BUKAN BERCANDA DENGAN MAUT (end)

Takengon, Minggu 15 Januari 2017.

Cahaya pagi menyilaukan mata. Meski semalam hujan, pagi ini mentari membuka pagi perlahan, menjadikan cuaca saat ini tidak begitu dingin. Pagi ini, sebelum pulang, kami bermaksud untuk membeli buah tangan berupa buah nenas, alpukat, dan ikan depik khas Takengon. Kami menitipkan belanjaan kepada Nanda, Ina, Ama dan Ine.

Setelah itu, kami sarapan pagi bersama. Kami juga disuguhkan teh panas, kopi panas, dan gorengan. Mantap! Dalam sekejap, gorengan sudah ludes hingga yang tertinggal hanya piring putih bersih dan kresek kosong berminyak.

Ina keluar dari kamar membawakan beberapa masker kain polos berwarna-warni. “Ayo beli-beli! 1 harganya 8000. Beli 2 15ribu aja!” sahut ini bergadang, eh berdagang. Hampir semua dari kaum Hawa membelinya. Karena perjalanan dirasa cukup panjang dan penuh debu nantinya.

Setelah mengecek kembali barang-barang bawaan, kami membersihkan rumah Ina, juga rumah Pamannya Ina yang ditempati kaum Adam. Setelah dirasa bersih dan layak ditinggalkan, kami berpamitan kepada keluarga Ina, juga tak lupa berterima kasih kepada mereka yang sudah sangat membantu kami, menyambut dan menerima kami dengan ramah.

“Main-main kemari lagi yaaa. Kapan-kapan kesini lagi, nginap disini lagi..” sahut keluarga Ina.

“InsyaAllah.. kami kesini lagi..” aku dan teman-temanku berujar hampir bersamaan. Ina juga ikut kembali ke Banda Aceh. Sama seperti saat berangkat, saat pulang pun aku dan Ais duduk di di baris kedua (tidak dihitung baris supir), tepatnya di sisi kiri bus, dengan Ais yang duduk bersisian jendela. Lalu, bus mulai melaju perlahan, meninggalkan komplek perumahan Ina.

Di tengah perjalanan, kami melihat sebuah landscape view yang terhampar indah di sisi kanan jalan. Seisi bus riuh karena kagum. Kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak, berfoto bersama.

Tidak hanya kami, di tempat ini juga banyak pengunjung lain yang berusaha mengambil titik dan sudut foto terbaik. Paduan air dan pegunungan hijau alami, ditambah dengan petak-petak rumah warga dibawahnya, menambah keindahan panorama ini. Bisa kuhitung, lebih dari 20 kali kami berfoto agar posisi berdiri tidak menghalangi latar berlakang pemandangan menakjubkan.

Puas berfoto, perjalanan pun kami lanjutkan. Lokasi terakhir yang kami kunjungi sebelum kembali ke Banda Aceh adalah Seladang Café. Sesuai jargonnya “Ngopi di Kebun Kopi”, café ini menyediakan tempat untuk menyeruput tanaman khas Aceh yang sudah mendunia ini tepat di kebun kopi. Luas kebun kopi ini sekitar 2 hektar. Bangunannya sederhana namun seni arsitekturnya sangat tinggi dan unik, sehingga terkesan sangat natural, tidak kontra dengan kebun kopi yang ada di sekelilingnya. Café unik ini menyediakan berbagai jenis kopi seperti Americano, Arabica Gayo, Black Coffee, Espresso, dan lainnya. Ada menu es buah, jika tidak suka kopi.  Jadi, sambil menikmati aroma dan rasa khas kopi Aceh langsung dari kebun kopi ini, kami juga bisa menikmati pemandangan kebun kopi yang biji kopinya berwarna hijau dan merah, bulat-bulat menggemaskan.

Aku, Fajar dan Nur, memesan kopi Americano. Kami bertiga belum pernah menyicipi kopi jenis ini sebelumnya. Ternyata kopinya sangat asam, tidak seperti Espresso dan Arabica. Aku, masih lebih suka Arabica atau Black dibandingkan Americano.

Waktu sudah memasuki  Zuhur. Kami bergantian shalat Zuhur, lalu berfoto-foto di kebun kopi dan di depan banner ukir Seladang Café. Kemudian, bus kembali melaju, berhenti di suatu tempat dimana kami membeli nasi bungkus untuk makan siang, dan rencananya akan kami santap-lahap di lokasi lain.

Perjalanan mulai memabukkan. Entah karena kopi, atau karena belum makan siang. Pun Ais mulai menyandarkan diri di kursi, berusaha relax  untuk mengurangi mual. Aku mulai pusing. Kuputuskan untuk memutar Music dari telepon genggamku dan mendengarkannya menggunakan earphone. Aku tidak bersandar, justru menopang lengan kiriku di kursi depan dan membiarkan kepala beratku diatasnya, mendengarkan alunan musik yang tidak begitu mempan menghilangkan rasa pusingku. Baru saja akan kugerakkan jariku untuk memutar mp3 Surah Al Baqarah yang suara indahnya milik Mishari Rasyid Al-afasyi….

Tiba-tiba..

Bus melaju dengan sangat cepat.

“Hati-hati Pak!” sebuah suara perempuan terdengar dari kursi belakang. Aku mengangkat kepala beratku dan melirik ke depan.

Bus mulai tidak terkendali. Aku tak tahu pasti berapa lama bus sudah melaju cepat dan tidak terkendali seperti ini. Belum sempat aku berpikir, sisi kiri bus sudah tidak lagi mulus. Roda kiri bus tidak lagi di jalan aspal, sepertinya jalan berbatu. Seisi bus mulai panik. Aku pun begitu. Kulintip jendela sisi kiri, hanya ada rerumputan hijau yang sangat luas dan dalam. Aku tak tahu sedalam apa itu. Saking dalamnya..

Bus berhenti mendadak. Tiba-tiba bus tidak seimbang. Sisi kanan bus mulai terangkat. Teman-teman di belakangku mulai berteriak. Aku dan Ais tidak berteriak, karena kami mengira dan berharap, ketidakseimbangan ini hanya sesaat aja dan kemudian bus akan kembali seperti semula. Ternyata hanya sekedar harapan. Bus tidak kembali seperti semula. Kulihat sisi kiriku dari jendela. Warna hijau rerumputan yang mulanya tampak jauh, mulai mendekat, dan mendekat, hingga kami tepat berada di atasnya. Bus terbalik dan berguling ke jurang!

………….

………….

Aku duduk di atas rerumputan yang tanahnya miring karena curam. Pandanganku fokus ke depan. Mata air? Pikirku. Sekitar 2 meter dihadapanku, sebuah bus biru mini terjungkal setengah hancur nyaris menghadap ke atas. Sisi depannya hancur dan beberapa kepingan terlepas. Ngapain bus ini disini? Kenapa bisa hancur?

Sekitar 3 meter setelahnya, mata air mengalir sangat deras dan penuh bebatuan. Saking derasnya, aku bisa mendengar bagaimana hentakan air derasnya menabrak batu-batu bulat besar diantaranya. Aku tidak bisa mendengar apapun selain derasnya air dan desiran angin. Badanku tidak bisa merasakan apa pun. Dan… aku tidak ingat apapun. Ini dimana?

Panik karena kebingungan, aku pun melihat diriku sendiri. Baju biru berbahan jeans.. benakku berujar. Aku tidak ingat sejak kapan aku memakai baju favoritku ini. Aku bahkan tidak memakai sepatu. Kakiku kotor  beralaskan tanah. Batu kerikil yang kuinjak tadi tidak terasa sakitnya. Kupalingkan wajahku ke kanan, beberapa sosok yang kukenal tersebar di beberapa tempat dalam keadaan tidur terlentang, duduk dan setengah berdiri. Aku melihat ke kiri, yang ada hanya pepohonan liar. Aku masih tidak bisa mendengar apapun. Hingga seorang sosok yang kukenal, Amri, berjalan sempoyongan, meminta tolong sambil melihat ke atas. Sebelum aku melihat apa yang dilihat Amri, batinku tak karuan memperhatikan Amri yang kepalanya penuh dengan kucuran darah. Panikku semakin menjadi-jadi. Barulah aku melihat ke atas, jauh ke atas dan tidak begitu jelas, ada beberapa orang di atas sana. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Kulihat sekeliling, beberapa temanku juga luka-luka dengan darah mengucur dari balik kain kerudung, dari dagu dan sekitar wajah, kaki dan lainnya. Kulihat sekilas dari kejauhan, di atas batu, 1 sosok temanku terlentang tak berdaya, antara sadar dan tidak.  Entah dimana letak pikirku, aku mencoba melangkahkan kakiku untuk naik ke atas. Nihil! Tanahnya terlalu miring dan kakiku tak kuat melangkah. Saat itu, seluruh badanku mulai kesakitan. Aku kembali duduk lemas dan bertanya pada diriku. Ini dimana? Ini hari apa? Kenapa bisa disini? Ini dimana?

Aku mengenal dan mengingat semua sosok yang kulihat. Tapi tidak untuk apa yang terjadi. Mimpikah? Mimpi buruk? Aku sempat berpikir bahwa ini mimpi buruk dari tidurku. Aku adalah lucid dreamer, dimana orang-orang seperti ini sadar bahwa dia sedang bermimpi, dan beberapa orang dapat mengendalikan jalan cerita mimpinya. Jadi kupikir, setelah aku menutup mata sesaat dan menyadari bahwa ini mimpi, aku bisa terbangun dari tidurku tanpa kebingungan. Setelah kupejamkan mata beberapa saat, aku mendengar seseorang memanggilku. Kubuka mata, aku masih di lokasi yang sama, dengan Nur didekatku. Masih panik dan kebingungan, aku mulai bertanya-tanya pada Nur apa yang terjadi. Nur menunda jawabannya sesaat, lalu menjawabnya dengan singkat.

“Kita kecelakaan”, ujar Nur dengan wajah bingung melihatku.

Jadi ini bukan mimpi?

“Alvi nggak ingat, Nur. Tapi Alvi masih ingat Nur, Alhamdulillah..” kataku sambil menggenggam tangan Nur dengan kedua tanganku.

Aku kembali bergulat dengan pikiranku. Aku mendengar suara Ais sedang menelepon Umminya, tetapi aku tidak bisa melihat Ais, entah mengapa. Aku juga tidak melihat Nanda.

……………

Aku melihat Dena dan Kiki. Aku pun bertanya hal yang sama, dan menyahut dengan kalimat yang sama.

“Alvi nggak ingat. Tapi Alvi masih ingat Kiki sama Dena, Alhamdulillah..” sepertinya setiap teman yang ada kutanyakan dan kubalas hal yang sama pula. Kulihat Kiki sangat panik tak karuan melihatku hilang ingatan. Dena berusaha menjelaskan padaku dengan tenang apa yang terjadi, tetapi suara Dena seperti tidak sampai di pikiranku.

Aku amnesia? Tidak! Aku hanya tidak bisa mengingat sebagian. Bukan semuanya!

…………….

Ini bukan mimpi buruk! Ini nyata! Aku masih tidak mengerti mengapa kondisi teman-temanku begitu mirisnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Bingung.. Tiba-tiba, bahu kiriku nyeri. Awalnya nyeri seperti pegal biasa, namun lama-kelamaan saat kugerakkan, rasanya semakin sakit, seperti ada batu besar menimpa diatasnya. Hingga akhirnya tidak bisa kugerakkan sama sekali. Aku meringis kesakitan memegang lengan atas kiriku yang sakitnya mulai menjalar hingga ke leher belakangku.

……………

Seseorang membawaku ke atas. Aku sudah berada di ambulance bersama Galih dan Amri yang duduk di sebelahku. Aku kembali bertanya pada mereka apa yang terjadi, namun Amri hanya menjawab, “istighfar aja Vi..” Kecewa, tapi ada benarnya. Lebih baik aku bersabar hingga saatnya tepat. Aku bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir tiada henti. Di hadapanku, Wanda terbaring tidak sadar.

Kami tiba di Puskesmas. Kaki kiriku pun sulit kugerakkan. Dengan dibantu Syahril, lalu Galih dan dilanjutkan dengan seorang perempuan warga setempat, aku berhasil masuk Puskesmas dan duduk bersandar. Nur ada di samping kiriku, entah siapa yang tiba duluan. Pikiranku  masih bergulat penuh tanya. Tangan kananku menggenggam tangan kanan Nur. Tak lama kemudian, Fajar tiba dan duduk di sebelahku.

“Vi, coba liat ada apa di badan aku? Sakit kali”, tanya Fajar sambil memperlihatkan badan belakangnya. Aku langsung panik dan tanpa sadar mulai menangis. Luka yang terbuka lebar sekian sentimeter ‘hinggap’ di tubuhnya.

Beberapa kerabat Nur datang sambil menangis, memeluk Nur lalu memelukku erat. Dibelakangnya, Nanda masuk sambil membawa telepon genggamku. Aku menanyakan keadaan Nanda dan Ais. Alhamdulillah mereka baik-baik saja, meskipun aku belum bertemu Ais. Nanda menyerahkan HP milikku. Sambil menerimanya, aku bertanya lagi pada Nanda dimana kita berada. Nanda menjawab, ia mendengar dari beberapa orang bahwa kami kecelakaan di Jurang Enang-Enang. Sepanjang Enang-Enang ini, sebelumnya juga sudah banyak yang kecelakaan masuk jurang.

Setengah percaya, aku menyalakan GPS di HPku dan membuka aplikasi Google Maps, memeriksa lokasi saat ini. Icon lokasi merah sebagai penanda menandakan sebuah titik.

Bener Meriah. Ngapain kami disini?

Kerabat Nur mengingatkanku pada keluarga. Jika sampai Ayah dan Ummi tau, bisa-bisa Ayah akan sesak napas dan Ummi akan naik tekanan darahnya. Aku searching di Google. Tidak ada berita satupun mengenai kecelakaan ini. Aku mengecek Facebook, berharap Ayah sedang tidak online saat itu jika sudah muncul berita terbaru ini. Alhamdulillah.. tidak ada juga! Aku menghela nafas panjang, lega. Mulai berpikir, bagaimana cara memberitahu kabar ini kepada mereka? Dan lagi, amnesia ini sangat mengganggu! Bagaimana cara kujelaskan kronologi kejadiannya jika bahkan aku tidak ingat apa yang terjadi?

Beberapa warga setempat menyarankan kami naik Ambulance. Lagi? Kemana? Ternyata kami dirujuk ke Bireuen, tepatnya di RS Dr. Fauziah. Aku menyarankan agar Amri dan Fajar dibawa terlebih dahulu. Namun, Amri dan Fajar mengalah, mempersilahkan aku dan Nur yang pergi. Aku masih bersikeras, hingga akhirnya Fajar ikut serta di dalam bus membantu menopang Dian yang bahu kanannya sakit, berbarengan dengan Najian di tempat tidur dan Nur di depan, sebaris supir.

Ambulance melaju dengan sangat cepat. Sirinenya membuatku pusing. Aku masih memegangi lengan kiriku yang sakitnya tak tertahankan, terutama saat kami berada di tikungan. Tiba-tiba, sekilas terbersit ingatan akan detik-detik sebelum bus jatuh ke jurang, tepatnya saat bus mulai tak terkendali. Hingga akhirnya terguling mungkin 5 kali sebelum akhirnya berhenti di dekat mata air. Aku masih mengingat suara besi-besi bus menghantam tanah, dan kaca jendela yang hancur saat terguling. Pun bus juga sempat berhenti sesaat, yang kukira saat itu bus sudah benar-benar berhenti, ternyata tidak. Bus kembali terguling. Meski Alhamdulillah, tidak sampai masuk ke mata air. Mengingat semua itu, bulu kudukku bergidik ngeri. Ingatan itu hadir di waktu yang tidak tepat, saat aku masih berada di area pegunungan yang sama. Kuintip sisi kananku, jurang! Lalu aku menunduk dengan masih memegangi lengan kiriku, berusaha mengatur nafasku, mencoba bersikap tenang,  sambil menyebut asma Allah tanpa henti. Ketika ambulance belok dengan kecepatan yang tajam, aku dan Fajar merasa ngeri, seolah kami akan jatuh ke jurang kedua kalinya. Tiba-tiba Dian meringis kesakitan. Kami menenangkan Dian, dan Fajar mulai mual.

“Muntah aja di dalam mobil Jar!” kataku pada Fajar yang mulai pucat menahan pusing dan mual, sementara tidak ada plastik atau apa pun untuk menampung. Awalnya ia enggan, tapi rasa mual memaksanya menepis rasa enggan dan melampiaskannya keluar.

Tidak pasti berapa lama perjalanan dari Bener Meriah menuju Bireuen, kami pun tiba di RS Dr. Fauziah Bireuen. Sepertinya kami di ruang UGD. Seisi ruang adalah sosok-sosok yang kukenal. Ya! Mereka adalah teman-temanku.

Syahril mempersilahkanku duduk di atas tandu oranye, karena sudah tak ada lagi tempat tidur. Aku melihat seorang temanku, Iqbal, mengigau setengah sadar karena kesakitan di atas tempat tidurnya. Temanku Ovi, yang Alhamdulillah tidak terluka parah, membantunya kembali tenang. Beberapa temanku yang lainnya tidak sadar. Kemudian, 2 orang perawat menghampiri dan menanyakan keadaanku. Mereka menyuruhku berbaring. Diduga tulang lenganku patah, mereka mulai memotong baju di sisi lengan dengan gunting,  lalu mengikatnya dengan kayu seukuran tanganku. Aku tidak berkata apapun selain mengeluh akan sakit.

Seorang dokter pria melewatiku. “Sementara nyaman kan disini?” ia bertanya khawatir karena aku berbaring di  atas tandu. Aku mengangguk pelan. Kondisi teman-temanku tidak lebih baik dariku, jadi mereka lebih berhak mendapatkan tempat tidur. Tiba-tiba, rasa sakit di bahuku kembali hadir. Bahkan sampai ke kepalaku. Kuraba kepalaku, ada luka di bagian kiri atasnya, tetapi tidak begitu dalam. Kuraba pula wajahku, kelopak mata kiriku juga luka. Meninggalkan sedikit darah yang mulai kering. Tersadar, kami terguling ke jurang langsung dari sisi kiri jalan. Pantas saja, dari kepala hingga kaki kiriku kesakitan.

Sebuah tempat tidur dengan seorang Bapak paruh baya diatasnya melewati koridor dan berhenti sesaat tepat di samping kananku. Aku mengenalnya. Beliau adalah Pak Supir. Kondisi beliau sangat parah. Ada tabung oksigen seukuran tabung gas biru dirumahku, yang dibawa bersamaan dengan tempat tidurnya. Tangan kiri beliau yang tepat berada di depan wajahku, mengeluarkan cairan darah beku, hijau kebiruan. Aku tak bisa menangis karena rasa terkejutku lebih besar dan baru beberapa saat yang lalu aku mengingat beliau di sela-sela amnesiaku. Kemudian, beliau dibawa ke ruangan lainnya. Aku berdoa semoga beliau tetap selamat (hidup) dan segera pulih.

Nanda datang menghampiri. Aku bersyukur pada Allah, Nanda sehat-sehat saja. Nanda bolak-balik membantu teman-teman lain jika membutuhkan sesuatu. Nanda pun selalu ada di dekatku, ia selalu menemani. Nanda menanyakan padaku apakah aku sudah mengabarkan kondisi kepada keluarga, aku menggelang pelan. Aku menjelaskan padanya, menandakan tidak ingin mengabari. Aku takut nantinya menangis saat mendengar suara Ayah dan Ummi, dan hal itu semakin membuat mereka susah dan panik. Nanda memaksa halus dan meminta ia  yang menelepon. Kuhela nafas panjang, mengiyakan. Kusarankan orang yang ditelepon adalah kakakku. Kukira itu lebih baik.

Ternyata tidak. Kakakku justru mengira kondisiku sangat parah hingga harus orang lain yang mencoba menghubungi. Ya Allah… Aku pun berbicara langsung dengannya dan menenangkannya bahwa aku baik-baik saja. Beberapa menit kemudian, orangtua dari abang iparku tiba. Disusul oleh beberapa kerabat lainnya. Sebagian dari mereka tidak diizinkan masuk karena ruang UGD sudah sangat penuh. 1 pasien diizinkan ditemani oleh 2-3 orang saja. Sepupuku kemudian mengambil fotoku atas permintaan Ayah. Disaat yang sama, dari kejauhan, tampak beberapa orang seperti wartawan sedang mencari informasi mengenai nama-nama korban kecelakaan. Setelah itu, seorang dokter membawaku ke ruangan lain. Tubuhku akan discan untuk melihat cedera di bahu kiriku.

Alhasil, tulang lengan dan bahuku tidak patah. Namun, tulang bahuku yang horizontal bergeser 2 cm ke atas, dan tulang lenganku yang vertikal pun ikut bergeser ke atas. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku masih harus bersyukur. Alhamdulillah. Setelah itu, aku dan kerabat diantar ke ruang rawat inap dinamai Ruang Saraf yang masih kosong. Untuk pindah dari 1 tempat tidur lainnya, aku harus dibopong oleh kerabat dan dokter. Saat itu, bahuku serasa mau copot!

Ada 8 tempat tidur di ruangan itu. Aku memilih di dekat dinding, berharap nantinya bisa bersandar. Nihil! Menggerakkan kakiku saja sulit. Apalagi tubuhku. Aku menanti teman-temanku yang lain. Dengan harapan, mereka semua masih hidup, apa dan bagaimanapun kondisinya. Mereka harus bertahan hidup! Alhamdulillah, takdir Allah sesuai dengan harapanku.

Selimut malam membuka langit kelam. Seperti kelamnya hatiku dengan setumpuk tanya dan rasa gundah, berharap masih banyak jawaban yang disuguhkan untukku. Semilir angin AC menerpa wajah. Perlahan mendinginkan luka di mata dan kepalaku.

Beberapa teman mulai memasuki ruang rawat inap yang sama denganku. Amri tampak membaik. Reza pun tampak sehat. Mereka mengolok-olok ingatanku dengan menanyakan “kuliah dimana Vi? Jurusan apa? Udah wisuda?” dengan nada mengejek sambil tertawa. Aku hanya tersenyum kecil, tidak menjawab. Bisa kulihat dari raut wajah mereka, masih ada shock akan kejadian hari ini, tentu saja. Mereka duduk menemani sambil membaca berita-berita hoax mengenai kecelakaan ini di Instagram. Amri berusaha mengklarifasikan satu persatu berita ini dengan bijak.

 

Tengah malam….

Tempat tidur di sisi kananku ditempati Fajar, sedangkan lurus didepan kakiku adalah Nur. Kami bertiga tidak bisa tidur meski malam sudah larut. Baru sadar, siang tadi kami meminum Americano. Saat menyadari efeknya, kami tertawa bersama dan menyalahkan si Americano.  Suntikan bius dan infus masih kalah dengan minuman khas Gayo ini.

Sungguh bahagia hati ini tatkala hadir sebuah kebahagiaan dengan berbagi kecerdasan, kepekaan sosial dan keceriaan, tak mengenal usia, jenis kelamin, asal, ras, asalkan hati mampu terpaut dalam sebuah makna. Suatu pertemuan bermula dari organisasi tingkat Fakultas, yang tak pernah ada sesal meski kadang harus mengorbankan jam kuliah. Dan tak ada perasaan sia-sia meski pernah dijerat dengan kesalahpahaman dan pertengkaran kecil dalam pertemuan. Namun, itu semua hanyalah masalah biasa yang harus dinonaktifkan. Sebab jalinan ini merupakan sebuah jalinan kompleks yang tidak mengenal masa aktif. Selama hayat masih dikandung badan, selama nafas masih berhembus dan selama masih ada cinta yang tak pernah pudar dalam jiwa dan lubuk hati masing-masing.

Tak peduli dengan ingatanku yang masih belum sempurna, aku memanjatkan syukur pada Allah tiada henti. Kami semua masih hidup. Aku sempat tidur beberapa waktu. Sebelum tidur, ku berdoa dan berharap esok akan ada kabar baik menghampiri, menyeimbangi kabar buruk hari ini, dan menghadirkan satu persatu hikmah dibalik kejadian ini.

Audzubillahi minasy syatihaanirrajim. Bismillahirrahmaanirrahim.

Ya Allah.. Dzat Yang Maha Agung. Berikanlah kami kekuatan dan ketabahan dalam mengarungi dunia-Mu, tunjukkanlah jalan lurus-Mu agar kami mampu bertahan hidup, curahkan kasih sayang-Mu agar kami  bisa mencurahkannya pada hamba-Mu yang lain. Berkahilah setiap langkah kami Ya Allah Yang Maha Pemberi Berkah… Hanya pada-Mu kami bersimpuh dan berserah diri…

Ya Allah… Yang Maha Mengabulkan Doa… kabulkanlah doaku… Amin..

…….

(Selesai tidak selesai, saya selesaikan ceritanya disini… 🙂 )

Terima kasih Ayah, karena saran Ayah aku pun mempersembahkan kisah yang bergelut kasih ini. Judul kisah ini pun Ayah hadiahkan.

Mohon maaf pembaca yang terhormat, ada beberapa potongan cerita yang sampai sekarang tidak bisa diingat. Selayaknya sinetron, dimana aktor/aktris yang amnesia sakit kepala bahkan pingsan ketika ingatannya kembali, aku pun begitu. Meskipun tidak sampai pingsan. Jadi, yah… ingatanku selayaknya trailer film-film Barat, yang menampilkan sedetik-dua detik cuplikan inti dan klimaks.

Aku mengalami amnesia retrograde, yaitu kondisi kehilangan memori, ingatan dan informasi jangka pendek yang terjadi tak lama setelah kejadian traumatis. Ingatanku hanya sampai Agustus 2016. Setelah itu sampai Januari 15 Januari 2017, aku tidak begitu mengingatnya.

Ini adalah bagian cerita yang tidak kuingat, bahkan sampai saat ini, sampai saat aku menulis ini, 15 Januari 2018.

Berdasarkan cerita yang kuketahui dari teman-temanku, aku, Nur, Galih dan Pak Kernet masih berada di bus hingga bus berhenti terguling. Aku berjalan keluar dari kaca jendela pintu masuk bus bagian depan, sembari mengabaikan panggilan Nur, untuk membantu menyelamatkan Galih yang terjepit lehernya dengan besi jendela bus (tentu saja, aku tidak sengaja, karena saat itu aku tidak bisa mendengar dan merasakan apa pun, pun tidak ingat). Aku duduk di luar menatap air tanpa tau beberapa temanku memanggilku dari kejauhan, karena khawatir melihat wajahku tanpa ekspresi (seperti kehilangan arwah, kata mereka). Sementara temanku yang lain, terpental keluar melalui jendela yang kacanya pecah.

Beberapa saat setelah kecelakaan, roda bus mengeluarkan asap. Teman-temanku mulai menyingkir menjauh, takut bus akan meledak nantinya, sementara Pak Kernet masih berada di dalam bus, terjepit kakinya.

Beberapa warga setempat mulai berdatangan membantu sekitar setengah jam setelah kecelakaan terjadi. Warga juga melihat asap yang keluar dari bus, sehingga mereka bergegas memindahkan kami jauh dari bus. Setelah sampai di atas (jalan), beberapa dari kami duduk di sebuah pondok kecil dan beberapa lainnya di depan toko kayu.

Hingga saat ini, Alhamdulillah, segala puja dan puji bagi Allah, kami semua masih hidup. Hatiku masih diliputi rasa sedih yang mendalam. Hingga aku menciptakan kata demi kata, aksara demi aksara dari jari dan keyboardku yang beradu demi menghasilkan sebuah karya yang tidak terlalu bernilai ini, tanpa izin terlebih dahulu dariku, setetes butiran bening melewati pipi hangatku dan musnah di ujung daguku.

Leave us a Message