masuknya Islam ke Cina
Islam masuk ke negeri Cina menurut catatan sejarah yaitu pada masa Rasulullah Saw masih hidup, tepatnya pada akhir masa Dinasti Sui atau menjelang berdirinya Dinasti Tang (Abad ke 7), Pada awalnya dibawa oleh saudagar Arab yang datang di sekitar Bandar Kanton (Guang Dong) dan Bandar Quanzhou (bahkan sampai sekarang masih ada keturunan Arab tinggal di kota ini dan banyak makam para ulama Islam Tionghoa keturunan Arab di kota Quanzhou tersebut).
Kedatangan Islam di Cina dapat ditelusuri melalui dua jalur perdagangan, pertama-tama melalui jalur laut/jalur lada, kemudian melaui jalur darat/jalur sutra. Pada abad ke-6 perdagangan antara Arab dan Cina sangat berkembang. Sementara itu pada abad ke-7, perdagangan segitiga antara Arab, Cina, dan Persia semakin berkembang lagi. Periode ini bersamaan dengan Dinasti Tang di Cina (618-907). Dan pertama kali nama Arab disebut-sebut dalam sejarah Cina. Komunitas Muslim melalui jalur tersebut telah meningkat terus menerus melalui imigrasi, perpindahan agama dan perkawinan atau dikenal dengan istilah asimilasi budaya.
Selain itu, penyebaran Islam terjadi peningkatan secara besar-besaran ketika peristiwa An Shi, yaitu pemberontakan An Lu Shan terhadap Kaisar Hsuan Tsung pada masa Dinasti Tang (755 M). sehingga berdampak pada turunnya Kaisar Hsuan Tsung dan digantikan oleh putranya, Su Tsung. Setelah itu, Kaisat Su Tsung meminta bantuan kepada Khalifah Al Mansor, yaitu khalifah yang memimpin Dinasti Abbasiyah untuk mengirimkan pasukannya membasmi pemberontakan yang terjadi di Cina. Tak lama kemudian, Khalifah Al Mansor mengirimkan sejumlah pasukan umat Islam hingga berhasil membasmi pemberontakan tersebut. Sebagai ucapan terima kasih, Kaisar Su Tsung mengizinkan sebagian besar pasukan umat Islam yang tinggal menetap di Cina. Kaisar memberikan apresiasi kepada mereka dengan memberikan tempat tinggal dan mengizinkan untuk menikah dengan para wanita di Cina.

B. Islam di Cina Saat Ini
Di Cina saat ini, tanpa disadari kian waktu agama Islam tetap hidup dan berkembang pesat., jika dilihat dari jumlah penduduk Muslim di Cina yang kian bertambah dari tahun ke tahun. Statistik pemeritnah menunjukkan bahwa jumlah Muslim di Cina tidak kurang dari 14 juta orang, namun berita yang tidak resmi dari luar pemerintah menyebutkan bahwa umat Islam di Cina lebih dari 14 juta. Kemudian, Imam Dawud Shin Kunbin mengatakan bahwa pada tahun11953, 1000 orang lebih dari Cina melaksanakan ibadah Haji
Di Lanzkou, di tepi Sungai Kuning, tempat asal kebudayaan Cina, sebuah masjid dan madrasah berdiri berdampingan dengan pagoda-pagoda Budha di tanah lapang Pagoda Putih. Di Xian, terdapat sebuah masjid agung yang merupakan masjid yang terbesar di Cina dan dipamerkan kepad apengunjung sebagai bagian dari peninggalan nasional Cina. Di Turpan, di pinggir padang pasir Gobi, para pemuda melakukan shalat di sebuah masjid yang menyerupai pavilion dinasti Qing.
Saat ini, umat Islam di Cina mendapatkan toleransi dari masyarakat selain umat Islam. Hal ini tampak bahwa daerah-daerah di Cina yang mayoritas penduduknya Islam, ternak babi dilarang. Selain itu, umat Islam di Cina juga memiliki tempat pemakaman sendiri, melakukan pernikahan di hadapan imam, adanya restoran-restoran yang menyediakan makanan halal dan para pekerja Muslim diizinkan untuk libur pada hari-hari besar Islam.
Selain memperoleh kebebasan dalam beragama, umat Islam juga dapat berpartisipasi dalam pemerintahan. Di wilayah Xinjiang misalnya, beberapa jabatan administrasi ditempati oleh Muslim. Imam Dawud Shin Kunbin sendiri adalah anggota Komite Tetap dan Badan Penasihat Politik Rakyat Kotamadya. Negeri tirai bamboo ini juga telah memberlakukan UU Otonomi Regional bagi Bangsa-Bangsa Minoritas, yang salah satu fungsinya adalah memberikan kebebasan beragama bagi umat Islam dan dapat berpartisipasi dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan.

2.4 Islam di Amerika Serikat
A. Sejarah Masuknya Islam ke Amerika Serikat
Sejarah Islam di Amerika Serikat bermula sekitar abad ke 16, dimana Estevánico dari Azamor adalah Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Amerika Utara. Walau begitu, kebanyakan para peneliti di dalam mempelajari kedatangan Muslim di AS lebih memfokuskan pada kedatangan paraimigran yang datang dari Timur Tengah pada akhir abad ke 19.
Estevánico dari Azamor mungkin telah menjadi Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Amerika Utara. Estevanico adalah orang Berber dari Afrika Utara yang menjelajahi Arizona dan New Mexico untuk Kerajaan Spanyol. Estevanico datang ke Amerika sebagai seorang budak penjelajah Spanyol pada abad ke 16, Álvar Núñez Cabeza de Vaca.
Selama tahun 1520-an telah didatangkan budak ke Amerika Utara dari Afrika. Diperkirakan sekitar 500 ribu jiwa dikirim ke daerah ini atau 4,4% dari total 11.328.000 jiwa budak yang ada. Diperkirakan sekitar 50% budak atau tidak kurang dari 200 ribu jiwa budak yang didatangkan berasal dari daerah-daerah yang dipengaruhi oleh Islam.
Ternyata sebelum kedatangan Christoper Columbus (yang katanya penemu benua Amerika), umat Islam sudah terlebih dahulu menemukannya. Sebuah fakta yang tak terbantahkan lagi jika umat Islam sudah lebih dulu berada di daratan luas yang kini bernama Amerika, jauh beberapa abad sebelum kedatangan Columbus yang meng-klaim sebagai penemu Amerika. Fakta yang paling gampang ditemui nama serupa dengan kota suci umat Islam seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, Medina di Texas yang paling besar dengan penduduk 26,000, Medina di Ontario Canada, kota Mahomet di Illinois, Mona di Utah, dan Arva di Ontario Canada, dan beberapa nama seperti California (Caliph Haronia), Alabama (Alah Bumnya), Arkansas (Arkan-sah) dan Tennesse (Tanasuh), T Allah Hassee (Tallahassee), Alhambra, Islamorada dan sekitar 500 nama kota lainnya berasal dari kata Arab.

B. Islam di Amerika Serikat Pasca Tragedi 911
Negara adikuasa ini mendeklarasikan kemerdekaannya pada 4 Juli 1776 ini, sejak saat itu Islam terus mengalami perkembangan. Sejak itu pula umat Islam di sana merupakan bagian masyarakat Amerika Serikat yang tidak terpisahkan, terus mengalami perkembangan.
Citra negatif terhadap Islam yang diberitakan di media massa Amerika sudah lama dikeluhkan umat Islam di Amerika. Keadaan seperti itu telah mendorong sebuah LSM Islam yang berkedudukan di Washington, Council on American-Islamic Relations (CAIR), meluncurkan kampanye yang mereka beri nama “Islam di Amerika” pada tahun 2003. Kampanye ini berupa pemasangan iklan disurat-surat kabar besar dan kecil yang berlangsung selama satu tahun. Direktur Komunikasi CAIR, Ibrahim Hooper, mengharapkan kampanye itu akan membantu mengubah citra Islam di Amerika.
Direktur Eksekutif CAIR Nīhad Awād, mengatakan kampanye ini diluncurkan setelah organisasi yang ia pimpin menerima puluhan ribu permintaan dari warga Amerika yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai Islam dan umat Islam dari tangan pertama. Ibrāhīm Hooper mengatakan kampanye itu ditujukan untuk menunjukkan bahwa Muslim Amerika adalah warga Amerika biasa, seperti warga Amerika lainnya. Mereka bekerja sebagai dokter, mahasiswa, ibu rumah tangga, sopir bis, pramuniaga atau lainnya. Direktur Eksekutif CAIR Nīhad Awād lebih lanjut mengatakan iklan itu menunjukkan kekuatan yang ditimbulkan karena keragaman rakyat Amerika, baik dari segi etnik maupun agama. Ia berharap kampanye iklan ini akan membantu rakyat Amerika mengerti lebih baik mengenai salah satu agama yang berkembang pesat di tengah-tengah mereka.
Umat Islam di Amerika dengan berbagai mazhab dan aliran bebas menjalankan ritual keagamaannya. Namun pasca 11 September 2001 hubungan Amerika Serikat dengan Islam “tidak harmonis”. Ketidakharmonisan hubungan ini, dilatarbelakangi oleh persepsi pemimpin-pemimpin Amerika terhadap dunia Islam secara negatif, dengan statemennya bahwa “Islam adalah agama teroris”. Padahal, statemen ini sungguh sangat keliru. Namun di sisi lain banyak pula masyarakat Amerika yang tetap mengakui bahwa Islam sejak kedatangan risalah-nya selalu mengedepankan hubungan harmonis dengan siapa saja dan kapan saja. Sehingga perkembangan Islam di Amerika Serikat terus mengalami perkembangan yang signifikan.
Citra Islam di Amerika Serikat secara global masih negatif. Ini diakibatkan adanya oknum yang mengatasnamakan umat atau kelompok Islam yang melakukan berbagai teror. Walaupun demikian, juga mempunyai hikmah yang signifikan dalam memperkenalkan Islam sebagai agama damai dan selalu mengajarkan perdamaian (peace). Jelasnya Amerika Serikat mempunyai harapan baru dalam pengembangan ajaran Islam yang komprehensif.

BAB III
PENUTUP
Agama Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin, artinya rahmat Allah yang tercurahkan kepada seluruh isi alam ini. Maka, tidak heran bahwa agama Islam terus berkembang pesat, jumlah umat Islam terus bertambah, terutama di kawasan yangtelah diuraikan sebelumnya. Sejarah masuknya Islam di kawasan ini sebagian besar berasal dari para saudagar Arab yang berdagang, meski pun di Amerika, dibawa oleh budak Afrika dan imigran lainnya.
Perkembangan Islam di kawasan ini pun tidak dapat dipungkiri semakin berkembang, dilihat dari jumah masjid, sekolah Islam dan pusat pendidikan Islam terpadu yang dibangun dan didirikan untuk kepentingan ibadah dan pendidikan umat Islam. Beberapa organisasi dan peraturan/undang-undang juga diberntuk untuk melindungi pemeluk agama Islam dan demi keamanan serta kenyamanan umat Islam di berbagai wilayah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hakim, Atang dan Mubarok, Jaih. 2004. Metodologi Studi Islam. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Amin, Surrahman. 2012. Islam di Amerika Serikat: Potret Perkembangan Dakwah Islam Pasca Tragedi 9 September 2001. Tasamuh. 4(1): 73-84.
Irfani, Fahmi. 2014 Perkembangan dan Peranan Umat Islam di Cina pada Masa Kekaisaran Dinasti Ming (1368-1644 M).
Ismail, Faisal. 2008. Perkembangan Islam di Amerika Serikat. Yogyakarta: Perpustakaan Digital UIN Sunan Kalijaga.
Suharso, Yudi. 2014. Tanzania Siap Jadi Hub Perbankan Syariah di Afrika Timur. http://mysharing.co/tanzania-siap-jadi-hub-perbankan-syariah-di-afrika-timur/
Sumarna, Elan. Dunia Islam di Afrika Timur (Sebuah Perbandingan Historis “Socio-Cultural” atas Pluralistisnya Nilai dan Budaya di Indonesia).

Leave us a Message