Makalah-Islam pada masa Daulah Abbasiyah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

 

Seiring perkembangan zaman dan teknologi, banyak orang yang melupakan sejarah. Begitu juga dengan para Muslim yang dewasa ini merasa tidak membutuhkan wawasan tentang sejarah Islam masa lampau. Sebagian lainnya beranggapan bahwa yang patut diketahui hanyalah sejarah para Rasul. Padahal, setelah Nabi Muhammad Saw wafat, pemerintahan Islam masih ada yang diteruskan oleh sahabat-sahabat Nabi dan beberapa kedaulatan lainnya. Salah satunya adalah Islam pada masa Daulah Abbasiyah.

Abbasiyah berarti Abbas, yaitu nama paman Nabi Muhammad Saw, saudara kandung ayahanda beliau, Abdullah bin Abdul Muthallib. Islam pada masa Daulah Abbasiyah sangat berkembang dalam beberapa bidang. Ibnu Tabatiba menggambarkan tentang pemerintahan Abbasiyah sebagai sebuah pemerintahan yang penuh dengan kebaikan, ilmu pengetahuan yang telah maju, perdagangan yang ramai, kesusastraan bernilai tinggi, dakwah agama dijamin aman dan tertib, segala sudutnya terkendali dan keadaan demikian terus berjalan hingga akhir pemerintahan.

Zaman pemerintahan Abbasiyah yang pertama merupakan puncak zaman sejarah Islam. Di zaman itu kaum Muslimin mulai berhubungan dengan kebudayaan asing seperti kebudayaan Parsi dan Hindu.

Masih banyak hal-hal positif lainnya yang dilakukan Pemerintah Abbasiyah. Untuk itu, pengetahuan dan wawasan mengenai hal ini sangat penting untuk dipahami terutama sebagai Muslim.

 

 

 

BAB II

                                      PEMBAHASAN

2.1  Sejarah Berdirinya Daulah Abbasiyah

Pemerintahan Abbasiyah adalah keturunan dari Abbas (paman Nabi Muhamad Saw). Pendiri kerajaan ini adalah Abdullah as-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Pendirinya dianggap sebagai suatu kemenangan bagi ide yang dianjurkan oleh kalangan Bani Hasyim setelah wafatnya Rasulullah Saw, agar jabatan khalifah diserahkan kepada keluarga Rasul dan sanak saudaranya. Tetapi,  ide ini telah dikalahkan di zaman permulaan Islam, di mana pemikiran Islam yang sehat menetapkan bahwa jabatan khalifah itu adalah milik kepunyaan seluruh kaum Muslimin. Mereka berhak melantik siapa saja di antara kalangan mereka untuk menjadi khalifah setelah mendapat dukungan. Akan tetapi, orang-orang Parsi yang masih berpegang kepada prinsip hak ketuhanan yang suci, terus berusaha menyebarkan prinsip tersebut, sehingga mereka berhasil membawa Bani Hasyim ke tampuk pemerintahan.

Pada saat Daulah Umawiyah hampir berakhir, terjadi kekacauan dimana-mana. Kekacauan ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

-          Penindasan yang bertubi-tubi terhadap  Bani Hasyim dan Alawiyyin (keturunan Ali r.a).

-          Daulah Umawiyah yang terlalu mengagungkan keturunan Arab murni, sehingga kedudukan dan posisi di pemerintahan hanya boleh diduduki oleh orang-orang yang berasal dari bangsa Arab murni.

-          Perbuatan tercela yang merajalela dan terang-terangan.

Karena itu, masuk akal jika Bani Hasyim dan Alawiyyin melakukan strategi untuk menumbangkan Daulah Umawiyah. Hingga strategi mereka berhasil, pemerintahan berganti menjadi Daulah Abbasiyah, yang dipimpin oleh Abul Abbas as-Saffah (132 H).

 

 

2.2  Perbedaan Daulah Abbasiyah dan Daulah Umawiyah

Ada beberapa perbedaan pada Daulah Abbasiyah dan Umawiyah, diantaranya:

  • Pada masa pemerintahan Umawiyah, pemerintahan hanya boleh diambil alih oleh para masyarakat yang berasal dari keturunan Arab murni. Namun, pada masa pemerintahan Abbasiyah, sistem pemerintahan yang dijalankan bersifat terbuka dan transparan. Tidak mesti yang berasal dari bangsa Arab murni, siapa saja yang mampu danmahir dalam berstrategi politik dapat menduduki posisi seperti menteri, gubernur, panglima, dan sebagainya.
  • Pada masa Daulah Umawiyah, ibu kota kerajaannya adalah Damaskus, sedangkan Abbasiyah menetapkan ibukota kerajaannya di Baghdad.
  • Pemerintahan Umawiyah lebih menjaga kemurnian sastra seperti sya’ir. Mereka memprioritaskan dan melestarikan sya’ir agar tetap dicintai oleh masyarakatnya. Sedangkan pada Daulah Abbasiyah, pemerintahan lebih memprioritaskan pada ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya, ilmu pengetahuan pada masa itu sangat berkembang pesat.

 

2.3  Kebangkitan Kebudayaan

Zaman pemerintahan Abbasiyah pertama merupakan zaman paling sesuai untuk kebangkitan kebudayaan. Di zaman tersebut, Islam telah mantap dengan setelah selesainya gerakan perluasan dan penaklukan yang menjadi keistimewaan zaman pemerintahan Bani Umaiyah. Umat Islam menikmati keadaan ini setelah berdirinya kerajaan Abbasiyah. Setelah tercapai kemenangan di medan perang, tokoh-tokoh tentara membukakan jalan kepada anggota pemerintahan, keuangan, undang-undang dan berbagai ilmu pengetahuan untuk bergiat dilapangan-lapangan masing-masing, sehingga muncullah penyair, filosof, ahli sejarah dan ilmu hisab, tokoh-tokoh agama dan pujangga-pujangga yang memperkaya perbendaharaan bahasa Arab.

Kebangkitan ilmiah di zaman tersebut terbagi di dalam tiga lapangan:

  • Kegiatan menyusun buku-buku ilmiah.
  • Mengatur ilmu-ilmu Islam.
  • Terjemahan dari bahasa asing.

 

2.3.1.      Kegiatan Menyusun Buku-buku Ilmiah

Kegiatan menulis buku-buku berjalan menurut tiga tingkat.

Tingkat pertama ialah mencatat ide atau percakapan atau sebagainya di suatu halaman kertas yang berasingan atau dua rangkap, asli dan salinannya.

Tingkat kedua yaitu tingkat pertengahan, merupakan pembukaan ide-ide yang serupa atau hadis-hadis Rasul dalam satu buku.

Tingkat ketiga yaitu yang paling tinggi, ialah penyusunan yang merupakan lebih halus daripada keruja pembukuan, karena di tingkat ini segala yang sudah dicatat diatur dan disusun dalam bagian-bagian dan bab-bab tertentu serta berbeda satu sama lain.

Zaman pemerintahan Abbasiyah pertama merupakan zaman penyusunan buku-buku kegiatan menyusun buku-buku ini terus berjalan semakin maju dan meenuju ke arah yang lebih tepat dan baik aturannya.

 

2.3.2.      Penyusunan Ilmu-Ilmu Islam

Ilmu-ilmu Islam ialah ilmu-ilmu yang muncul di tengah-tengah suasana hidup keislaman berkaitan dengan agama dan bahasa Alquran. Sebagian menamakannya Ilmu Naqli (ilmu salinan), karena setiap penyelidik di lapangan ini bertugas menyalin dan meriwayatkan apa yang diterimanya dari satu golongan yang merimanya pula dari golongan lain dan meriwayatkan apa yang telah disalin itu.

Berikut adalah sebagian dari ilmu-ilmu Islam yang mengalami perubahan pengembangan besar di zaman pemerintahan Abbasiyah pertama.

 

  • Kelahiran Ilmu Tafsir dan Pemisahannya dari Hadis

Di zaman pemerintahan Abbasiyah pertaa, bidang tafsir telah mengalami suatu perkembangan besar dan berangkai-rangkai serta menyeluruh. Tafsir al-Farra’ merupakan tafsir yang pertama kali disusun, menurut susunan ayat-ayat Alquran, serta sebagai perintis jalan kepada pentafsir-pentafsir yang lahir sesudahnya, sehingga mncul at-Thabari yang menghimpunkan di dalam buku tafsirnya semua keistimewaan yang terdapat di dalam karya-karya tafsir yang diusahakan tokoh-tokoh sebelumnya.

Pemisahan ilmu tafsir dari ilmu hadis juga terdapat di zaman ini. Sebelumnya kaum muslimin menafsirkan Alquran melalui hadis-hadis Rasulullah saw. Atau keterangan dari goongan tabi’in. Sedangkan pada zaman Abbasiyah tafsir Alquran tegak dan tersendiri, dan banyak pentafsir menggunakan hadis Rasulullah saw., atau keterangan dari golongan tabi’in atau puisi Arab.

 

  • Ilmu Fiqh dan Mazhab-mazhabnya

Di antara kebanggaan zaman pemerintahan Abbasiyah pertama ialah terdapatnya empat Imam fiqih yang ulung ketika itu. Mereka ialah Imam Abu Hanifah (150 H), Imam Malik (179 H), Imam Syafi’i (204 H), dan Imam Ahmad bin Hanbal (241 H). Mazhab-mazhab fiqih mereka adalah yang paling masyhur dan yang paling luas penyebarannya sampai sekarang ini.

Terdapat dua cara dalam tasyri’ Islam yang patut diberikan sedikit perhatian; yaitu cara Ahlul Ra’yi dan cara Ahlul Hadis. Cara yang pertama menyimpulkan suatu hukum dari sejumlah nash-nash, apabila tidak terdapat sesuatu nash yang jelas mengenai hukum tersebut. Sedangkan Ahlul hadis berpegang teguh kepada hadis-hadis dan nash saja, karena mereka menghendaki hukum-hukum fiqh itu benar-benar aslinya dari Rasulullah saw dan menolak sikap berpegang kepada huku menurut pendapat akal pikiran.

Di antara buku-buku yang paling baik mengenai tasyri’, fiqih dan pemerintahan di zaman tersebut ialah buku al-Kharaj, yang disusun oleh Abu Yusuf sebagai jawaban seruan Khalifah Harun ar-Rasyid yang memintanya menyusun sebuah risalah berhubungan dengn sistem ekonomi negara menurut Islam. Di dalam buku ini membicarakan tentang tiga perkara yang amat penting yaitu:

-          Keterangan mengenai sumber-sumber pendapatan negara menurut Islam.

-          Cara yang paling ideal mengutip sumber-sumber tersebut.

-          Tugas-tugas yang wajib dijalankan oleh Baitul Mal.

 

  • Nahu dan Aliran-alirannya

Zaman pemerintahan Abbasiyah yang pertama adalah kaya dengan ahli-ahli nahu bahasa Arab yang terbagi kepada dua aliran besar; aliran Basrah dan aliran Kufah. Aliran Basrah berminat meletakkan kaidah-kaidah asas bagi bahasa Arab menurut yang biasanya disebutkan oleh orang-orang Arab seandainya nyata sesuatu yang yang bertentangan dengan kebiasaan ini, maka dianggapnya sebagai luar biasa atau syadz. Pelopor aliran ini ialah Isa bin Umar as-Tsaqafi.

Aliran Kufah merupaka pecahan dari aliran Basrah. Pendirinya ialah Abu Ja’far ar-Ru’asi. Golongan Kufah menyebut segala-gala yang dituturkan oleh orang Arab dan menjadikannya sebagai asas yang harus ditiru serta menyusun beberapa kaedah untuknya.

 

  • Sejarah dan Kelahirannya

Hadis juga merupakan induk dari ilmu Sirah. Para sahabat dan tabi’in telah meriwayatkan hadis-hadis tentang hari dan tempat lahir Rasulullah saw. tentang penyusunannya dan tentang baginda dibesarkan, tentang zaman mudanya, tentang pelantikannya sebagai Rasul, tentang bagaimana baginda disambut dengan baik di Madinah. Begitu juga peperangan-peperangan yang disertai oleh baginda, dan persediaannya untuk menyebarkan agama Islam diluar Semenanjung Tanah Arab. Apabila hadis disusun, maka hadis-hadis berhubung dengan sejarah hidup Rasulullah saw dan peperangan-peperangan yang disertainya telah dihimpunkan di bawah satu tajuk yang khas, yaitu Babul Maghazi Was-Siyar. Bab ini juga terdapat dalam buku-buku hadis termasyhur seperti shahih Bukhari dan shahih Muslim. Dari sini timbullah ide untuk memisahkan ilmu Sirah dan Hadis. Pada zaman Abbasiyah, ide ini semakin kuat dan terdapat pula tokoh yang melaksanakannya secara ilmiah dan halus, yaitu Muhammad bin Ishak dan bukunya mengenai sejarah hidup Nabi saw.

 

2.3.3.      Terjemahan dari Bahasa Asing

Sesungguhnya kebangkitan pemikiran di kalangan kaum Muslimin di zaman peerintahan Abbasiyah pertama secara terang bergantung kepada kegiatan yang luas bidang terjemahan dari bahasa Sanskekerta, Suriani dan Yunani. Tahun 762 M, al-Manshur telah menghimpun cerdik pandai di berbagai lapangan serta menggalakkan penerjemahan buku-buku ilu pengetahuan dan sastra dri bahasa-bahasa lain ke bahasa Arab.

Diantara penerjemah yang terkenal ialah Abdullah bin Muqaffa’ yang menerjemahkan Kalilah wa Dummah. Selain itu ialah ahli kedokteran yang bernama Masehi yang berkerja pada dengan pemerintahan Abbasiyah yang bernama Jurjis Bakhtisyu’.

Di penghujung zaman pemerintahan Khalifah al-Makmun, muncul pembendaharaan ilmu pengetahuan yang amat besar melalui peninggalan Yunani. Ibnu Abi Usaibi’ah menyebutka bahwa Khalifah Harun ar-Rasyid melantik Yuannad bin Masuwaih sebagai penerjemah buku-buku lama yang terdapt di Ankara, Auriyah dan seluruh negeri Romawi.

Namun demikian, ada hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai kegiatan penerjemahan ini, yaitu:

Pertama:  kaum muslimin bukan hanya sebagai penerjemah, tetapi juga mencipta dan membuat pembaharuan di dalam topik-topiknya yang dipindahkan kedalam bahasa Arab dan telah membuat ulasan yang sangat bernilai dan besar artinya.

 

Kedua: kaum Muslimin telah memainkan peranan yang besar di dalam menyumbangkan bakti kepada kebudayaan dunia. Mereka telah menyelamatkan ilmu-ilmu itu dari kebinasaan yang pasti, karena mereka menerima buku itu tersebut pada zaman-zaman gelap dan memberikan nafas yang baru. Melalui maktab-maktab, universitas-universitas dan penyelidikan-penyelidikan mereka, kajian-kajian itu tiba di Eropa.

 

Sebab-Sebab Kehancuran Daulah Abbasiyah

           Kita bisa melihat banyaknya peristiwa yang terjadi di dunia Islam saat pemerintahan Bani Abbasiyah. Juga melihat banyaknya wilayah yang memisahkan diri dan memiliki kekuasaan yang besar lalu hilang eksistensinya.

Selain itu, kita melihat bahwa pemerintahan Abbasiyah mengalami masa jaya di mana kekuasaan sepenuhnya berada di bawah control para khalifah. Setelah itu, grafik kekuatannya semakin turun  hingga akhirnya berhasil dihancurkan oleh orang-orang Mongolia.

Beberapa sebab kehancuran Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut.

  1. Munculnya pemberontakan keagamaan seperti pemberontakan Zijn, gerakan Qaramithah, Hasyasyiyun serta munculnya serta munculnya pemerintahan Ubaidiyah dan gerakan kebatinan.
  2. Adanya dominasi militer atas khalifah dan kekuasaan mereka sehingga banyak yang menghinakan dan merendahkan para khalifah dan rakyat.
  3. Munculnya kesenangan terhadap materi karena kemudahan hidup yang tersedia saat itu.
  4. Factor yang paling berbahaya yang menghancurkan Abbasiyah adalah karena mereka telah melupakan salah satu pilar terpenting dari rukun Islam, yakni jihad. Andaikata mereka mengarahkan potensi dan energy umat untuk melawan orang-orang Salib, tidak akan mungkin muncul pemberontakan-pemberontakan yang mucul di dalam negeri yang ujungnya hanya menghancurkan pemerintahan Abbasiyah.
  5. Akhirnya, muncul serangan orang-orang Mongolia yang mengakhiri semua perjalanan pemerintahan Abbasiyah.

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1.       Kesimpulan

Pemerintahan Bani Abbasiyah dinisbatkan kepada al-Abbas, paman Rasulullah saw. dengan khalifah pertama adalah Abdullah (as-Saffah) bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Mutthalib.

Zaman pemerintahan Abbasiyah pertama merupakan zaman kebangkitan kebudayaan Islam. Pada zaman ini telah disusun buku-buku ilmiah dan buku-buku ilmu Islam serta telah dilakukan penerjemahan dari berbagai bahasa asing.

Diantara ilmu-ilmu Islam yang berkembang pada zaman itu adalah awal pemisahan ilmu tafsir dari ilmu hadis, munculnya mazhab-mazhab ilmu fiqh, Ilmu nau dan juga Ilmu sirah telah mulai berkembang.

Kaum muslimin pada zaman tersebut tidak hanya menerjemahkan karya asing kedalam bahasa Arab, namun mereka juga merupakan pencipta dan pembaharu di dalam topik-topiknya yang dipindahkan kedalam bahasa Arab serta merekalah yang memiliki peran penting dalam kebudayaan dunia. Mereka menyelamatkan ilmu-ilmu tersebut dari masa kegelapan Eropa.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Usairy, Ahmad. 2003. Sejarah Islam. Jakarta: Media Grafika

Syalabi, A. 2003. Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 3. Jakarta: Pustaka Al Husna Baru

 

Both comments and pings are currently closed.

One Response to “Makalah-Islam pada masa Daulah Abbasiyah”

  1. I like this post, enjoyed this one appreciate it for posting. “The basis of optimism is sheer terror.” by Oscar Wilde.