BUKAN BERCANDA DENGAN MAUT (part 2)

Takengon, Sabtu, 14 Januari 2018.

Beberapa menit sebelum memasuki waktu Shubuh..

Nanda adalah orang yang pertama bangun dari tidurnya di antara kami, lalu aku menyusul. Aku tak tau pasti pukul berapa, yang pasti aku harus mandi dan Shalat Shubuh. Air di kamar mandi sangat luar biasa! Luar biasa dingin! Hingga membuat wajah dan tangan kami pucat begitu selesai mandi. Akibatnya, gejala atshma ku kambuh! Ya, penderita asthma sangat sensitif terhadap perubahan cuaca yang ekstrim. “Tidak boleh terlalu panas, dan tidak boleh terlalu dingin!” begitu petuah yang sering kudengar tentang orang dengan riwayat Atshma. Alhamdulillah, ini masih gejala. Aku tidak benar-benar sesak napas, sehingga Ais yang tadinya sempat panik melihatku mencari-cari Inhaler Ventolin Salbutamol (sejenis obat spray-hirup untuk penderita gangguan pernapasan), akhirnya merasa lega, sama sepertiku.

Sesekali ku intip keluar jendela, berharap mentari mulai mengecup ujung atap rumah, membuka pagi dengan kehangatan. Kecewa tak ada sinar mentari, aku pun membereskan tempat tidur.

Singkat cerita, setelah sarapan bersama, kami mulai mengatur rute perjalanan. Rute wisata dimulai dari Goa Putri Pukes, yang terletak di kaki bukit Kecamatan Kebayakan. Aku mendengar legenda mengenai Putri Pukes ini saat kelas 1 SMA. Saat itu seorang temanku bercerita bahwa Putri Pukes dikutuk menjadi batu karena tidak mengindahkan amanah orangtuanya. Orangtua Putri Pukes berpesan bahwa saat pergi dari rumah (setelah Putri Pukes menikah dengan keluarga Kerajaan), jangan sesekali melihat ke belakang. Namun, Putri Pukes melanggarnya. Temanku yang lain juga bercerita bahwa Putri Pukes tidak langsung menjadi batu, namun saat itu disambar petir hinggga tubuhnya menghitam, mengeras, dan menjadi batu. Benar atau tidak? Entahlah.. legenda tetaplah legenda. Biarlah ia menjadi warisan cerita rakyat yang dapat diambil pesan moralnya oleh generasi mendatang.

Sayang 1000 kali sayang, tiba di lokasi, pintu masok goa tertutup. Belum dibuka, atau memang tidak buka hari ini. Pintu masuk goa ini kira-kira setinggi 1,5 meter. Untuk menimpa rasa kecewa, kami berfoto bersama dihadapannya. Setelah dirasa cukup untuk mengambil foto, perjalanan pun kami lanjutkan menuju Ujong Paking.

Bus berjalan pelan di sebuah lokasi yang tampak sepi pengunjung, hanya ada beberapa orang saat itu. Kami tiba di Ujong Paking. Tempat wisata seluas 7 hektar ini berada tepat di sekitar Danau Laut Tawar. Sebelum tiba di lokasi, dari dalam bus, kami sudah mampu melihat bagaimana menakjubkannya Danau Laut Tawar. Biru elektrik warna air yang dipantulkan dari biru langit dan kerjernihan airnya yang memantulkan gunung dan awan putih, meninggalkan decak kagum. Refleksi yang dipantulkan nyaris sempurna! Sepanjang jalan hingga tiba ke lokasi, kami masih takjub dengan tidak berhenti menyebut Allah karena KuasaNya.

Cuaca saat itu mulai panas. Mentari sangat bersemangat memancarkan kehangatannya pagi ini. Kami tiba di lokasi dengan perasaan bahagia. Landscape view yang luar biasa indah, hangatnya matahari memantulkan gelombang warnanya, udara bersih dan sejuknya pepohonan yang tumbuh rapi, warna warni bunga yang memukau, kami nikmati bersama. Sebagian dari kami menyipitkan mata karena silau matahari, sebagian lainnya mempersiapkan pose terbaik untuk diabadikan melalui lensa kamera. Di ujung yang bersisian dengan pepohonan, ada sebuah bangunan kosong yang tampak seperti aula. Pemandangan dari aula ini juga sangat indah, seperti pemandangan yang pernah kulihat di Google Images mengenai musim panas di Kyoto, Jepang, rasanya tak kalah indah.

Kami berpencar untuk menikmati setiap sudut pemandangan. “Takengon rasa New Zealand”, ujarku pada teman-temanku. Padahal aku belum pernah ke New Zealand. Haha. Aku pernah beberapa kali melihat video padanan laut biru jernih dan pegunungan hijau semerbak di negeri madani nomor 1 di dunia itu, melalui YouTube.

Tak jauh dari aula, ada jalan menurun untuk melihat lebih dekat ke Danau Laut Tawar. Sebagian teman berjalan turun. Perjalanan menurun ini lumayan jauh. Aku dan temanku masih di bagian atas, duduk sejenak menikmati pemandangan usai berfoto. Temanku Fajar, memainkan gitar akustik barunya. Pas sekali! Aku dan Fajar menyanyikan lagu “Perfect” oleh Simple Plan. Setelah itu, kami menyusul teman lainnya ke area bawah, untuk melihat lebih dekat keindahan refleksi Danau Laut Tawar. Jalan menurun ini penuh liku sehingga rasanya masih sangat jauh untuk sampai ke area Danau Laut Tawar. Jalan dengan paving block ini ditumbuhi rumpun bambu  kuning yang menambah kesejukan jalan, sehingga meski jauh dan berliku, cahaya matahari saat itu tidak menyengat. Dari sini, kami juga bisa melihat sebuah desa dibawahnya. Desa ini adalah desa wisata Kelitu.

Cukup lama kami berada di Ujong Paking, karena lokasinya yang luas, dan sangat banyak titik pemandangan indah yang bisa dijadikan latar belakang foto yang tak kalah indah. Kata-kata tak cukup mendeskripsikan bagaimana menakjubkannya matahari menyilaukan gemericik air yang diganggu angin. Bahkan kamera secanggih apapun tak cukup bagus menangkap seluruh gelombang warna pemandangan ini, tak secanggih kornea. Aku benar-benar takjub. Kulihat teman-teman sangat bersemangat berkumpul dan berfoto hingga kelelahan. Namun, tak ada seorang pun yang menyarankan untuk beranjak ke wisata lain, karena sudah sangat nyaman aka PW (Posisi Wuenak :p) di tepi Danau Laut Tawar ini.

Setelah berlama-lama memanjakan mata dan jiwa di Ujong Paking, kami beranjak untuk pergi ke lokasi wisata lainnya, yaitu Air Terjun Mengaya. Seperti namanya, air terjun ini terletak di Desa Mengaya, Kecamatan Bintang, tepatnya di kaki Gunung Burni Kelieten. Jalan masuk ke air terjun sangat sempit, sehingga tidak dapat dimasuki bus. Kami memutuskan untuk berjalan kaki. Seorang temanku, Fajar, yang pernah kesini sebelumnya, tidak ingin ikut dengan alasan yang tidak begitu jelas. Namun, ia dengan semangat menyarankan kami untuk berjalan ke lokasi air terjun. “Jalannya cuma 10 meter kok! Disana ada mushalla dan kamar mandi,” kata Fajar menjelaskan. Kami mengangguk percaya. Hingga anggukan kepercayaan kami berubah menjadi keluhan plus omelan karena ternyata, perjalanan menuju air terjun bukan 10 meter, tetapi sekitar 1500 meter! Sama dengan 1,5 kilometer! Rasanya, ketika kembali nanti, kami ingin membully Fajar habis-habisan.

(-_-)

Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan oleh pesona kehijauan alami yang sebagian besar masih belum dijamah oleh manusia. Selain persawahan yang hijau, kami melewati puluhan hektar hutan pinus. Dan tampaknya, aku juga melihat puluhan bahkan ratusan hektar kebun kopi, meski tidak yakin (akibat rabun jauh dan saat itu aku tidak menggunakan kaca mata). Jadi, meskipun kelelahan berjalan jauh, alam menghibur kami agar tidak kebosanan.

Untuk menuju lokasi air terjun ternyata tidak mudah. Kami harus berjalan menanjak ratusan meter lagi karena seperti biasa, air terjun terletak di balik perbukitan. Sebelumnya, kami bertemu beberapa masyarakat setempat dan membayar biaya masuk sebesar 3000 rupiah per orang. Dari sini, kami sudah bisa mendengar hentakan air dan sejuknya udara, membuat kami semakin bersemangat menantang batu-batu dan jalan berliku.

Akhirnya, rasa lelah selama perjalanan “tipuan” tadi terbayarkan. Setelah melewati jembatan kayu sekitar 3 meter, kami tiba di tepat dihadapan Air Terjun Mengaya.  Airnya sangat dingin, menusuk tulang. Pepohonan di sekitarnya seperti tau bahwa kami sangat bahagia. Kalian boleh menganggapku gila, karena saat itu aku merasa bahwa pepohonan hutan tropis di sekeliling air terjun seperti menyambut kedatangan kami dan tersenyum saat kami tiba dan menikmati nuansa teduh disana. Mereka seperti hidup, selayaknya pepohonan di film Narnia. Lagi, aku takjub dan menyebut asma Allah. Dan lagi, kami berfoto bersama, bergantian mengambil lokasi tepat disisi deburan airnya.

Waktu menunjukkan sudah saatnya shalat Zuhur. Kami tidak menemukan kamar mandi dan mushalla disana. “Fajaaaaaar!” kami kembali menggerutu dengan apa yang Fajar janjikan sebelumnya, berakhir dengan omelan panjang. Mungkin, karena inilah ia tidak ikut ke dalam dan memilih tinggal di dalam bus. Akhirnya, beberapa teman memutuskan wudhu di air terjun, kemudian shalat di atas bebatuan alami nan lebar di dekatnya.

Kami kembali menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki menuju bus. Tiba di bus, kami langsung mengutuk Fajar. Fajar hanya tertawa innocent. Lalu mengaku bahwa karena itulah dia tidak ikut.

Kami beranjak menuju tempat makan untuk makan siang. Tiba di tempat makan, sebagian teman lainnya shalat Zuhur di mushalla. Sembari makan, kami bermusyawarah mengenai kegiatan selanjutnya. Keputusan akhirnya adalah bakar-bakar jagung dan kentang di sebuah pondok yang terletak di tepi Danau Laut Tawar.

Tiba di pondok, mata kami tak bosan memandang danau kebanggaan masyarakat Aceh Tengah ini, meski pun hari sudah mulai gelap.  Pondok ini seperti rumah panggung, dimana dua pondasi depannya menancap langsung di tepi danau. Agak ngeri ketika kuintip ke bawah. Tetapi karena ini bukan laut, dan tidak ada ombak, kurasa tidak akan ada masalah. Kami tiba disana dalam keadaan setengah basah, karena awan Cumulonimbus menutup matahari, mengguyur hujan.  Kami shalat maghrib terlebih dahulu, barulah memasak.

Asap mengepul memenuhi seluruh pondok. Aku yang mengidap asthma langsung menghindar dan keluar ke balkon kecil, memandang kegelapan dan ketenangan alam. Ada bangku panjang di balkon. Tepian balkon juga bisa diduduki, namun harus berhati-hati, jangan sampai jatuh dan tercebur ke danau. Hujan masih membasahi hingga waktu Isya tiba. Setelah shalat Isya, sambil menikmati kentang dan jagung bakar, aku bermain gitar akustiknya Fajar dan menyanyikan beberapa lagu sebelum pulang dalam keadaan hujan deras.

Alhamdulillah, kami tiba di rumah (penginapan) dengan selamat. Sebelum tidur, benakku berpikir dan merenung. Hari ini luar biasa mengagumkan. Sehari saja tafakkur alam membuatku terpana. Esok hari kami akan kembali. Mempersiapkan segudang cerita indah tanpa imajinasi.

Meskipun ternyata, ujungnya tak seindah pikirku..

Sesuatu yang pekat menanti, menunggu waktu..

(to be continued….)

Leave us a Message